<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Bani Hamzah</title>
	<atom:link href="http://banihamzah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://banihamzah.wordpress.com</link>
	<description>Dan 'hari-hari itu' kami pergilirkan di antara manusia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Jan 2012 13:20:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='banihamzah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Bani Hamzah</title>
		<link>http://banihamzah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://banihamzah.wordpress.com/osd.xml" title="Bani Hamzah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://banihamzah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Laskar Pelangi: Langit Ketujuh</title>
		<link>http://banihamzah.wordpress.com/2007/12/07/laskar-pelangi-langit-ketujuh-2/</link>
		<comments>http://banihamzah.wordpress.com/2007/12/07/laskar-pelangi-langit-ketujuh-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Dec 2007 14:29:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>banihamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banihamzah.wordpress.com/2007/12/07/laskar-pelangi-langit-ketujuh-2/</guid>
		<description><![CDATA[KEBODOHAN berbentuk seperti asap, uap air, kabut. Dan ia beracun. Ia berasal dari sebuah tempat yang namanya tak pernah dikenal manusia. Jika ingin menemui kebodohan maka berangkatlah dari temp at di mana saja di planet biru ini dengan menggup.akan tabung roket atau semacamnya, meluncur ke atas secara vertikal, jangan pernah sekali pun berhenti. Gapailah gumpalan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banihamzah.wordpress.com&amp;blog=1024677&amp;post=40&amp;subd=banihamzah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><img src="http://banihamzah.files.wordpress.com/2007/12/lp.jpg?w=118&#038;h=79" align="left" height="79" width="118" /><strong>KEBODOHAN</strong> berbentuk seperti asap, uap air, kabut. Dan ia beracun. Ia berasal dari sebuah tempat yang namanya tak pernah dikenal manusia. Jika ingin menemui kebodohan maka berangkatlah dari temp at di mana saja di planet biru ini dengan menggup.akan tabung roket atau semacamnya, meluncur ke atas secara vertikal, jangan pernah sekali pun berhenti.</p>
<p class="MsoNormal">Gapailah gumpalan awan dalam lapisan troposfer, lalu naiklah terus menuju stratosfer, menembus lapisan ozon, ionosfer, dan bulan -bulan di planet yang asing. Meluncurlah terus sampai ketinggian di mana gravitasi bumi sudah tak peduli. Arungi sarnudra bintang gemintang dalam suhu dingin yang mampu meledakkan benda padat. Lintasi hujan <span style="line-height:115%;">meteor sampai tiba di eksosfer &#8212; lapisan paling  uar atmosfer dengan bentangan selebar </span><span style="line-height:115%;">1.200 </span><span style="line-height:115%;">kilometer, dan teruslah melaju menaklukkan langit ketujuh. </span><span id="more-40"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="line-height:115%;">Kita hanya dapat menyebutnya langit ketujuh sebagai <span> </span>gambaran imajiner tempat tertinggi dari yang paling tinggi. Di tempat asing itu, tempat yang tak &#8216;kan pernah memiliki nama, di atas langit ke tujuh, di situlah kebodohan ber­semanyam, Rupanya seperti kabut tipis, seperti asap cang­klang, melayang-layang pelan, memabukkan. Maka apabila kita tanyakan sesuatu kepada orang-orang bodoh, mereka akan menjawab dengan meracau, menyembunyikan ketidaktahuannya dalam omongan cepat, mencari beragarn alasan, atau membelokkan arah pertanyaan. Sebagian yang lain diam terpaku, mulutnya ternganga, ia diselubungi kabut dengan tatapa n mata yang kosong dan jauh. Kedua jenis reaksi ini adalah akibat keracunan asap tebal kebodohan yang mengepul di kepala mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="line-height:115%;">Kita tak perlu menempuh ekspedisi gila-gilaan itu. Karena seluruh lapisan langit dan gugusan planet itu se­sungguhnya terkonstelasi di dalam kepala kita sendiri. Apa yang ada pada pikiran kita, dalam gumpalan otak seukuran <span> </span>genggam, dapat menjangkau ruang seluas jagat raya. Para pemimpi seperti Nicolaus Copernicus, Battista Della Porta, dan Lippershey malah menciptakan jagat rayanya sendiri, di dalam imajinasinya, dengan sistem tata suryanya sendiri, dan Lucretius, juga seorang-pernimpi, menuliskan ilmu dalam puisi-puisi. </span></p>
<p class="MsoNormal">Tempat di atas langit ketujuh, tempat kebodohan bersemayam, adalah metafor dari suatu ternpat di mana manusia tak bisa mempertanyakan zat-zat Allah, Setiap usaha mempertanyakannya hanya akan berujung dengan­kesimpulan yang rnempertontonkan kemahatololan sang penanya sendiri. Maka semua jangkauan akal telah ber­akhir di langit ketujuh tadi. Di tempat asing tersebut, ba­rangkali Arasy, di sana kembali metafor keagungan Tuhan bertakhta. Di bawah takhta-Nya tergelar Lauhul Mahfuzh, muara dari segala cabang anak-anak sungai ilmu dan ke­bijakan, kitab yang telah mencatat setiap lembar daun yang akan jatuh. Ia juga menyimpan rahasia ke mana nasib akan membawa sepuluh siswa baru perguruan Muhammadiyah tahun ini, Karena takdir dan nasib termasuk dalam zat­Nya.</p>
<p class="MsoNormal">Tuhan menakdirkan orang-orang tertentu urituk memiliki hati yang terang agar dapat memberi pencerahan pada sekelilingnya. Dan di malam yang tua dulu ketika Copernicus dan Lucretius duduk di samping Lintang, ketika angka-angka dan huruf menjelma menjadi kunang-kunang yang berkelap-kelip, saat itu Tuhan menyemaikan biji zarah kecerdasan, zarah yang jatuh dari Iangit dan menghantam kening Lintang.</p>
<p class="MsoNormal">Sejak hari perkenalan dulu aku sudah terkagum-ka­gum pada Lintang. Anak pengumpul kerang ini pintar sekali. Matanya menyala-nyala memancarkan inteligensi, ke­ingintahuan menguasai dirinya <span> </span>seperti orang kesurupan. Jarinya tak pernah berhenti mengacung tanda ia bisa menjawab. Kalau melipat dia paling cepat, kalau membaca dia paling hebat. Ketika kami masih gagap menjumlahkan ang­ka-angka genap ia sudah terampil mengalikan angka-angka ganjil. Kami baru saja bisa mencongak, dia sudah pintar membagi angka desimal, menghitung akar dan rnenemukan pangkat, lalu, tidak hanya menggunakan, tapi juga mampu mejelaskan hubungan keduanya dalam tabel logaritma. Ke­lemahannya, aku tak yakin apakah hal ini bisa disebut kelemahan, adalah tulisannya yang cakar ayam tak keruan, ten­tu karena mekanisme motorik jemarinya tak ,mampu me­ngejar pikirannya yang berlari sederas kijang.</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;13 kali 6 kali 7 tambah 83 kurang 39!&#8221; tantang Bu Mus di depan kelas.</p>
<p class="MsoNormal">Lalu kami tergopoh-gopoh membuka karet yang mengikat segenggam lidi, untuk mengambil tiga belas lidi, mengelompokkannya menjadi enam tumpukan, susah pa­yah menjumlahkan semua tumpukan itu, hasilnya kembali disusun menjadi tujuh kelompok, dihitung satu per satu sebagai total dua tahap perkalian, ditambah lagi 83 lidi lalu diambil 39. Otak terlalu penuh untuk mengorganisasi sinyal-sinyal agar mengambil tindakan praktis mengu­rangkan dulu 39 dari 83. Menyimpang sedikit dari urutan cara berpikir orang kebanyakan adalah kesalahan fatal yang akan mengacaukan ilmu hitung aljabar. Rata-rata dari kami menghabiskan waktu hampir selama 7 menit. Efektif me­mang, tapi tidak efisien, repot sekali.</p>
<p class="MsoNoSpacing">Sementara Lintang, tidak mernegang sebatang lidi pun, tidak berpikir dengan cara orang kebanyakan, hanya memejamkan matanya sebentar, tak lebih dari 5 detik ia bersorak.</p>
<p class="MsoNoSpacing">&#8220;590!&#8221;</p>
<p class="MsoNoSpacing">Tak sebiji pun meleset, meruntuhkan semangat kami yang sedang belepotan memegangi potongan lidi, bahkan belum selesai dengan operasi perkalian tahap pertama, Aku jengkel tapi kagum. Waktu itu kami baru masuk hari pertama di kelas dua SD!</p>
<p class="MsoNoSpacing">&#8220;<em>Superb</em>! Anak pesisir, <em>superb</em>!&#8221; pujiBu Mus. Beliau pun tergoda untuk menjangkau batas daya pikir Lintang. &#8220;18 kali 14 kali 23 tambah 11 tambah 14 kali 16 kali 7!&#8221;</p>
<p class="MsoNoSpacing">Kami berkecil hati, termangu-mangu menggenggami lidi, lalu kurang dari tujuh detik, tanpa membuat catatan apa pun, tanpa keraguan, tanpa ketergesa-gesaan, bahkan tanpa berkedip, Lintang berkumandang.</p>
<p class="MsoNoSpacing">&#8220;651.952!&#8221;</p>
<p class="MsoNoSpacing">&#8220;Purnama! Lintang, bulan purnama di atas Dermaga Olivir, indah sekali! Itulah jawabanmu, ke mana kau bersembunyi selama ini &#8230; ?&#8221;</p>
<p class="MsoNoSpacing">Ibu Mus bersusah payah menahan tawanya. Ia me­natap Lintang seolah telah seumur hidup mencari murid seperti ini. Ia tak mungkin tertawa lepas, agama melarang itu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Kami terpesona dan bertanya-tanya bagaimana cara Lintang melakukan semua itu.Dan inilah resepnya &#8230;.</p>
<p class="MsoNoSpacing">&#8220;Hafalkan luar kepalasemua perkalian sesama angka ganjil, itulah yang sering menyusahkan. Hilangkan angka satuan dari perkalian dua angka puluhan karena lebih mudah mengalikan dengan angka berujung nol, kerjakan sisanya kemudian, dan jangan kekenyangan kalau makan malam, itu akan membuat telingamu tuli dan otakmu tumpul!&#8221;</p>
<p class="MsoNoSpacing">Polos, tapi ia telah menunjukkan kualifikasi <em>highly cognitive complex</em> dengan mengembangkan sendiri teknik-­teknik melokalisasi kesulitan, menganalisis, dan memecah­kannya. Ingat dia baru kelas dua SD dan ini adalah hari pertamanya. Selain itu ia juga telah mendemonstrasikan . kualitas nalar kuantitatif level tinggi. Sekarang aku me­ngerti, aku sering melihatnya berkonsentrasi memandangi angka-angka. Saat itu dari keningnya seolah terpancar se­berkas sinar, mungkin itulah cahaya ilmu. Anak semuda itu telah mampumengontemplasikan bagaimana angka-­angka saling bereaksi dalam suatu operasi matematika. Kontemplasi-kontemplasi ini rupanya melahirkan resep ajaib tadi.</p>
<p class="MsoNoSpacing">Lintang adalah pribadi yang unik. Banyak orang merasa dirinya pintar lalu bersikap seenaknya, congkak, tidak disiplin, dan tak punya integtitas. Tapi Lintang sebalik­nya. Ia tak pernah tinggi hati, karena ia merasa ilmu demikian luas untuk disombongkan dan menggali ilmu tak akan ada habis-habisnya.</p>
<p class="MsoNoSpacing">Meskipun rumahnya paling jauh tapi kalau datang ia paling pagi. Wajah manisnya senantiasa bersinar walaupun baju, celana, dan sandal <em>cunghai</em>-nya buruknya minta am­pun. Namun sungguh kuasa Allah, di dalam tempurung kepalanya yang ditumbuhi rambut gimbal awut-awutan itu tersimpan cairan otak yang encer sekali. Pada setiap rang­kaian kata yang ditulisnya secara acak-acakan tersirat kece­merlangan pemikiran yang gilang gemilang. Di balik tubuh­nya yang tak terawat, kotor, miskin, serta berbau hangus, dia memiliki <em>an</em> <em>absolutely beautiful mind</em>. Ia adalah buah akal yang jernih, bibit genius asli, yang lahir di sebuah tempat nun jauh di pinggir laut, dari sebuah keluarga yang tak satu pun bisa membaca.</p>
<p class="MsoNoSpacing">Lebih dari itu, seperti dulu kesan pertama yang ku­tangkap darinya, ia laksana bunga meriam yang melontar­kan tepung sari. Ia lucu, semarak, dan penuh vitalitas. Ia memperlihatkan bagaimana ilmu bisa menjadi begitu menarik dan ia menebarkan hawa positif sehingga kami ingin belajar keras dan berusaha menunjukkan yang terbaik.</p>
<p class="MsoNoSpacing">Jika kami kesulitan, ia mengajari kami dengan sabar dan selalu membesarkan hati kami. Keunggulannya tidak menimbulkan perasaan terancam bagi sekitarnya, ke­cemerlangannya tidak menerbitkan iri dengki, dan kehe­batannya tidak sedikit pun mengisyaratkan sifat-sifat angkuh. Kami bangga dan jatuh hati padanya sebagai se­orang sahabat dan sebagai seorang murid yang cerdas luar biasa. Lintang yang miskin duafa adalah mutiara, galena, kuarsa, dan topas yang paling berharga bagi kelas kami.</p>
<p class="MsoNoSpacing">Lintang selalu terobsesi dengan hal-hal baru, setiap informasi adalah sumbu ilmu yang dapat meledakkan rasa ingin tahunya kapan saja. Kejadian ini terjadi ketika kami kelas lima, pada hari ketika ia diselarnatkan oleh Bodenga.</p>
<p class="MsoNormal">&#8216;Al-Qur&#8217;an kadangkala menyebut nama tempat yang harus diterjemahkan dengan teliti &#8230;. &#8221; Demikian penjelasan Bu Mus dalam tarikh Islam, pelajaran wajib perguruan Mu­hammadiyah. Jangan harap naik kelas kalau mendapat ang­ka merah untuk ajaran ini.</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Misalnya <em>negeri yang terdekat</em> yang ditaklukkan tentara Persia pada tahun &#8230;. &#8220;</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;620 Masehi! Persia merebut kekaisaran Heraklius yang juga berada dalam ancaman pemberontakan Meso­potamia, Sisilia, dan Palestina. Ia juga diserbu bangsa Avar, Slavia, dan Armenia &#8230;. &#8220;</p>
<p class="MsoNormal">Lintang memotong penuh minat, kami ternganga-­nganga, Bu Mus tersenyum senang. Beliau menyampingkan ego. Tak keberatan kuliahnya dipotong. Beliau memang menciptakan atmosfer kelas seperti ini sejak awal. Mem­fasilitasi kecerdasan muridnya adalah yang paling penting bagi beliau. Tidak semua guru memiliki kualitas seperti ini. Bu Mus menyambung, &#8220;Negeri yang terdekat itu &#8230;. &#8220;</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Byzantium! Nama kuno untuk Konstantinopel, men­dapat nama belakangan itu dari The Great Constantine. Tujuh tahun kemudian negeri itu merebut lagi kemerde­kaannya,kemerdekaan yang diingatkan dalam kitab suci dan diingkari kaum musyrik Arab, mengapa ia disebut negeri yang terdekat Ibunda Guru? Dan mengapa kitab suci di­tentang?&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Sabarlah anakku, pertanyaanmu menyangkut pen­jelasan tafsir surah Ar-Ruum dan itu adalah ilmu yang Allah berusia paling tidak seribu empat ratus tahun. Tafsir baru akan kita diskusikan nanti kalau kelas dua SMP. &#8230; &#8220;</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Tak mau Ibunda, pagi ini ketika berangkat sekolah aku hampir diterkam buaya, maka aku tak punya waktu menunggu, jelaskan di sini, sekarang juga!&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">Kami bersorak dan untuk pertama kalinya kami me­ngerti makna <em>adnal ardli</em>, yaitu tempat yang dekat atau negeri yang terdekat dalam arti harfiah dan tempat paling rendah di bumi dalam konteks tafsir, tak lain dari Byzantium di kekaisaran Roma sebelah timur. Kami bersorak tentu bukan karena <em>adnal ardli,</em> apalagi Byzantium yang mer­deka, tapi karena kagum dengan sikap Lintang menantang intelektualitasnya sendiri. Kami merasa beruntung menjadi saksi bagaimana seseorang tumbuh dalam evolusi inte­ligensi. Dan ternyata jika hati kita tulus berada di dekat orang berilmu, kita akan disinari pancaran pencerahan, karena seperti halnya kebodohan, kepintaran pun sesung­guhnya demikian mudah menjalar,</p>
<p class="MsoNormal" align="center">***</p>
<p class="MsoNormal">ORANG cerdas memahami konsekuensi setiap jawab­an dan menemukan bahwa di balik sebuah jawaban ter­sembunyi beberapa pertanyaan baru. Pertanyaan baru tersebut memiliki pasangan sejumlah jawaban yang kembali akan membawa pertanyaan baru dalam deretan eksponen­sial. Sehingga mereka yang benar-benar cerdas kebanyakan rendah hati, sebab mereka gamang pada akibat dari sebuah jawaban. Konsekuensi-konsekuensi itu mereka temui dalam jalur-jalur seperti labirin, jalur yang jauh menjalar-jalar, jalur yang tak dikenal di lokus-lokus antah herantah, tiada berujung. Mereka mengarungi jalur pemikiran ini, tersesat di jauh di dalamnya, sendirian.</p>
<p class="MsoNormal">Codaan-godaan besar bersemayam di dalam kepala orang-orang cerdas. Di dalamnya gaduh karena penuh de­ngan skeptisisme. Selesai menyerahkan tugas kepada do­sen, mereka selalu merasa tidak puas, selalu merasa bisa berbuat lebih baik dari apa yang telah mereka presentasikan. Bahkan ketika mendapat nilai A plus tertinggi, mereka masih saja mengutuki dirinya sepanjang malam.</p>
<p class="MsoNormal">Orang cerdas berdiri di dalam gelap, sehingga mereka bisa melihat sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain. Mereka yang tak dipahami oleh lingkungannya, terperangkap da­lam kegelapan itu. Semakin cerdas, semakin terkucil, se­makin aneh mereka. Kita menyebut mereka: orang-orang yang sulit. Orang-orang sulit ini tak berteman, dan mereka berteriak putus asa memohon pangertian.Ditambah sedikit saja dengan sikap introver, maka orang-orang cerdas se­macam ini tak jarang berakhir di sebuah kamardengan pe­rabat berwarna teduh dan musik klasik yang terdengarla­mat-lamat, itulah ruang terapi kejiwaan. Sebagian dari me­reka amat menderita.</p>
<p class="MsoNormal">Sebaliknya, orang-orang yang tidak cerdas hidupnya lebih bahagia. Jiwanya sehat walafiat. lsi kepalanya damai, tenteram, sekaligus sepi, karena tak ada apa-apa di situ, kosong. Jika ada suara memasuki telinga niereka, maka suara itu akan terpantul-pantul sendirian di dalam sebuah ruangan yang sempit, berdengung-dengung sebentar, lalu segera keluar kembalimelalui mulut mereka.</p>
<p class="MsoNormal">Jika menyerahkan tugas, mereka puas sekali karena telah berhasil memenuhi batas akhir, dan ketika mendapat nilai C, mereka tak henti-hentinya bersyukur karena telah lulus .</p>
<p class="MsoNormal">Mereka hidup di dalam terang. Sebuah senter menyi­ramkan sinar tepat di atas kepala mereka dan pemikiran mereka hanya sampai pada batas lingkaran cahaya senter itu. Di luar itu adalah gelap. Mereka selalu berbicara keras­keras karena takut akan kegelapan yang mengepung mereka. Bagi sebagian orang, ketidaktahuan adalah berkah yang tak terkira.</p>
<p class="MsoNormal">Aku pernah mengenal berbagai jenis orang cerdas. Ada orang genius yang jika menerangkan sesuatu lebih bo­doh dari orang yang paling bodoh. Semakin keras ia ber­usaha rnenjelaskan, semakin bingung kita dibuatnya. Hal ini biasanya dilakukan oleh mereka yang sangat cerdas. Ada pula yang kurang cerdas, bahkan bodoh sebenarnya, tapi kalau bicara ia terlihat paling pintar. Ada orang yang memiliki kecerdasaan sesaat, kekuatan menghafal yang fotografis, namun tanpa kemampuan analisis. Ada juga yang cerdas tapi berpura-pura bodoh, dan lebih banyak lagi yang bodoh tapi berpura-pura cerdas.</p>
<p class="MsoNormal">Narnun, sahabatku Lintang memiliki hampir semua dimensi kecerdasan. Dia seperti toko serba ada kepandaian. Yang paling menonjol adalah kecerdasan spasialnya, sehingga ia sangat unggul dalam geometri multidimensional. Ia dengan cepat dapat membayangkan wajah sebuah kons­truksi suatu fungsi jika digerak-gerakkan dalam variabel derajat. Ia mampu memecahkan kasus-kasus dekomposisi modern yang runyam dan mengajari kami teknik meng­hitung luas poligon dengan cara membongkar sisi-sisinya sesuai Dalil Geometri Euclidian. Ingin kukatakan bahwa ini sarna sekali bukan perkara mudah.</p>
<p class="MsoNormal">Ia sering membuat permainan dan mendesain visual­isasi guna menerjemahkan rumusan geometris pada tingkat kesulitan yang sangat tinggi. Tujuannya agar garnpang disi­mulasikan sehingga kami sekelas dapat dengan mudah me­mahami kerumitan Teorema Kupu-Kupu atau Teorema Mor­ley yang menyatakan bahwa pertemuan segitiga yang ditarik dari trisektor segitiga bentuk apapun akan mem­bentuk segitiga inti yang sarna sisi. Semua itu dilengkapinya dengan bukti-bukti matematis dalam jangkauan analisis yang melibatkan kemampuan logika yang sangat tinggi. Ini juga sarna sekali bukan urusan mudah, terutama untuk tingkat pendidikan serendah kami serta. Dan mengingat hal itu terjadi di sebuah sekolah kampung seperti gudang kopra maka kuanggap apa yang dilakukan Lintang sangat luar biasa.</p>
<p class="MsoNormal">Lintang juga cerdas secara <em>experiential </em>yang mem­buatnya piawai menghubungkan setiap informasi dengan konteks yang lebih luas. Dalam kaitan ini,ia merniliki kapasitas <em>metadiscourse</em> selayaknya orang-orang yang memang dilahirkan sebagai seorang genius. Artinya adalah jika dalam pelajaran biologi kami baru mempelajari fungsi-fungsi otot sebagai subkomponen yang membentuk sistem mekanik parsial sepotong kaki maka Lintang telah me­mahami sistem mekanika seluruh tubuh dan ia mampu men­jelaskan peran sepotong kaki itu dalam keseluruhan me­kanika persendian dan otot-otot yang terintegrasi.</p>
<p class="MsoNormal">Kecerdasannya yang lain adalah kecerdasan linguistik. Ia mudah memahami bahasa, efektif dalam berkomunikasi, memiliki nalar verbal dan logika kualitatif. Ia jugamem­punyai <em>descriptive power</em>, yakni suatu kemampuan meng­gambarkan sesuatu dan mengambil contoh yang tepat. Pengalamanku dengan pelajaran bahasa Inggris di hari-hari pertama kelas 2 SMP nanti membuktikan hal itu.</p>
<p class="MsoNormal">Saat itu aku mendapat kritikan tajam dari ayahku ka­rena nilai bahasa Inggris yang tak kunjung membaik. Aku pun akhirnya menghadap pemegang kunci pintu ilmu filsafat untuk mendapat satu dua resep ajaib. Aku keluhkan kosulitanku memahami tense.</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Kalau tak salah jumlahnya sampai enam belas, dan jika ia sudah berada dalam sebuah narasi aku kehilangan jejak dalam konteks tense apa aku berada? Pun ketika ingin membentuk sebuah kalimat, bingung aku menentukan tense-nya. Bahasa Inggrisku tak maju-maju.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Begini,&#8221; kata Lintang sabar menghadapi ketololanku. <span> </span>Ketika itu ia sedang memaku sandal cunghai-nya yang me­nganga seperti buaya lapar. Kupikir ia pasti mengira bahwa aku mengalami disorientasi waktu dan akan menjelaskan makna tense secara membosankan. Tapi petuahnya sung­guh tak kuduga. <span> </span></p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Memikirkan struktur dan dimensi waktu dalam sebuah bahasa asing yang baru saja kita kenal tidak lebih dari hanya akan merepotkan diri sendiri. Sadarkah kau ba­hasa apa pun di dunia ini, di mana pun, mulai dari bahasa Navajo yang dipakai sebagai sandi tak terpecahkan di perang dunia kedua, bahasa Gaelic yang amat langka, ba­hasa Melayu pesisir yang berayun-ayun, sampai bahasa Mohican yang telah punah, semuanya adalah kumpulan kalimat, dan kalimat tak lain adalah kumpulankata-kata, paham kau sampai di sini?&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">Aku mengangguk, semua orang tahu itu.</p>
<p class="MsoNormal">Lalu ia melanjutkan, &#8220;Nah, kata apa pun, pada dasar­nya adalah kata benda, kata kerja, kata sifat, dan kata kete­rangan, paham? lni bukan masalah bahasa yang sulit tapi masalah cara berpikir.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">Sekarang mulai menarik,</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Berangkatlah dari sana, pelajari bagaimana menggunakan kata benda, kata kerja, kata sifat, dan kata keterangan dalam sebuah kalimat lnggris, itu saja, Kal. Tak lebih dari itu!&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">Belajar kata terlebih dulu, bukan belajar bahasa, itu­lah inti paradigma belajar bahasa lnggris versi Lintang. Sebuah ide cemerlang yang hanya terpikirkan oleh orang-­orang yang memahami prinsip-prinsip belajar bahasa. Dengan paradigma ini aku mengalami kemajuan pesat,bu­kan hanya karena aku dapat mempelaiari bahasa lnggris dengan bantuan analogi bahasa Indonesia, tapi petuahnya mampu melenyapkan sugesti kesulitan belajar bahasa asing yang umum melanda siswa-siswa daerah. Bahwa bahasa, baik lokal maupun asing, adalah permainan kata-kata, tak lebih dari itu!</p>
<p class="MsoNormal">Setelah aku mampu membangun konstruksiku sendiri dalam memahami kalimat-kalimat Inggris, kemudian Lin­tang menunjukkancara meningkatkan kualitas tata bahasa­ku dengan mengenalkan teori stuktur dan aturan-aturan tense. Pendekatan ini diam-diam kami sebarkan pada se­luruh teman sekelas.Dan ternyata hal ini sukses besar, se­hingga dapat dikatakan Lintanglah yang telah mengakhiri masa kejahiliahan bahasa Inggris di kelas kami.</p>
<p class="MsoNormal">Mungkin kami telah belajar bahasa Inggris dengan pendekatan yang keliru, tapi cara ini efektif. Dan cara ini diajarkan oleh seseorang yang percaya bahwa setiap orang memiliki jalan yang berbeda untuk memahami bahasa. Aku kagum dengan daya pikir Lintang, dalam usia semuda itu ia mampu melihat elemen-elemen filosofissebuah ilmu lalu menerjemahkannya menjadi taktik-taktik praktis untuk menguasainya. Yang lebih istimewa, orang yang meng­ajariku ini bahkan tak mampu membeli buku teks wajib bahasa Inggris.</p>
<p class="MsoNormal">Lintang memasuki suatu tahap kreatif yang melibatkan intuisi dan pengembangan pemikiran divergen yang ­orisinal. Ia menggali rasa ingin tahunya dan tak henti men­coba-coba. Indikasi kegeniusannya dapat dilihat dari ke­fasihannya dalam berbahasa numerik, yaitu ia terampil memproses sebuah pernyataan matematis mulai dari hipo­tesis sampai pada kesimpulan. Ia membuat penyangkalan berdasarkan teorema, bukan hanya berdasarkan pembukti­an kesalahan, apalagi simulasi, Dalam usia muda dia telah memasuki area yang amat teoretis, cara berpikirnya men­dobrak, mengambil risiko, tak biasa, dan menerobos. Se­tiaphari kami merubungnya untukmenemukan kejutan­kejutan pemikirannya.</p>
<p class="MsoNormal">Baru naik ke kelas satu SMP ketika kami masih pusing tujuh keliling memetakan absis dan ordinat pada produk cartesius dalam topik relasi himpunan sebagai dasar fungsi linear, Lintang telah mengutak-atik materi-materi untuk ke­las yang jauh lebih tinggi di tingkat lanjutan atas bahkan di tingkat awal perguruan tinggi seperti implikasi, biim­plikasi, filosofi Pascal, binomial Newton, limit, diferensial, integral, teori-teori peluang, dan vektor. Ketika kami baru saja mengenal dasar-dasar binomial ia telah beranjak ke pengetahuan tentang aturan multinomial dan teknik eks­ploitasi polinomial, ia mengobrak-abrik pertidaksamaan eksponensial, mengilustrasikan grafik-grafik sinus, dan membuat pembuktian sifat matematis menggunakan fung­si-fungsi trigonometri dan aturan ruang tiga dimensi.</p>
<p class="MsoNormal">Suatu waktu kami belajar sistem persamaan linier dan tertatih-tatih mengurai-uraikan kasusnya dengan substitusi agar dapat menemukan nilai sebuah variabel, ia bosan dan monghambur ke depan kelas, memenuhi papan tulis de­ngan alternatif-alternatif solusi linier, di antaranya dengan metode eliminasi Gaus-Jordan, metode Crammer, metode determinan, bahkari dengan nilai Eigen. Setelah itu Lintang mulai menggarap dan tampak sangat menguasai prinsip­prinsip penyelesaian kasus nanlinier.la dengan amat lancar menjelaskan persamaan multivariabel, mengeksplaitasi rumuskuadrat, bahkan menyelesaikan aperasi persamaan menggunakan metade matriks! Padahal dasar-dasar matriks paling tidak baru dikhatbahkan para guru pada kelas dua SMA. Yang lebih menakjubkan adalah semua pengetahuan itu ia pelajari sendiri dengan membaca bermacam-macam buku milik kepala sekalah kami.jika ia mendapat giliran tugas menyapu di ruangan beliau. la bersimpuh di balik pintu ayun, semacam pintu koboi, menekuni angka-angka . yang bicara, bahkan dalam buku-buku berbahasa Belanda.</p>
<p class="MsoNormal">la memperlihatkan bakat kalkulus yang amat besar dan keahliannya tidak hanya sebatas menghitung guna menemukan salusi, tapi ia memahami filasafi operasi-ope­rasi matematikadalam hubungannya dengan aplikasi se­perti yang dipelajari para mahasiswa tingkat lanjut dalam subjek metadalagi riset. la membuat hitungan yang iseng namun cerdas mengenai berapa waktu yang dapat dihemat atau berapa tambahan surat yang dapat diantar per hari aleh Tuan Pas jika mengubah rute antarnya. la membuat perkiraan ketahanan benang gelas dalam adu layangan untuk berbagai ukuran nilan berdasarkan perkiraan ke­kuatan angin, ukuran layangan, dan panjang benang. Rekamendasinya menyebabkan kami tak pernah terkalah­kan.</p>
<p class="MsoNormal">Prediksinya tak pernah meleset dalam menghitung waktu kuncup, bersemi, dan mati untuk bunga<em> red hot cat tail </em>dengan meneliti kadar pupuk, suplai air, dan sinar mata­hari. Ia mengompilasi dengan cermat tabel pengamatan distribusi durasi, frekuensi, dan waktu curah hujan lalu menghitung rata-rata, variansi, dan koefisienkorelasi dalam rangka memperkirakan berapa kali Pak Harfan bolos karena bengek sehingga kami terbebas dari pelajaran kemuham­madiyahan. Ajaibnya setelah sekian lama, jumlah hari bolos karena bengek itu menunjukkan pola yang konsisten terhadap fungsi hujan dan lebih ajaib lagi Lintang mampu membuat persentase bias dugaannya.</p>
<p class="MsoNormal">Lintang bereksperimen merumuskan metode jern­batan keledainya sendiri untuk pelajaran-pelajaran hafalan. Biologi misalnya. Ia menciptakan sebuah konfigurasi bel­ajar metabolisme dengan merancang kelompok sistem biologis mulai dari sistem alat tubuh, pernapasan, pencer­naan, gerak, sampai sistem saraf dan indra, baik untuk manusia, vertebrata, maupun avertebrata, sehingga mudah dipahami.</p>
<p class="MsoNormal">Maka jika kita tanyakan padanya bagaimana seekor cacing melakukan hajat kecilnya, siap-siap saja menerima penjelasan yang rapi, kronologis, terperinci, dan sangat cerdas mengenai cara kerja rambut getar di dalam sel-sel api, lalu dengan santai saja, seumpama seekor monyet sedang mencari kutu di punggung pacarnya, ia akan membuat analogi buang hajat cacing itu pada sigtem ekskresi protozoa dengan anatomi vakuola kontraktil yang rumit itu, bahkan jika tidakdistop, ia akan dengan senang hati menjelaskan fungsi-fungsi korteks, simpaibowman: medulla, lapis an malpigi, dan dermis dalam sistem ekskresi manusia. Karena bagi Lintang, melalui desain jembatan keledainya tadi, hsnda-benda hafalan ini dengan mudah dapat ia kuasai, satu malam saja, sekali tepuk.</p>
<p class="MsoNormal">Masih dalam pelajaran biologi, terjadi perdebatan se­ngit di antara kami tentang teoriyang memaksakan pen­dapat bahwa manusia berasal dari nenek moyang semacam lutung, kami terperangah oleh argumentasi Lintang:</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Persoalannya adalah apakah Anda seorang religius, seorang darwinian, atau sekadar seorang oportunis? Pilihan sesungguhnya hanya antara religius dan darwinian, sebab yang tidak memilih adalah oportunis! Yaitu mereka yang berubah-ubah sikapnya sesuai situasi mana yang akan lebih menguntungkan mereka. Lalu pilihan itu seharusnya me­nentukan perilaku dalam menghargai hidup ini. Jika Anda seorang darwinian, silakan berperilaku seolah tak ada tun~ tutan akhirat, karena bagi Anda kitab suci yang memak­tub bahwa manusia berasal dari Nabi Adam adalah dusta. Tapi jika Anda seorang religius maka Anda tahu bahwa teori evolusi itu palsu, dan ketika Anda takkunjung mempersiap­kan diri untuk dihisab nanti dalam hidup setelah mati, maka dalam hal ini Anda tak lebih dari seorang sekuler oportunis yang akan dibakar di dasar neraka!&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">Itulah Lintang dengan pandangannya. Pikirannya memang telah sangat jauh meningglkan kami. Dan dengarlah itu, bicaranya lebih pintar dari bicara seluruh men­teri penerangan yang pernah dimiliki republik ini.</p>
<p class="MsoNormal">&#8216;Ayo yang lain, jangan hanya anak Tanjong keriting ini saja yang terus menjawab,&#8221; perintah Bu Mus.</p>
<p class="MsoNormal">Biasanya setelah itu aku tergada untuk menjawab, agak ragu-ragu, canggung, dan kurang yakin, sehingga se­ring sekali salah, lalu Lintang membetulkan jawabanku, dengan semangat kanstruktif penuh rasa akrab persaha­batan. Lintang adalah searang cerdas yang rendah hati dan tak pernah segan membagi ilmu.</p>
<p class="MsoNormal">Aku belajar keras sepanjang malam, tapi tak pernah sedikit pun, sedetik pun bisa melampaui Lintang. Nilaiku sedikit lebih baik darirata-rata kelas namun jauh tertinggal dari nilainya. Aku berada di bawah bayang-bayangnya se­kian lama, sudah terlalu lama malah. Rangking duaku abadi, tak berubah sejak caturwulan pertama kelas satu SD. Abadi seperti lukisan ibu menggendong anak di bulan. Rival terberatku, musuh bebuyutanku adalah temanku sebangku, yang aku sayangi.</p>
<p class="MsoNormal">Dapat dikatakan bahwa Bu Mus sering kewalahan menghadapi Lintang, terutama untuk pelajaran matematika, sehingga ia sering diminta membantu. Ketika Lintang menerangkan sebuah persaalan yang rumit dan membuat simbol-simbol rahasia matematika menjadi sinar yang mem­beri terang bagi kami, Bu Mus memerhatikan dengan saksama bukan hanya apa yang diucapkan Lintang tapi juga pendekatannya dalam menjelaskan. Lalu beliau menggeleng-gelengkan kepalanya, kamat-kamit, berbicara sendiri tak jelas seperti orang menggerendeng. Belakangan aku tahu apa yang dikomat-karnitkan beliau. Bu Mus meng­ucapkan pelan-pelan kata-kata penuh kagum, &#8220;Subhanallah &#8230;. Subhanallah &#8230;. &#8220;</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Yang paling membuatku terpesona,&#8221; cerita Bu Mus pada ibuku. &#8220;Adalah kemampuannya menemukan jawaban dengan cara lain, cara yang tak pernah terpikirkan olehku,&#8221; sambungnya sambil membetulkan jilbab.</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Lintang mampu menjawab sebuah pertanyaan mate­matika melalui paling tidak tiga cara, padahal aku hanya mengajarkan satu cara. Dan ia menunjukkan padaku bagai­mana menemukan jawaban tersebut melalui tiga cara lain­nya yang tak pernah sedikit pun aku ajarkan! Logikanya luar biasa, daya pikirnya meluap-luap. Aku sudah tak bisa lagi mengatasi anak pesisir ini Ibunda Guru.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">Bu Mus tarnpak bingungsekaligus bangga memiliki murid sepandai itu. Sebaliknya, ibuku, seperti bias a, sangat tertarik pada hal-hal yang aneh.</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Ceritakan lagi padaku kehebatannya yang lain,&#8221; pan­cing beliau memanasi Bu Mus sambil memajukan posisi duduknya, mendekatkan keminangan tempat cupu-cupu gambir dan kapur, lalu meludahkari sirih melalui jendela rumah pariggung kami.</p>
<p class="MsoNormal">Dan tak ada yang lebih membahagiakan seorang guru selain mendapatkan seorang murid yang pintar. Kecemer­langanLintang membawa gairah segar di sekolah tua kami yang mulai kehabisan napas, megap-megap melawan para­digma materialisme sistem pendidikan zaman baru. Sekarang suasana belajar mengajar di sekolah kami menjadi berbeda karena kehadiran Lintang, hanya tinggal menunggu kesempatan saja baginya untukmengharumkan nama per­guruan Muhammadiyah. Lintang dengan segala daya tarik kecerdasannya adalah gemerincing tamborin yang nakal, bernada miring, dalam alunan stambul gaya lama. Dialah mantra dalam rima-rima gurindam yang itu-itu saja. Dia ikan lele yang menggeliat dalamtimbunan lumpur beku kemarau sekolah kami yang telah bosan dihina. Tubuhnya yang kurus menjadi siku-siku yang menegakkan kernbali tiang utama perguruan Muhammadiyah yang bahkan belum tentu tahun depan mendapatkan murid baru.</p>
<p class="MsoNormal">Dewan guru tak henti-hentinya membicarakan nilai rapor Lintang. Angka sembilan berjejer mulai dari pelajaran aqaid (akidah), Al-Qur&#8217;an, fikih, tarikh Islam, budi pekerti, kemuhammadiyahan, pendidikan kewarganegaraan, ilmu bumi, dan bahasa Inggris.</p>
<p class="MsoNormal">Untuk biologi, matematika dan semua variannya: il­mu ukur, aritmetika, aljabar, dan ilmu pengetahuan alam,bahkan Bu Mus berani bertanggung jawab untuk memberi nilai sempurna: sepuluh. Kehebatan Lintang tak terben­dung, kepiawaiannya mulai kondang ke seantero kampung. Dan yang lebih mendebarkan, karena reputasinya itu, kami dipertimbangkan untuk diundang mengikuti lomba kecer­nasan antarsekolah yang dapat menaikkan gengsi sekolah setinggi rasi bintang Auriga. Sudah demikian lama kami tak diundang dalam acara bergengsi ini karena prestasi sekolah selalu di bawah rata-rata. Nilai terendah di rapor Lintang, yaitu dalapan, hanya pada mata pelajaran kesenian. Walaupun sudah berusaha sekuat tenaga dan mengerahkan segenap daya pikir dia tak mampu mencapai angka sembilan karena tak mampu ber­saing dengan searang pria muda berpenampilan eksentrik, &#8216;bertubuh ceking, dan berwajah tamp an yang duduk di pojok sana sebangku dengan Trapani. Nilai seinbilan untuk pelajaran kesenian selalu milik pria itu, namanya Mahar.</p>
<p class="MsoNormal"><font color="#993399"><strong><br />
Laskar Pelangi, Andrea Hirata, hal: 103-125</strong></font></p>
<p class="MsoNormal">Ps: Buat yang mau ujian. Belajar yang rajin ya. :p </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/banihamzah.wordpress.com/40/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/banihamzah.wordpress.com/40/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/banihamzah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/banihamzah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/banihamzah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/banihamzah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/banihamzah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/banihamzah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/banihamzah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/banihamzah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/banihamzah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/banihamzah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/banihamzah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/banihamzah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/banihamzah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/banihamzah.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banihamzah.wordpress.com&amp;blog=1024677&amp;post=40&amp;subd=banihamzah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banihamzah.wordpress.com/2007/12/07/laskar-pelangi-langit-ketujuh-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/558ad7150985cb5d32df90ab2473eaa0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">banihamzah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://banihamzah.files.wordpress.com/2007/12/lp.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Laskar Pelangi: Langit Ketujuh</title>
		<link>http://banihamzah.wordpress.com/2007/12/07/laskar-pelangi-langit-ketujuh/</link>
		<comments>http://banihamzah.wordpress.com/2007/12/07/laskar-pelangi-langit-ketujuh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Dec 2007 14:23:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>banihamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banihamzah.wordpress.com/2007/12/07/laskar-pelangi-langit-ketujuh/</guid>
		<description><![CDATA[KEBODOHAN berbentuk seperti asap, uap air, kabut. Dan ia beracun. Ia berasal dari sebuah tempat yang namanya tak pernah dikenal manusia. Jika ingin menemui kebodohan maka berangkatlah dari temp at di mana saja di planet biru ini dengan menggup.akan tabung roket atau semacamnya, meluncur ke atas secara vertikal, jangan pernah sekali pun berhenti. Gapailah gumpalan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banihamzah.wordpress.com&amp;blog=1024677&amp;post=38&amp;subd=banihamzah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong>KEBODOHAN</strong> berbentuk seperti asap, uap air, kabut. Dan ia beracun. Ia berasal dari sebuah tempat yang namanya tak pernah dikenal manusia. Jika ingin menemui kebodohan maka berangkatlah dari temp at di mana saja di planet biru ini dengan menggup.akan tabung roket atau semacamnya, meluncur ke atas secara vertikal, jangan pernah sekali pun berhenti.</p>
<p class="MsoNormal">Gapailah gumpalan awan dalam lapisan troposfer, lalu naiklah terus menuju stratosfer, menembus lapisan ozon, ionosfer, dan bulan -bulan di planet yang asing. Meluncurlah terus sampai ketinggian di mana gravitasi bumi sudah tak peduli. Arungi sarnudra bintang gemintang dalam suhu dingin yang mampu meledakkan benda padat. Lintasi hujan <span style="line-height:115%;">meteor sampai tiba di eksosfer &#8212; lapisan paling luar atmosfer dengan bentangan selebar </span><span style="line-height:115%;">1.200 </span><span style="line-height:115%;">kilometer, dan teruslah melaju menaklukkan langit ketujuh.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="line-height:115%;">Kita hanya dapat menyebutnya langit ketujuh sebagai <span> </span>gambaran imajiner tempat tertinggi dari yang paling tinggi. Di tempat asing itu, tempat yang tak &#8216;kan pernah memiliki nama, di atas langit ke tujuh, di situlah kebodohan ber­semanyam, Rupanya seperti kabut tipis, seperti asap cang­klang, melayang-layang pelan, memabukkan. Maka apabila kita tanyakan sesuatu kepada orang-orang bodoh, mereka akan menjawab dengan meracau, menyembunyikan ketidaktahuannya dalam omongan cepat, mencari beragarn alasan, atau membelokkan arah pertanyaan. Sebagian yang lain diam terpaku, mulutnya ternganga, ia diselubungi kabut dengan tatapa n mata yang kosong dan jauh. Kedua jenis reaksi ini adalah akibat keracunan asap tebal kebodohan yang mengepul di kepala mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="line-height:115%;">Kita tak perlu menempuh ekspedisi gila-gilaan itu. Karena seluruh lapisan langit dan gugusan planet itu se­sungguhnya terkonstelasi di dalam kepala kita sendiri. Apa yang ada pada pikiran kita, dalam gumpalan otak seukuran <span> </span>genggam, dapat menjangkau ruang seluas jagat raya. Para pemimpi seperti Nicolaus Copernicus, Battista Della Porta, dan Lippershey malah menciptakan jagat rayanya sendiri, di dalam imajinasinya, dengan sistem tata suryanya sendiri, dan Lucretius, juga seorang-pernimpi, menuliskan ilmu dalam puisi-puisi. </span></p>
<p class="MsoNormal">Tempat di atas langit ketujuh, tempat kebodohan bersemayam, adalah metafor dari suatu ternpat di mana manusia tak bisa mempertanyakan zat-zat Allah, Setiap usaha mempertanyakannya hanya akan berujung dengan­kesimpulan yang rnempertontonkan kemahatololan sang penanya sendiri. Maka semua jangkauan akal telah ber­akhir di langit ketujuh tadi. Di tempat asing tersebut, ba­rangkali Arasy, di sana kembali metafor keagungan Tuhan bertakhta. Di bawah takhta-Nya tergelar Lauhul Mahfuzh, muara dari segala cabang anak-anak sungai ilmu dan ke­bijakan, kitab yang telah mencatat setiap lembar daun yang akan jatuh. Ia juga menyimpan rahasia ke mana nasib akan membawa sepuluh siswa baru perguruan Muhammadiyah tahun ini, Karena takdir dan nasib termasuk dalam zat­Nya.</p>
<p class="MsoNormal">Tuhan menakdirkan orang-orang tertentu urituk memiliki hati yang terang agar dapat memberi pencerahan pada sekelilingnya. Dan di malam yang tua dulu ketika Copernicus dan Lucretius duduk di samping Lintang, ketika angka-angka dan huruf menjelma menjadi kunang-kunang yang berkelap-kelip, saat itu Tuhan menyemaikan biji zarah kecerdasan, zarah yang jatuh dari Iangit dan menghantam kening Lintang.</p>
<p class="MsoNormal">Sejak hari perkenalan dulu aku sudah terkagum-ka­gum pada Lintang. Anak pengumpul kerang ini pintar sekali. Matanya menyala-nyala memancarkan inteligensi, ke­ingintahuan menguasai dirinya <span> </span>seperti orang kesurupan. Jarinya tak pernah berhenti mengacung tanda ia bisa menjawab. Kalau melipat dia paling cepat, kalau membaca dia paling hebat. Ketika kami masih gagap menjumlahkan ang­ka-angka genap ia sudah terampil mengalikan angka-angka ganjil. Kami baru saja bisa mencongak, dia sudah pintar membagi angka desimal, menghitung akar dan rnenemukan pangkat, lalu, tidak hanya menggunakan, tapi juga mampu mejelaskan hubungan keduanya dalam tabel logaritma. Ke­lemahannya, aku tak yakin apakah hal ini bisa disebut kelemahan, adalah tulisannya yang cakar ayam tak keruan, ten­tu karena mekanisme motorik jemarinya tak ,mampu me­ngejar pikirannya yang berlari sederas kijang.</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;13 kali 6 kali 7 tambah 83 kurang 39!&#8221; tantang Bu Mus di depan kelas.</p>
<p class="MsoNormal">Lalu kami tergopoh-gopoh membuka karet yang mengikat segenggam lidi, untuk mengambil tiga belas lidi, mengelompokkannya menjadi enam tumpukan, susah pa­yah menjumlahkan semua tumpukan itu, hasilnya kembali disusun menjadi tujuh kelompok, dihitung satu per satu sebagai total dua tahap perkalian, ditambah lagi 83 lidi lalu diambil 39. Otak terlalu penuh untuk mengorganisasi sinyal-sinyal agar mengambil tindakan praktis mengu­rangkan dulu 39 dari 83. Menyimpang sedikit dari urutan cara berpikir orang kebanyakan adalah kesalahan fatal yang akan mengacaukan ilmu hitung aljabar. Rata-rata dari kami menghabiskan waktu hampir selama 7 menit. Efektif me­mang, tapi tidak efisien, repot sekali.</p>
<p class="MsoNoSpacing">Sementara Lintang, tidak mernegang sebatang lidi pun, tidak berpikir dengan cara orang kebanyakan, hanya memejamkan matanya sebentar, tak lebih dari 5 detik ia bersorak.</p>
<p class="MsoNoSpacing">&#8220;590!&#8221;</p>
<p class="MsoNoSpacing">Tak sebiji pun meleset, meruntuhkan semangat kami yang sedang belepotan memegangi potongan lidi, bahkan belum selesai dengan operasi perkalian tahap pertama, Aku jengkel tapi kagum. Waktu itu kami baru masuk hari pertama di kelas dua SD!</p>
<p class="MsoNoSpacing">&#8220;<em>Superb</em>! Anak pesisir, <em>superb</em>!&#8221; pujiBu Mus. Beliau pun tergoda untuk menjangkau batas daya pikir Lintang. &#8220;18 kali 14 kali 23 tambah 11 tambah 14 kali 16 kali 7!&#8221;</p>
<p class="MsoNoSpacing">Kami berkecil hati, termangu-mangu menggenggami lidi, lalu kurang dari tujuh detik, tanpa membuat catatan apa pun, tanpa keraguan, tanpa ketergesa-gesaan, bahkan tanpa berkedip, Lintang berkumandang.</p>
<p class="MsoNoSpacing">&#8220;651.952!&#8221;</p>
<p class="MsoNoSpacing">&#8220;Purnama! Lintang, bulan purnama di atas Dermaga Olivir, indah sekali! Itulah jawabanmu, ke mana kau bersembunyi selama ini &#8230; ?&#8221;</p>
<p class="MsoNoSpacing">Ibu Mus bersusah payah menahan tawanya. Ia me­natap Lintang seolah telah seumur hidup mencari murid seperti ini. Ia tak mungkin tertawa lepas, agama melarang itu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Kami terpesona dan bertanya-tanya bagaimana cara Lintang melakukan semua itu.Dan inilah resepnya &#8230;.</p>
<p class="MsoNoSpacing">&#8220;Hafalkan luar kepalasemua perkalian sesama angka ganjil, itulah yang sering menyusahkan. Hilangkan angka satuan dari perkalian dua angka puluhan karena lebih mudah mengalikan dengan angka berujung nol, kerjakan sisanya kemudian, dan jangan kekenyangan kalau makan malam, itu akan membuat telingamu tuli dan otakmu tumpul!&#8221;</p>
<p class="MsoNoSpacing">Polos, tapi ia telah menunjukkan kualifikasi <em>highly cognitive complex</em> dengan mengembangkan sendiri teknik-­teknik melokalisasi kesulitan, menganalisis, dan memecah­kannya. Ingat dia baru kelas dua SD dan ini adalah hari pertamanya. Selain itu ia juga telah mendemonstrasikan . kualitas nalar kuantitatif level tinggi. Sekarang aku me­ngerti, aku sering melihatnya berkonsentrasi memandangi angka-angka. Saat itu dari keningnya seolah terpancar se­berkas sinar, mungkin itulah cahaya ilmu. Anak semuda itu telah mampumengontemplasikan bagaimana angka-­angka saling bereaksi dalam suatu operasi matematika. Kontemplasi-kontemplasi ini rupanya melahirkan resep ajaib tadi.</p>
<p class="MsoNoSpacing">Lintang adalah pribadi yang unik. Banyak orang merasa dirinya pintar lalu bersikap seenaknya, congkak, tidak disiplin, dan tak punya integtitas. Tapi Lintang sebalik­nya. Ia tak pernah tinggi hati, karena ia merasa ilmu demikian luas untuk disombongkan dan menggali ilmu tak akan ada habis-habisnya.</p>
<p class="MsoNoSpacing">Meskipun rumahnya paling jauh tapi kalau datang ia paling pagi. Wajah manisnya senantiasa bersinar walaupun baju, celana, dan sandal <em>cunghai</em>-nya buruknya minta am­pun. Namun sungguh kuasa Allah, di dalam tempurung kepalanya yang ditumbuhi rambut gimbal awut-awutan itu tersimpan cairan otak yang encer sekali. Pada setiap rang­kaian kata yang ditulisnya secara acak-acakan tersirat kece­merlangan pemikiran yang gilang gemilang. Di balik tubuh­nya yang tak terawat, kotor, miskin, serta berbau hangus, dia memiliki <em>an</em> <em>absolutely beautiful mind</em>. Ia adalah buah akal yang jernih, bibit genius asli, yang lahir di sebuah tempat nun jauh di pinggir laut, dari sebuah keluarga yang tak satu pun bisa membaca.</p>
<p class="MsoNoSpacing">Lebih dari itu, seperti dulu kesan pertama yang ku­tangkap darinya, ia laksana bunga meriam yang melontar­kan tepung sari. Ia lucu, semarak, dan penuh vitalitas. Ia memperlihatkan bagaimana ilmu bisa menjadi begitu menarik dan ia menebarkan hawa positif sehingga kami ingin belajar keras dan berusaha menunjukkan yang terbaik.</p>
<p class="MsoNoSpacing">Jika kami kesulitan, ia mengajari kami dengan sabar dan selalu membesarkan hati kami. Keunggulannya tidak menimbulkan perasaan terancam bagi sekitarnya, ke­cemerlangannya tidak menerbitkan iri dengki, dan kehe­batannya tidak sedikit pun mengisyaratkan sifat-sifat angkuh. Kami bangga dan jatuh hati padanya sebagai se­orang sahabat dan sebagai seorang murid yang cerdas luar biasa. Lintang yang miskin duafa adalah mutiara, galena, kuarsa, dan topas yang paling berharga bagi kelas kami.</p>
<p class="MsoNoSpacing">Lintang selalu terobsesi dengan hal-hal baru, setiap informasi adalah sumbu ilmu yang dapat meledakkan rasa ingin tahunya kapan saja. Kejadian ini terjadi ketika kami kelas lima, pada hari ketika ia diselarnatkan oleh Bodenga.</p>
<p class="MsoNormal">&#8216;Al-Qur&#8217;an kadangkala menyebut nama tempat yang harus diterjemahkan dengan teliti &#8230;. &#8221; Demikian penjelasan Bu Mus dalam tarikh Islam, pelajaran wajib perguruan Mu­hammadiyah. Jangan harap naik kelas kalau mendapat ang­ka merah untuk ajaran ini.</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Misalnya <em>negeri yang terdekat</em> yang ditaklukkan tentara Persia pada tahun &#8230;. &#8220;</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;620 Masehi! Persia merebut kekaisaran Heraklius yang juga berada dalam ancaman pemberontakan Meso­potamia, Sisilia, dan Palestina. Ia juga diserbu bangsa Avar, Slavia, dan Armenia &#8230;. &#8220;</p>
<p class="MsoNormal">Lintang memotong penuh minat, kami ternganga-­nganga, Bu Mus tersenyum senang. Beliau menyampingkan ego. Tak keberatan kuliahnya dipotong. Beliau memang menciptakan atmosfer kelas seperti ini sejak awal. Mem­fasilitasi kecerdasan muridnya adalah yang paling penting bagi beliau. Tidak semua guru memiliki kualitas seperti ini. Bu Mus menyambung, &#8220;Negeri yang terdekat itu &#8230;. &#8220;</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Byzantium! Nama kuno untuk Konstantinopel, men­dapat nama belakangan itu dari The Great Constantine. Tujuh tahun kemudian negeri itu merebut lagi kemerde­kaannya,kemerdekaan yang diingatkan dalam kitab suci dan diingkari kaum musyrik Arab, mengapa ia disebut negeri yang terdekat Ibunda Guru? Dan mengapa kitab suci di­tentang?&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Sabarlah anakku, pertanyaanmu menyangkut pen­jelasan tafsir surah Ar-Ruum dan itu adalah ilmu yang Allah berusia paling tidak seribu empat ratus tahun. Tafsir baru akan kita diskusikan nanti kalau kelas dua SMP. &#8230; &#8220;</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Tak mau Ibunda, pagi ini ketika berangkat sekolah aku hampir diterkam buaya, maka aku tak punya waktu menunggu, jelaskan di sini, sekarang juga!&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">Kami bersorak dan untuk pertama kalinya kami me­ngerti makna <em>adnal ardli</em>, yaitu tempat yang dekat atau negeri yang terdekat dalam arti harfiah dan tempat paling rendah di bumi dalam konteks tafsir, tak lain dari Byzantium di kekaisaran Roma sebelah timur. Kami bersorak tentu bukan karena <em>adnal ardli,</em> apalagi Byzantium yang mer­deka, tapi karena kagum dengan sikap Lintang menantang intelektualitasnya sendiri. Kami merasa beruntung menjadi saksi bagaimana seseorang tumbuh dalam evolusi inte­ligensi. Dan ternyata jika hati kita tulus berada di dekat orang berilmu, kita akan disinari pancaran pencerahan, karena seperti halnya kebodohan, kepintaran pun sesung­guhnya demikian mudah menjalar,</p>
<p class="MsoNormal" align="center">***</p>
<p class="MsoNormal">ORANG cerdas memahami konsekuensi setiap jawab­an dan menemukan bahwa di balik sebuah jawaban ter­sembunyi beberapa pertanyaan baru. Pertanyaan baru tersebut memiliki pasangan sejumlah jawaban yang kembali akan membawa pertanyaan baru dalam deretan eksponen­sial. Sehingga mereka yang benar-benar cerdas kebanyakan rendah hati, sebab mereka gamang pada akibat dari sebuah jawaban. Konsekuensi-konsekuensi itu mereka temui dalam jalur-jalur seperti labirin, jalur yang jauh menjalar-jalar, jalur yang tak dikenal di lokus-lokus antah herantah, tiada berujung. Mereka mengarungi jalur pemikiran ini, tersesat di jauh di dalamnya, sendirian.</p>
<p class="MsoNormal">Codaan-godaan besar bersemayam di dalam kepala orang-orang cerdas. Di dalamnya gaduh karena penuh de­ngan skeptisisme. Selesai menyerahkan tugas kepada do­sen, mereka selalu merasa tidak puas, selalu merasa bisa berbuat lebih baik dari apa yang telah mereka presentasikan. Bahkan ketika mendapat nilai A plus tertinggi, mereka masih saja mengutuki dirinya sepanjang malam.</p>
<p class="MsoNormal">Orang cerdas berdiri di dalam gelap, sehingga mereka bisa melihat sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain. Mereka yang tak dipahami oleh lingkungannya, terperangkap da­lam kegelapan itu. Semakin cerdas, semakin terkucil, se­makin aneh mereka. Kita menyebut mereka: orang-orang yang sulit. Orang-orang sulit ini tak berteman, dan mereka berteriak putus asa memohon pangertian.Ditambah sedikit saja dengan sikap introver, maka orang-orang cerdas se­macam ini tak jarang berakhir di sebuah kamardengan pe­rabat berwarna teduh dan musik klasik yang terdengarla­mat-lamat, itulah ruang terapi kejiwaan. Sebagian dari me­reka amat menderita.</p>
<p class="MsoNormal">Sebaliknya, orang-orang yang tidak cerdas hidupnya lebih bahagia. Jiwanya sehat walafiat. lsi kepalanya damai, tenteram, sekaligus sepi, karena tak ada apa-apa di situ, kosong. Jika ada suara memasuki telinga niereka, maka suara itu akan terpantul-pantul sendirian di dalam sebuah ruangan yang sempit, berdengung-dengung sebentar, lalu segera keluar kembalimelalui mulut mereka.</p>
<p class="MsoNormal">Jika menyerahkan tugas, mereka puas sekali karena telah berhasil memenuhi batas akhir, dan ketika mendapat nilai C, mereka tak henti-hentinya bersyukur karena telah lulus .</p>
<p class="MsoNormal">Mereka hidup di dalam terang. Sebuah senter menyi­ramkan sinar tepat di atas kepala mereka dan pemikiran mereka hanya sampai pada batas lingkaran cahaya senter itu. Di luar itu adalah gelap. Mereka selalu berbicara keras­keras karena takut akan kegelapan yang mengepung mereka. Bagi sebagian orang, ketidaktahuan adalah berkah yang tak terkira.</p>
<p class="MsoNormal">Aku pernah mengenal berbagai jenis orang cerdas. Ada orang genius yang jika menerangkan sesuatu lebih bo­doh dari orang yang paling bodoh. Semakin keras ia ber­usaha rnenjelaskan, semakin bingung kita dibuatnya. Hal ini biasanya dilakukan oleh mereka yang sangat cerdas. Ada pula yang kurang cerdas, bahkan bodoh sebenarnya, tapi kalau bicara ia terlihat paling pintar. Ada orang yang memiliki kecerdasaan sesaat, kekuatan menghafal yang fotografis, namun tanpa kemampuan analisis. Ada juga yang cerdas tapi berpura-pura bodoh, dan lebih banyak lagi yang bodoh tapi berpura-pura cerdas.</p>
<p class="MsoNormal">Narnun, sahabatku Lintang memiliki hampir semua dimensi kecerdasan. Dia seperti toko serba ada kepandaian. Yang paling menonjol adalah kecerdasan spasialnya, sehingga ia sangat unggul dalam geometri multidimensional. Ia dengan cepat dapat membayangkan wajah sebuah kons­truksi suatu fungsi jika digerak-gerakkan dalam variabel derajat. Ia mampu memecahkan kasus-kasus dekomposisi modern yang runyam dan mengajari kami teknik meng­hitung luas poligon dengan cara membongkar sisi-sisinya sesuai Dalil Geometri Euclidian. Ingin kukatakan bahwa ini sarna sekali bukan perkara mudah.</p>
<p class="MsoNormal">Ia sering membuat permainan dan mendesain visual­isasi guna menerjemahkan rumusan geometris pada tingkat kesulitan yang sangat tinggi. Tujuannya agar garnpang disi­mulasikan sehingga kami sekelas dapat dengan mudah me­mahami kerumitan Teorema Kupu-Kupu atau Teorema Mor­ley yang menyatakan bahwa pertemuan segitiga yang ditarik dari trisektor segitiga bentuk apapun akan mem­bentuk segitiga inti yang sarna sisi. Semua itu dilengkapinya dengan bukti-bukti matematis dalam jangkauan analisis yang melibatkan kemampuan logika yang sangat tinggi. Ini juga sarna sekali bukan urusan mudah, terutama untuk tingkat pendidikan serendah kami serta. Dan mengingat hal itu terjadi di sebuah sekolah kampung seperti gudang kopra maka kuanggap apa yang dilakukan Lintang sangat luar biasa.</p>
<p class="MsoNormal">Lintang juga cerdas secara <em>experiential </em>yang mem­buatnya piawai menghubungkan setiap informasi dengan konteks yang lebih luas. Dalam kaitan ini,ia merniliki kapasitas <em>metadiscourse</em> selayaknya orang-orang yang memang dilahirkan sebagai seorang genius. Artinya adalah jika dalam pelajaran biologi kami baru mempelajari fungsi-fungsi otot sebagai subkomponen yang membentuk sistem mekanik parsial sepotong kaki maka Lintang telah me­mahami sistem mekanika seluruh tubuh dan ia mampu men­jelaskan peran sepotong kaki itu dalam keseluruhan me­kanika persendian dan otot-otot yang terintegrasi.</p>
<p class="MsoNormal">Kecerdasannya yang lain adalah kecerdasan linguistik. Ia mudah memahami bahasa, efektif dalam berkomunikasi, memiliki nalar verbal dan logika kualitatif. Ia jugamem­punyai <em>descriptive power</em>, yakni suatu kemampuan meng­gambarkan sesuatu dan mengambil contoh yang tepat. Pengalamanku dengan pelajaran bahasa Inggris di hari-hari pertama kelas 2 SMP nanti membuktikan hal itu.</p>
<p class="MsoNormal">Saat itu aku mendapat kritikan tajam dari ayahku ka­rena nilai bahasa Inggris yang tak kunjung membaik. Aku pun akhirnya menghadap pemegang kunci pintu ilmu filsafat untuk mendapat satu dua resep ajaib. Aku keluhkan kosulitanku memahami tense.</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Kalau tak salah jumlahnya sampai enam belas, dan jika ia sudah berada dalam sebuah narasi aku kehilangan jejak dalam konteks tense apa aku berada? Pun ketika ingin membentuk sebuah kalimat, bingung aku menentukan tense-nya. Bahasa Inggrisku tak maju-maju.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Begini,&#8221; kata Lintang sabar menghadapi ketololanku. <span> </span>Ketika itu ia sedang memaku sandal cunghai-nya yang me­nganga seperti buaya lapar. Kupikir ia pasti mengira bahwa aku mengalami disorientasi waktu dan akan menjelaskan makna tense secara membosankan. Tapi petuahnya sung­guh tak kuduga. <span> </span></p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Memikirkan struktur dan dimensi waktu dalam sebuah bahasa asing yang baru saja kita kenal tidak lebih dari hanya akan merepotkan diri sendiri. Sadarkah kau ba­hasa apa pun di dunia ini, di mana pun, mulai dari bahasa Navajo yang dipakai sebagai sandi tak terpecahkan di perang dunia kedua, bahasa Gaelic yang amat langka, ba­hasa Melayu pesisir yang berayun-ayun, sampai bahasa Mohican yang telah punah, semuanya adalah kumpulan kalimat, dan kalimat tak lain adalah kumpulankata-kata, paham kau sampai di sini?&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">Aku mengangguk, semua orang tahu itu.</p>
<p class="MsoNormal">Lalu ia melanjutkan, &#8220;Nah, kata apa pun, pada dasar­nya adalah kata benda, kata kerja, kata sifat, dan kata kete­rangan, paham? lni bukan masalah bahasa yang sulit tapi masalah cara berpikir.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">Sekarang mulai menarik,</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Berangkatlah dari sana, pelajari bagaimana menggunakan kata benda, kata kerja, kata sifat, dan kata keterangan dalam sebuah kalimat lnggris, itu saja, Kal. Tak lebih dari itu!&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">Belajar kata terlebih dulu, bukan belajar bahasa, itu­lah inti paradigma belajar bahasa lnggris versi Lintang. Sebuah ide cemerlang yang hanya terpikirkan oleh orang-­orang yang memahami prinsip-prinsip belajar bahasa. Dengan paradigma ini aku mengalami kemajuan pesat,bu­kan hanya karena aku dapat mempelaiari bahasa lnggris dengan bantuan analogi bahasa Indonesia, tapi petuahnya mampu melenyapkan sugesti kesulitan belajar bahasa asing yang umum melanda siswa-siswa daerah. Bahwa bahasa, baik lokal maupun asing, adalah permainan kata-kata, tak lebih dari itu!</p>
<p class="MsoNormal">Setelah aku mampu membangun konstruksiku sendiri dalam memahami kalimat-kalimat Inggris, kemudian Lin­tang menunjukkancara meningkatkan kualitas tata bahasa­ku dengan mengenalkan teori stuktur dan aturan-aturan tense. Pendekatan ini diam-diam kami sebarkan pada se­luruh teman sekelas.Dan ternyata hal ini sukses besar, se­hingga dapat dikatakan Lintanglah yang telah mengakhiri masa kejahiliahan bahasa Inggris di kelas kami.</p>
<p class="MsoNormal">Mungkin kami telah belajar bahasa Inggris dengan pendekatan yang keliru, tapi cara ini efektif. Dan cara ini diajarkan oleh seseorang yang percaya bahwa setiap orang memiliki jalan yang berbeda untuk memahami bahasa. Aku kagum dengan daya pikir Lintang, dalam usia semuda itu ia mampu melihat elemen-elemen filosofissebuah ilmu lalu menerjemahkannya menjadi taktik-taktik praktis untuk menguasainya. Yang lebih istimewa, orang yang meng­ajariku ini bahkan tak mampu membeli buku teks wajib bahasa Inggris.</p>
<p class="MsoNormal">Lintang memasuki suatu tahap kreatif yang melibatkan intuisi dan pengembangan pemikiran divergen yang ­orisinal. Ia menggali rasa ingin tahunya dan tak henti men­coba-coba. Indikasi kegeniusannya dapat dilihat dari ke­fasihannya dalam berbahasa numerik, yaitu ia terampil memproses sebuah pernyataan matematis mulai dari hipo­tesis sampai pada kesimpulan. Ia membuat penyangkalan berdasarkan teorema, bukan hanya berdasarkan pembukti­an kesalahan, apalagi simulasi, Dalam usia muda dia telah memasuki area yang amat teoretis, cara berpikirnya men­dobrak, mengambil risiko, tak biasa, dan menerobos. Se­tiaphari kami merubungnya untukmenemukan kejutan­kejutan pemikirannya.</p>
<p class="MsoNormal">Baru naik ke kelas satu SMP ketika kami masih pusing tujuh keliling memetakan absis dan ordinat pada produk cartesius dalam topik relasi himpunan sebagai dasar fungsi linear, Lintang telah mengutak-atik materi-materi untuk ke­las yang jauh lebih tinggi di tingkat lanjutan atas bahkan di tingkat awal perguruan tinggi seperti implikasi, biim­plikasi, filosofi Pascal, binomial Newton, limit, diferensial, integral, teori-teori peluang, dan vektor. Ketika kami baru saja mengenal dasar-dasar binomial ia telah beranjak ke pengetahuan tentang aturan multinomial dan teknik eks­ploitasi polinomial, ia mengobrak-abrik pertidaksamaan eksponensial, mengilustrasikan grafik-grafik sinus, dan membuat pembuktian sifat matematis menggunakan fung­si-fungsi trigonometri dan aturan ruang tiga dimensi.</p>
<p class="MsoNormal">Suatu waktu kami belajar sistem persamaan linier dan tertatih-tatih mengurai-uraikan kasusnya dengan substitusi agar dapat menemukan nilai sebuah variabel, ia bosan dan monghambur ke depan kelas, memenuhi papan tulis de­ngan alternatif-alternatif solusi linier, di antaranya dengan metode eliminasi Gaus-Jordan, metode Crammer, metode determinan, bahkari dengan nilai Eigen. Setelah itu Lintang mulai menggarap dan tampak sangat menguasai prinsip­prinsip penyelesaian kasus nanlinier.la dengan amat lancar menjelaskan persamaan multivariabel, mengeksplaitasi rumuskuadrat, bahkan menyelesaikan aperasi persamaan menggunakan metade matriks! Padahal dasar-dasar matriks paling tidak baru dikhatbahkan para guru pada kelas dua SMA. Yang lebih menakjubkan adalah semua pengetahuan itu ia pelajari sendiri dengan membaca bermacam-macam buku milik kepala sekalah kami.jika ia mendapat giliran tugas menyapu di ruangan beliau. la bersimpuh di balik pintu ayun, semacam pintu koboi, menekuni angka-angka . yang bicara, bahkan dalam buku-buku berbahasa Belanda.</p>
<p class="MsoNormal">la memperlihatkan bakat kalkulus yang amat besar dan keahliannya tidak hanya sebatas menghitung guna menemukan salusi, tapi ia memahami filasafi operasi-ope­rasi matematikadalam hubungannya dengan aplikasi se­perti yang dipelajari para mahasiswa tingkat lanjut dalam subjek metadalagi riset. la membuat hitungan yang iseng namun cerdas mengenai berapa waktu yang dapat dihemat atau berapa tambahan surat yang dapat diantar per hari aleh Tuan Pas jika mengubah rute antarnya. la membuat perkiraan ketahanan benang gelas dalam adu layangan untuk berbagai ukuran nilan berdasarkan perkiraan ke­kuatan angin, ukuran layangan, dan panjang benang. Rekamendasinya menyebabkan kami tak pernah terkalah­kan.</p>
<p class="MsoNormal">Prediksinya tak pernah meleset dalam menghitung waktu kuncup, bersemi, dan mati untuk bunga<em> red hot cat tail </em>dengan meneliti kadar pupuk, suplai air, dan sinar mata­hari. Ia mengompilasi dengan cermat tabel pengamatan distribusi durasi, frekuensi, dan waktu curah hujan lalu menghitung rata-rata, variansi, dan koefisienkorelasi dalam rangka memperkirakan berapa kali Pak Harfan bolos karena bengek sehingga kami terbebas dari pelajaran kemuham­madiyahan. Ajaibnya setelah sekian lama, jumlah hari bolos karena bengek itu menunjukkan pola yang konsisten terhadap fungsi hujan dan lebih ajaib lagi Lintang mampu membuat persentase bias dugaannya.</p>
<p class="MsoNormal">Lintang bereksperimen merumuskan metode jern­batan keledainya sendiri untuk pelajaran-pelajaran hafalan. Biologi misalnya. Ia menciptakan sebuah konfigurasi bel­ajar metabolisme dengan merancang kelompok sistem biologis mulai dari sistem alat tubuh, pernapasan, pencer­naan, gerak, sampai sistem saraf dan indra, baik untuk manusia, vertebrata, maupun avertebrata, sehingga mudah dipahami.</p>
<p class="MsoNormal">Maka jika kita tanyakan padanya bagaimana seekor cacing melakukan hajat kecilnya, siap-siap saja menerima penjelasan yang rapi, kronologis, terperinci, dan sangat cerdas mengenai cara kerja rambut getar di dalam sel-sel api, lalu dengan santai saja, seumpama seekor monyet sedang mencari kutu di punggung pacarnya, ia akan membuat analogi buang hajat cacing itu pada sigtem ekskresi protozoa dengan anatomi vakuola kontraktil yang rumit itu, bahkan jika tidakdistop, ia akan dengan senang hati menjelaskan fungsi-fungsi korteks, simpaibowman: medulla, lapis an malpigi, dan dermis dalam sistem ekskresi manusia. Karena bagi Lintang, melalui desain jembatan keledainya tadi, hsnda-benda hafalan ini dengan mudah dapat ia kuasai, satu malam saja, sekali tepuk.</p>
<p class="MsoNormal">Masih dalam pelajaran biologi, terjadi perdebatan se­ngit di antara kami tentang teoriyang memaksakan pen­dapat bahwa manusia berasal dari nenek moyang semacam lutung, kami terperangah oleh argumentasi Lintang:</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Persoalannya adalah apakah Anda seorang religius, seorang darwinian, atau sekadar seorang oportunis? Pilihan sesungguhnya hanya antara religius dan darwinian, sebab yang tidak memilih adalah oportunis! Yaitu mereka yang berubah-ubah sikapnya sesuai situasi mana yang akan lebih menguntungkan mereka. Lalu pilihan itu seharusnya me­nentukan perilaku dalam menghargai hidup ini. Jika Anda seorang darwinian, silakan berperilaku seolah tak ada tun~ tutan akhirat, karena bagi Anda kitab suci yang memak­tub bahwa manusia berasal dari Nabi Adam adalah dusta. Tapi jika Anda seorang religius maka Anda tahu bahwa teori evolusi itu palsu, dan ketika Anda takkunjung mempersiap­kan diri untuk dihisab nanti dalam hidup setelah mati, maka dalam hal ini Anda tak lebih dari seorang sekuler oportunis yang akan dibakar di dasar neraka!&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">Itulah Lintang dengan pandangannya. Pikirannya memang telah sangat jauh meningglkan kami. Dan dengarlah itu, bicaranya lebih pintar dari bicara seluruh men­teri penerangan yang pernah dimiliki republik ini.</p>
<p class="MsoNormal">&#8216;Ayo yang lain, jangan hanya anak Tanjong keriting ini saja yang terus menjawab,&#8221; perintah Bu Mus.</p>
<p class="MsoNormal">Biasanya setelah itu aku tergada untuk menjawab, agak ragu-ragu, canggung, dan kurang yakin, sehingga se­ring sekali salah, lalu Lintang membetulkan jawabanku, dengan semangat kanstruktif penuh rasa akrab persaha­batan. Lintang adalah searang cerdas yang rendah hati dan tak pernah segan membagi ilmu.</p>
<p class="MsoNormal">Aku belajar keras sepanjang malam, tapi tak pernah sedikit pun, sedetik pun bisa melampaui Lintang. Nilaiku sedikit lebih baik darirata-rata kelas namun jauh tertinggal dari nilainya. Aku berada di bawah bayang-bayangnya se­kian lama, sudah terlalu lama malah. Rangking duaku abadi, tak berubah sejak caturwulan pertama kelas satu SD. Abadi seperti lukisan ibu menggendong anak di bulan. Rival terberatku, musuh bebuyutanku adalah temanku sebangku, yang aku sayangi.</p>
<p class="MsoNormal">Dapat dikatakan bahwa Bu Mus sering kewalahan menghadapi Lintang, terutama untuk pelajaran matematika, sehingga ia sering diminta membantu. Ketika Lintang menerangkan sebuah persaalan yang rumit dan membuat simbol-simbol rahasia matematika menjadi sinar yang mem­beri terang bagi kami, Bu Mus memerhatikan dengan saksama bukan hanya apa yang diucapkan Lintang tapi juga pendekatannya dalam menjelaskan. Lalu beliau menggeleng-gelengkan kepalanya, kamat-kamit, berbicara sendiri tak jelas seperti orang menggerendeng. Belakangan aku tahu apa yang dikomat-karnitkan beliau. Bu Mus meng­ucapkan pelan-pelan kata-kata penuh kagum, &#8220;Subhanallah &#8230;. Subhanallah &#8230;. &#8220;</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Yang paling membuatku terpesona,&#8221; cerita Bu Mus pada ibuku. &#8220;Adalah kemampuannya menemukan jawaban dengan cara lain, cara yang tak pernah terpikirkan olehku,&#8221; sambungnya sambil membetulkan jilbab.</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Lintang mampu menjawab sebuah pertanyaan mate­matika melalui paling tidak tiga cara, padahal aku hanya mengajarkan satu cara. Dan ia menunjukkan padaku bagai­mana menemukan jawaban tersebut melalui tiga cara lain­nya yang tak pernah sedikit pun aku ajarkan! Logikanya luar biasa, daya pikirnya meluap-luap. Aku sudah tak bisa lagi mengatasi anak pesisir ini Ibunda Guru.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">Bu Mus tarnpak bingungsekaligus bangga memiliki murid sepandai itu. Sebaliknya, ibuku, seperti bias a, sangat tertarik pada hal-hal yang aneh.</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Ceritakan lagi padaku kehebatannya yang lain,&#8221; pan­cing beliau memanasi Bu Mus sambil memajukan posisi duduknya, mendekatkan keminangan tempat cupu-cupu gambir dan kapur, lalu meludahkari sirih melalui jendela rumah pariggung kami.</p>
<p class="MsoNormal">Dan tak ada yang lebih membahagiakan seorang guru selain mendapatkan seorang murid yang pintar. Kecemer­langanLintang membawa gairah segar di sekolah tua kami yang mulai kehabisan napas, megap-megap melawan para­digma materialisme sistem pendidikan zaman baru. Sekarang suasana belajar mengajar di sekolah kami menjadi berbeda karena kehadiran Lintang, hanya tinggal menunggu kesempatan saja baginya untukmengharumkan nama per­guruan Muhammadiyah. Lintang dengan segala daya tarik kecerdasannya adalah gemerincing tamborin yang nakal, bernada miring, dalam alunan stambul gaya lama. Dialah mantra dalam rima-rima gurindam yang itu-itu saja. Dia ikan lele yang menggeliat dalamtimbunan lumpur beku kemarau sekolah kami yang telah bosan dihina. Tubuhnya yang kurus menjadi siku-siku yang menegakkan kernbali tiang utama perguruan Muhammadiyah yang bahkan belum tentu tahun depan mendapatkan murid baru.</p>
<p class="MsoNormal">Dewan guru tak henti-hentinya membicarakan nilai rapor Lintang. Angka sembilan berjejer mulai dari pelajaran aqaid (akidah), Al-Qur&#8217;an, fikih, tarikh Islam, budi pekerti, kemuhammadiyahan, pendidikan kewarganegaraan, ilmu bumi, dan bahasa Inggris.</p>
<p class="MsoNormal">Untuk biologi, matematika dan semua variannya: il­mu ukur, aritmetika, aljabar, dan ilmu pengetahuan alam,bahkan Bu Mus berani bertanggung jawab untuk memberi nilai sempurna: sepuluh. Kehebatan Lintang tak terben­dung, kepiawaiannya mulai kondang ke seantero kampung. Dan yang lebih mendebarkan, karena reputasinya itu, kami dipertimbangkan untuk diundang mengikuti lomba kecer­nasan antarsekolah yang dapat menaikkan gengsi sekolah setinggi rasi bintang Auriga. Sudah demikian lama kami tak diundang dalam acara bergengsi ini karena prestasi sekolah selalu di bawah rata-rata. Nilai terendah di rapor Lintang, yaitu dalapan, hanya pada mata pelajaran kesenian. Walaupun sudah berusaha sekuat tenaga dan mengerahkan segenap daya pikir dia tak mampu mencapai angka sembilan karena tak mampu ber­saing dengan searang pria muda berpenampilan eksentrik, &#8216;bertubuh ceking, dan berwajah tamp an yang duduk di pojok sana sebangku dengan Trapani. Nilai seinbilan untuk pelajaran kesenian selalu milik pria itu, namanya Mahar.</p>
<p class="MsoNormal"><font color="#993399"><strong><br />
Laskar Pelangi, Andrea Hirata, hal: 103-125</strong></font></p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/banihamzah.wordpress.com/38/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/banihamzah.wordpress.com/38/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/banihamzah.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/banihamzah.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/banihamzah.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/banihamzah.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/banihamzah.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/banihamzah.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/banihamzah.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/banihamzah.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/banihamzah.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/banihamzah.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/banihamzah.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/banihamzah.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/banihamzah.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/banihamzah.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banihamzah.wordpress.com&amp;blog=1024677&amp;post=38&amp;subd=banihamzah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banihamzah.wordpress.com/2007/12/07/laskar-pelangi-langit-ketujuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/558ad7150985cb5d32df90ab2473eaa0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">banihamzah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Islamic Worldview</title>
		<link>http://banihamzah.wordpress.com/2007/05/25/islamic-worldview/</link>
		<comments>http://banihamzah.wordpress.com/2007/05/25/islamic-worldview/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 May 2007 16:24:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>banihamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banihamzah.wordpress.com/2007/05/25/islamic-worldview/</guid>
		<description><![CDATA[*Ini ada artikel berharga dari acara &#8220;Understanding Syariah Course&#8221; yang saya ikuti dua pekan lalu di FH UGM. Semoga bermanfaat Islamic worldview Menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam memiliki worldview (pandangan alam/pandangan hidup) yang berbeda dengan pandangan hidup agama/peradaban lainnya. Al-Attas menjelaskan sejumlah karakteristik pandangan hidup Islam, antara lain: (1) berdasarkan kepada wahyu; (2) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banihamzah.wordpress.com&amp;blog=1024677&amp;post=35&amp;subd=banihamzah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>*Ini ada artikel berharga dari acara &#8220;Understanding Syariah Course&#8221; yang saya ikuti dua pekan lalu di FH UGM. Semoga bermanfaat <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="center"><strong>Islamic worldview</strong></p>
<p>	Menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam memiliki worldview (pandangan alam/pandangan hidup) yang berbeda dengan pandangan hidup agama/peradaban lainnya. Al-Attas menjelaskan sejumlah karakteristik pandangan hidup Islam, antara lain: (1) berdasarkan kepada wahyu; (2)  tidak semata-mata merupakan pikiran manusia mengenai alam fisik dan keterlibatan manusia dalam sejarah, sosial, politik, dan budaya; (3) tidak bersumber dari spekulasi filosofis yang dirumuskan berdasarkan pengamatan dan pengalaman inderawi; (4) mencakup pandangan tentang dunia dan akhirat.</p>
<p>Jadi, menurut al-Attas, pandangan hidup Islam adalah visi mengenai realitas dan kebenaran (<em>the vision of reality and truth</em>), atau pandangan Islam mengenai eksistensi (<em>ru’yat al-Islam lil wujud</em>).  Al-Attas menegaskan, bahwa pandangan hidup Islam bersifat final dan telah dewasa sejak lahir. Islam tidak memerlukan proses ’pertumbuhan’ menuju kedewasaan mengikuti proses perkembangan sejarah. Jadi, karakteristik pandangan hidup Islam adalah sifatnya yang final dan otentik sejak awal. Ini sangat berbeda dengan sifat agama-agama lainnya maupun kebudayaan/peradaban umat manusia yang berkembang mengikuti dinamika sejarah. <span id="more-35"></span></p>
<p>Pandangan hidup Islam terbentuk dari serangkaian pemahaman tentang konsep-konsep pokok dalam Islam, seperti konsep Tuhan, konsep kenabian, konsep agama, konsep wahyu, konsep manusia, konsep alam, dan konsep ilmu. Seluruh elemen itu terkait satu dengan lainnya, dan konsep Tuhan menjadi landasan bagi konsep-konsep lainnya.</p>
<p align="center"><strong>Adian Husaini, MA</strong><br />
(Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia/Dosen Pasca Sarjana PSTTI-Universitas Indonesia)</p>
<p><font color="#3333ff"><big>Download Artikel Lengkap =&gt; </big></font><a href="http://banihamzah.files.wordpress.com/2007/05/islamicworldview_ugm.doc" title="islamicworldview_ugm.doc">islamicworldview_ugm.doc</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/banihamzah.wordpress.com/35/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/banihamzah.wordpress.com/35/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/banihamzah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/banihamzah.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/banihamzah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/banihamzah.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/banihamzah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/banihamzah.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/banihamzah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/banihamzah.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/banihamzah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/banihamzah.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/banihamzah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/banihamzah.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/banihamzah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/banihamzah.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banihamzah.wordpress.com&amp;blog=1024677&amp;post=35&amp;subd=banihamzah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banihamzah.wordpress.com/2007/05/25/islamic-worldview/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/558ad7150985cb5d32df90ab2473eaa0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">banihamzah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Teori Pengaruh&#8221; Terhadap Islam</title>
		<link>http://banihamzah.wordpress.com/2007/05/07/teori-pengaruh-terhadap-islam/</link>
		<comments>http://banihamzah.wordpress.com/2007/05/07/teori-pengaruh-terhadap-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2007 07:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>banihamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Globalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banihamzah.wordpress.com/2007/05/07/teori-pengaruh-terhadap-islam/</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: insistnet.com  Sebagian kalangan Muslim, akhir-akhir ini ada yang berpendapat, bahwa kaum Muslim tidak perlu bersikap apriori terhadap hal-hal yang asing. Islam tidak perlu takut diinfiltrasi oleh pemikiran Barat modern, Kristen, atau Yahudi. Sebab, menurut mereka, sejak awal mula kelahirannya, Islam memang sudah diinfiltrasi oleh Kristen-Yahudi. Buktinya, dalam al-Quran ada cerita tentang Maryam, Bani Israel, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banihamzah.wordpress.com&amp;blog=1024677&amp;post=32&amp;subd=banihamzah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sumber: <a href="http://www.insistnet.com">insistnet.com </a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sebagian kalangan Muslim, akhir-akhir ini ada yang berpendapat, bahwa kaum Muslim tidak perlu bersikap apriori terhadap hal-hal yang asing. Islam tidak perlu takut diinfiltrasi oleh pemikiran Barat modern, Kristen, atau Yahudi. Sebab, menurut mereka, sejak awal mula kelahirannya, Islam memang sudah diinfiltrasi oleh Kristen-Yahudi. Buktinya, dalam al-Quran ada cerita tentang Maryam, Bani Israel, dan sebagainya. Jadi, wajar saja, jika Islam kemudian juga terus menyerap unsur-unsur asing dalam dirinya, seperti penerapan hermeneutika untuk tafsir al-Quran.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Untuk memahami duduk masalahnya, ada baiknya kita tinjau, latar belakang sejarah perkembangan ‘teori pengaruh’ ini di kalangan<span>  </span>orientalis dan misionaris Kristen. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Menurut orientalis terkenal dalam studi al-Quran, Andrew Rippin, adalah Abraham Geiger (seorang rabbi Yahudi di Jerman), orang pertama yang menggunakan pendekatan ilmiah terhadap Islam. Yang dimaksud dengan ilmiah adalah ‘Teori Pengaruh Asing’ kepada Islam. Geiger menulis sebuah buku <em>“What did Muhammad Borrow from Judaism?” </em></span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><span>.     <span id="more-32"></span>          </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><span style="font-family:Tahoma;">Theodor Noldeke, seorang Pendeta di Jerman dan juga dedengkot orientalis dalam studi historisitas al-Qur&#8217;an, memuji usaha Geiger dengan mengatakan:  <em>&#8220;We want, for example, an exhaustive classification and discussion of all the Jewish elements in the </em></span><em><span style="font-family:Tahoma;">Koran; a praiseworthy beginning has already been made in Geiger&#8217;s youthful essay Was hat Mahomet aus dem Judenthum aufgenommen?&#8221;</span></em><span>            </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><span></span><span style="font-family:Tahoma;">Murid Noldeke, bernama Friedrich Schwally, mengkritik pendapat gurunya. Menurut Schwally, yang lebih berpengaruh terhadap Islam adalah Kristen, dan<span>  </span>bukan Yahudi. C. C. Torrey, seorang profesor di Universitas Yale, Amerika Serikat, mempertahankan pendapat Geiger. Torrey membahas secara panjang lebar mengenai pengaruh Yahudi dalam Islam dalam karyanya “<em>The Jewish Foundation of Islam”</em>.</span><span>           </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><span></span><span style="font-family:Tahoma;">Menyibukkan diri untuk menjawab pertanyaan, mana yang lebih banyak pengaruhnya kepada Islam, Yahudi atau Kristen,  Prof. MacDonald mengkritik karya </span><span style="font-family:Tahoma;">Torrey dan mengajukan pertanyaan, “<em>Is Islam a Jewish or a Christian heresy”</em>?, apakah Islam itu penyimpangan dari Yahudi, atau dari Kristen? </span><span>           </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Namun, kemudian, ‘Teori Pengaruh’ ini dikembangkan lebih jauh lagi. Bahwa, kata para orientalis dan misionaris, Islam bukan hanya dipengaruhi oleh Yahudi dan Kristen, tetapi juga oleh unsur-unsur budaya. <span style="font-family:Tahoma;">Seorang Misionaris Inggris untuk Isfahan, W. St. Clair-Tisdall menegaskan bahwa Islam itu bukan bersumber dari ‘langit’, </span><span style="font-family:Tahoma;">tapi bersumber dari ragam agama dan budaya. Menurut Tisdall, konsep Islam tentang Tuhan, haji, cium hajar aswad, menghormati kabah, semuanya diambil dari budaya jahiliah. Shalat 5 waktu dari tradisi Sabian. Kisah Nabi Ibrahim, Sulaiman, Ratu Balqis, Harut Marut, Habil Qabil dari Yahudi. Ashabul Kahfi dan Maryam dari Kristen. Tidak ketinggalan dari Hindu dan Zoroastria, yaitu Isra&#8217; Mi&#8217;raj dan jembatan (<em>shirath</em>) di hari kiamat.</span><span>            </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><span></span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Para orientalis dan misionaris itu <span style="font-family:Tahoma;">terus memproduksi untuk </span>menyebarkan ‘T<span style="font-family:Tahoma;">eori Pengaruh’ tersebut, bahkan kemudian, ada sebagian kalangan Muslim yang ‘memungut’ teori tersebut dan disebarluaskan kepada kaum Muslim. Sayangnya, kadangkala, ia tidak menyebutkan sumbernya. S. Fraenkel menulis<span>  </span>buku <em>De Vocabulis in Antiquis </em></span><em><span style="font-family:Tahoma;">Arabum carminibus et in Corano peregrinis </span></em><span style="font-family:Tahoma;">(Mengenai kosa kata asing di dalam puisi Arab kuno dan di dalam al-Qur&#8217;an). Fraenkel juga menulis <em>Die Aramaischen Fremworter im Arabischen </em>(pengaruh Aramaik kepada bahasa Arab).</span><span>            </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><span></span><span style="font-family:Tahoma;">Hartwig Hirschfeld menegaskan bahwa kosa kata asing (<em>Fremdworter</em>) di </span><span style="font-family:Tahoma;">dalam al-Qur&#8217;an menunjukkan Islam itu tidak orisinal. Hirshfeld mengatakan: &#8220;<em>One of the principal difficulties before us is… to ascertain whether an idea or expression was Muhammad&#8217;s spiritual property or borrowed from elsewhere, how he learnt it and to what extent it was altered to suit his purposes&#8221;. </em></span><span>           </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><span></span><span style="font-family:Tahoma;">Arthur Jeffery mengamini pendapat yang umum dikalangan para orientalis itu. Memang, al-Qur&#8217;an terpengaruh berbagai bahasa asing seperti Ethiopia, Aramaik, Ibrani, Syriak, Yunani kuno, Persia dan bahasa lainnya. Jeffery menyebutkan adanya 275 kosa kata asing di dalam al-Qur&#8217;an (<em>Foreign Vocabulary of the Qur&#8217;an</em>). Melanjutkan &#8220;Teori Pengaruh&#8221;, Christoph Luxenberg (nama samaran), menyatakan bahwa bahasa al-Quran sebenarnya berasal dari bahasa Syriac (Syro-Aramaik).</span><span>           </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><span style="font-family:Tahoma;">Dengan bahasa puitis Arnold mengatakan: “Islam lahir di gurun pasir, ibunya Sabean Arab, ayahnya Yahudi, dan perawat yang mengasuhnya adalah Kristen Timur.” </span><br />
<span style="font-family:Tahoma;">Senada dan seirama dengan Arnold,<span>  </span>Samuel Zwemer (pernah berkunjung ke </span><span style="font-family:Tahoma;">Indonesia tahun 1922 sebagai seorang misionaris level internasional, pendiri dan penggagas jurnal misionaris The Moslem World serta perancang terkemuka berbagai konferensi misionaris internasional) menyimpulkan bahwa Islam bukanlah sebuah kreativitas, namun sebuah cangkokan (<em>concoction</em>); tidak ada yang mulia mengenainya kecuali Muhammad yang genius mencampurkan unsur-unsur lama di dalam obat </span><span style="font-family:Tahoma;">mujarab baru untuk penyakit manusia dan memaksanya dengan menggunakan </span><span style="font-family:Tahoma;">pedang. Ia menulis buku “</span></span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Islam:<span>  </span>A Challenge to Faith” </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">(terbit pertama tahun 1907).</span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><span>            </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><span style="font-family:Tahoma;">Teori Pengaruh’ terus diperluas ke bidang-bidang yang ada di dalam Studi Islam seperti filsafat, usul fikh, kalam, sufi, syariah, tafsir, dan sebagainya. Semua itu, kata mereka, juga terpengaruh dengan Yahudi-Kristen. John Wansbrough, misalnya, berpendapat historisitas tafsir serupa dengan dengan apa yang terjadi di agama Yahudi. Ia selanjutnya menggunakan istilah <em>haggadic, halakhic </em>dan <em>masoretic exegesis</em>. Filsafat al-</span><br />
<span style="font-family:Tahoma;">Kindi, Ibn Sina, Ibn Rushd, Ikhwanus Safa, diambil dari tradisi Neo-Platonik dan Aristote. Bahkan sekalipun al-Kindi dan al-Ghazali mengkritik teori penciptaan alam, maka kritik al-Kindi dan al-Ghazali itu pun, kata mereka, diambil dari Philoponus. Teori Usul Fikh diambil dari logika Aristoteles. Kalam Asy’ari apalagi Mutazilah berasal dari filsafat Yunani. Sufi berasal dari Neo-Platonik. <em>Nihil novum sub sole</em>!<span>  </span>(Nothing is new under the sun). Mereka juga mengklaim, bahwa infiltrasi terhadap Islam, dari versi Yahudi dan Kristen, sudah ada sejak Islam muncul. Makanya, Muhammad itu bukan ummi. Ia membuat ajaran Islam dari apa yang ia baca dan dengar.</span><span>           </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Untuk menyebarluaskan pola pikir semacam itu, maka para orientalis dan misionaris itu juga membuat jurnal, ensiklopedia, bahkan universitas-universitas. Khususnya s<span style="font-family:Tahoma;">tudi tentang Islam dalam versi dan cara pandang mereka. Berdirilah, misalnya,<span>  </span>Fakultas School of Oriental Studies, di American University, Kairo pada tahun 1921. Fakultas ini dirancang dan digagas di United Kingdom pada tahun 1910, oleh Zwemer dan kawan-kawan. Kairo dipilih karena pusat literatur dan peradaban arab ada di situ. Datanglah Snouck Hugronje ke Mekkah dan bergaul dengan para shaikh disana. Terbitlah berbagai Jurnal level internasional yang sibuk mengkaji Islam. Berdirilah berbagai pusat studi Islam di Eropa dan Amerika. Dikirimlah calon para pemikir Muslim dengan berbagai santunan, beasiswa untuk belajar tentang Islam. </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><span>            </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><span></span>Kita tidak perlu apriori terhadap semua yang datang dari luar Islam. Al-Quran telah memberikan contoh, bagaimana menyebutkan hal-hal yang sama dengan yang ada dalam tradisi Kristen, Yahudi, bahkan jaihiliyah Arab, tetapi al-Quran memberikan konsep baru dan sekaligus mengkritik keras berbagai konsep Yahudi-Kristen. Jika Yahudi-Kristen menggambarkan dalam Bible mereka, bahwa Daud dan Luth adalah pezina kelas berat, maka al-Quran menyebutkan, bahwa mereka adalah nabi-nabi Allah<span>  </span>yang saleh. Para ulama kita sudah maklum akan hal ini. Bahkan, para ulama Islam, pun selama berabad-abad telah melakukan usaha-usaha kritis dalam mengkaji dan mengadopsi unsur-unsur asing, tanpa membongkar hal-hal yang asasi dalam Islam. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><span>           </span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><span></span>Tetapi, pola kajian orientalis-misionaris biasanya mencoba mengaburkan banyak hal. Pendekatan historis-kritis yang sudah sangat mapan dalam tradisi kajian Bible dikacaukan dengan konsep ‘asbab an-nuzul’ dalam kajian al-Qur&#8217;an. Dalam kajian sejarah, konsep ‘teokrasi’ Kristen dikacaukan dengan konsep ‘khilafah’ Islam. Bahkan, kajian ‘Textual Criticism’ terhadap Bible juga kemudian diaplikasikan terhadap ‘al-Quran’. Ujung-ujungnya, adalah membongkar konsep al-Quran sebagai kalam Allah. Seolah-olah, semua itu, menggambarkan apa yang disabdakan Rasululah saw, jika ‘Yahudi-Nasrani’ masuk ke lobang biawak, maka Muslim pun ikut juga. Jika mereka merusak agama mereka sendiri, ada saja kalangan Muslim yang ikut-ikutan. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><span></span>Berderet karya-karya sarjana Bible yang mengkaji secara kritis tentang otentisitas teks-teks Bible. <span style="font-family:Tahoma;">Banyak karya bisa dirujuk, seperti karya Prof. Bruce M. Metzger: <em>The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption and Restoration. Juga karyanya, A Textual Commentary on the Greek New Testament, dan juga The Canon of </em></span><em><span style="font-family:Tahoma;">the New Testament: Its Origin, Development and Significance.  </span></em><span>     </span><span style="font-family:Tahoma;">Begitu juga karya Robert R. Wilson: <em>Sociological Approaches to the Old Testament dan Edgard Krentz, The Historical-Critical Method. </em></span><span>           </span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><span style="font-family:Tahoma;">Pendekatan-pendekatan tersebut telah digunakan oleh Theodor Noldeke, F. </span><span style="font-family:Tahoma;">Schwally, Gotthelf Bergstrasser, Otto Pretzl, Edward Sell, Arthur Jeffery, John Wansbrough, dan lain-lain. Sell, misalnya, mengelaborasi gagasannya tentang studi kritis </span><span style="font-family:Tahoma;">historisitas al-Qur&#8217;an di dalam karyanya <em>Historical Development of the Qur&#8217;an </em>yang diterbitkan pada tahun 1909 di Madras, India. Sell menyeru kalangan misionaris Kristen ketika mengkaji Islam, supaya fokus kepada historitas al-Qur&#8217;an. Menurut Sell, kajian kritis-historis al-Qur&#8217;an bisa dilakukan dengan menggunakan metodologi analisa bibel (<em>Biblical criticism</em>). Merealisasikan idenya, Sell sendiri sudah menggunakan metodologi <em>higher criticism</em>.</span><span>           </span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><span style="font-family:Tahoma;">Sebelum Sell, Noldeke, ikut lomba penulisan essai tentang kritis-historis al-Qur&#8217;an, yang diadakan di Paris dan ia menang.  Saat itu, ia masih berumur 20 tahun. Karyanya <em>Geschichte des Qorans </em>(Sejarah al-Qur&#8217;an) dipublikasikan tahun 1860. Karya ini selanjutnya dilengkapi oleh F. Schwally, Bergstrasser, dan Pretzl. Mereka menyelesaikan buku kritis-historis al-Qur&#8217;an selama kurang lebih 68 tahun. </span><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><span></span><span style="font-family:Tahoma;">Jeffery ikut juga mengaplikasikan pendekatan-pendekatan tersebut. Hasilnya, Jeffery ingin menggagas al-Qur&#8217;an edisi kritis (<em>a critical edition of the Koran</em>). Jeffery mengatakan: <em>&#8220;What we needed, however, was a critical commentary which should embody the work done by modern Orientalists as well as apply the methods of modern critical research to the elucidation of the Koran&#8221;.</em></span><span>           </span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Latar belakang sejarah dan pemikiran ini perlu dipahami, agar dipahami, bahwa usaha untuk ‘meruntuhkan’ bangunan Islam tidaklah pernah berhenti. Dari bentuk yang sangat kasar, seperti yang dilakukan Salman Rushdi, sampai yang sangat halus, melalui infiltrasi pemikiran berbaju Islam. Tentu akan berbeda dampaknya, jika propagandis ‘Teori-Pengaruh’ itu adalah Geiger yang Yahudi dengan ‘Abdul’ ‘yang <em>nongkrong </em>di organisasi Islam. Meskipun sumbernya dia-dia juga. Wallahu a’lam.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/banihamzah.wordpress.com/32/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/banihamzah.wordpress.com/32/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/banihamzah.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/banihamzah.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/banihamzah.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/banihamzah.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/banihamzah.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/banihamzah.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/banihamzah.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/banihamzah.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/banihamzah.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/banihamzah.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/banihamzah.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/banihamzah.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/banihamzah.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/banihamzah.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banihamzah.wordpress.com&amp;blog=1024677&amp;post=32&amp;subd=banihamzah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banihamzah.wordpress.com/2007/05/07/teori-pengaruh-terhadap-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/558ad7150985cb5d32df90ab2473eaa0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">banihamzah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Politik Pemikiran</title>
		<link>http://banihamzah.wordpress.com/2007/05/07/politik-pemikiran/</link>
		<comments>http://banihamzah.wordpress.com/2007/05/07/politik-pemikiran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2007 06:44:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>banihamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banihamzah.wordpress.com/2007/05/07/politik-pemikiran/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika segelintir ulama dan cendekiawan Muslim menolak RUU APP, mereka tidak hanya membenarkan gambar-gambar dan tarian atau goyang tabu (baca porno), atau bicara halal haram, moralitas atau akhlak bangsa. Mereka tengah memasarkan paham relativisme, hedonisme dan kebebasan (liberalisme). Ketika Aminah Wadud menjadi imam Jumat di sebuah gereja di Amerika, ia tidak sedang mengaplikasikan ijtihad Fiqhiyyahnya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banihamzah.wordpress.com&amp;blog=1024677&amp;post=31&amp;subd=banihamzah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Ketika segelintir ulama dan cendekiawan Muslim menolak RUU APP, mereka tidak hanya membenarkan gambar-gambar dan tarian atau goyang tabu (baca porno), atau bicara halal haram, moralitas atau akhlak bangsa. Mereka tengah memasarkan paham relativisme, hedonisme dan kebebasan (liberalisme). Ketika Aminah Wadud menjadi imam Jumat di sebuah gereja di Amerika, ia tidak sedang mengaplikasikan ijtihad Fiqhiyyahnya. Ia tengah memasarkan paham gender dan feminisme. Pernyataan seorang anak muda Muslim “semua agama sama benarnya”, “tidak ada syariat Islam, tidak ada hukum Tuhan”, bukan pernyataan tentang teologi atau syariat Islam, tapi pelaksanaan proyek globalisasi biaya tinggi. Buku berjudul “Fiqih Lintas Agama” yang terbit dua tahun silam, bukan buku bacaan tentang Fiqih, tapi buku “pesanan” untuk proyek pluralisme agama. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Betulkah mereka bermaksud begitu? Tentu tidak menurut mereka. Tapi betul menurut teori pemikiran Barat postmodern. Dalam bahasa Gadamer itu disebut <em>effective historical consciousness </em>(kesadaran kesejarahan yang efektif). Mereka memahami realitas segala sesuatu sebatas ruang dan waktu kekinian saja. Mungkin, secara pejoratif bisa disebut <em>ghirah tarikhiyyah, </em>yang tidak sejalan bahkan menggeser dan menggusur <em>ghirah diniyyah atau semangat keberagamaan.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Menurut bacaan Habermas memang betul begitu. Sebab segala sesuatu harus dipahami berdasarkan motif kepentingan sosial (<em>social interest</em>) yang melibatkan kepentingan kekuasaan (<em>power interest</em>). Pemahaman seperti ini sudah sangat jamak dikalangan aktifis liberal dan postmodernis. Mereka sendiri memahami Islam dengan cara yang sama. Islam bagi mereka adalah produk dari sebuah kepentingan dan kekuasaan. Dan karena itu mereka tidak merasa bersalah jika memahami Islam juga untuk kepentingan tertentu. Itulah yang, kalau boleh saya katakan, politik pemikiran. <span id="more-31"></span></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Benarkah pemikiran liberal itu sarat kepentingan? Benar ! sebab liberal adalah posmodernis dan posmodernis, tulis Akbar S Ahmed, adalah pendukung pluralisme, anti fundamentalisme, banyak protes terhadap tradisi, dan cara berfikirnya eklektik (Akbar S. Ahmed, <em>Postmodernism</em>). Pemikiran bukan untuk pengetahuan, tapi untuk kepentingan (kekuasaan atau politik). Buktinya dari pemikiran mereka tiba-tiba menggalang komunitas, gerakan sosial dan bahkan menjelma menjadi <em>pressure group. </em>Demi “memasarkan” paham pluralisme agama, misalnya, pertama-tama mereka menolak adanya kebenaran mutlak, yang ada hanya kebenaran relatif. Kepentingannya adalah untuk menghilangkan fundamentalisme dan sikap merasa benar. Inilah politik pemikiran.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Politik Pemikiran </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Karena itu adalah politik pemikiran, tak heran jika aktifisnya pun menjadi militan dan terkadang emosional. Substansi pemikirannya sarat dengan muatan politik, buktinya ia bersifat responsif dan akomodatif terhadap suatu kepentingan ideologi tertentu (baca: Barat). Niatnya, nampak <span> </span>tidak tulus karena sikap apriori dan kritis mereka terhadap tradisi pemikiran Islam lebih menonjol ketimbang terhadap Barat. Konsep-konsepnya sulit untuk dikategorikan ke dalam gerakan pembaharuan pemikiran Islam karena sifatnya lebih cenderung destruktif daripada konstruktif. </span></p>
<p style="background:white 0 50%;text-align:justify;" class="onepubtitle1"><span style="font-weight:normal;font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Ketika suatu pemikiran bernuansa politik, aktifitasnya hampir tidak beda dari gerakan politik. Media grafis, media elektronik, film, musik, aksi sosial dan berbagai media lainnya menjadi kendaraan.<span>  </span>Pemikiran bukan di dakwahkan, tapi “dijual” ketengah masyarakat untuk suatu kepentingan. Ketika pemikiran bernuansa politik, pernyataan tentang suatu gagasan selalu bermakna ganda. Antara ucapan, ungkapan atau pernyataan bisa berbeda dari makna yang dimaksud. Bahkan terkadang, mengikuti gaya Derrida, makna yang sudah mapan di dekonstruksi sehingga menjadi bermakna baru. </span></p>
<p style="background:white 0 50%;text-align:justify;" class="onepubtitle1"><span style="font-weight:normal;font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Untuk mendekonstruksi institusi agama, diperkenalkanlah teori dualisme dan relativisme: agama dan pemikian keagamaan adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama absolut dan yang kedua relatif. Pemikiran ini secara politis ditujukan untuk memberantas sikap-sikap keagamaan ekslusif, fundamentalis dan absolutis. Jika dualisme pemikiran dianut, maka semua pemikiran keagamaan akan menjadi relatif, yang mutlak hanyalah agama dan yang tahu agama hanya Tuhan. Siapapun boleh berfikir tentang apapun dalam soal agama. Tidak ada kebenaran mutlak, tidak ada yang berhak menyalahkan pemikiran orang lain, tidak ada yang bisa mencegah kemunkaran. Tidak ada lembaga atau kelompok yang boleh mengeluarkan fatwa-fatwa keagamaan. Baik buruk, salah benar tergantung kepada individu. Semua bebas. Inilah politik pemikiran. Jika target ini tercapai, maka paham teologi global (<em>global theology</em>) atau teologi dunia (<em>world theology</em>) akan menemukan jalannya menembus semua agama. Inilah kepentingan politik pemikiran itu. </span></p>
<p style="background:white 0 50%;text-align:justify;" class="onepubtitle1"><span style="font-weight:normal;font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kalaupun tidak dengan teori dekonstruksinya Derrida, mereka menggunakan metode aliran sophist (<em>indiyah, la adriyah dan inadiyah</em>). Ketika argumentasi mereka tentang kebebasan menafsirkan agama dengan sebebas-bebasnya mulai nampak lemah, misalnya mereka berkelit dan berlindung dibawah prinsip-prinsip HAM. Ketika ide feminisme tidak bisa mendekonstruksi Fiqih, mereka menggunakan dalih perlunya persamaan dan pemberantasan penindasan dan pelecehan terhadap wanita.<span>  </span>Targetnya sama, agar di masyarakat tidak ada lagi yang mempunyai otoritas. Tidak ada yang bisa berkuasa karena agama dan agar agama tidak mengisi ruangan publik. </span></p>
<p style="background:white 0 50%;text-align:justify;" class="onepubtitle1"><span style="font-weight:normal;font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Jika dibaca dengan cermat buku-buku seperti <em>Clash of Civilizations</em>, karya S.Huntington, <em>Who Are We</em>, karya Bernad Lewis, <em>When Religions Become Evil, </em>karya Richard Kimbal, <em>The End of History,</em> karya Fukuyama, <em>Islam Unveiled: Disturbing Question About the World’s Fastest-Growing Faith</em>, karya Robert Spencer dan lain-lain mengandung fakta-fakta pemikiran yang berimplikasi politik. Yang kurang kritis bisa saja menilai buku-buku itu dengan sikap positif. Mungkin alasannya karena asumsinya baru, analisasnya tajam, argumentasinya valid, pertanyaan-pertanyaannya menantang untuk dijawab dan lain sebagainya. Tapi jika ia mencermati implikasi politik dalam semua asumsi, analisa dan argumentasinya maka ia akan menilai dengan sikap sebaliknya. </span></p>
<p style="background:white 0 50%;text-align:justify;" class="onepubtitle1"><span style="font-weight:normal;font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Karena tidak semua orang dapat menemukan hubungan antara pemikiran dan target politis dibaliknya, maka tidak heran jika diantara umat Islam ada yang bersikap apatis terhadap wacana-wacana pemikiran yang dikenal “liberal” itu. <span> </span>Padahal pemikiran yang politis itulah yang menjadi bahan kekibijakan strategis. </span></p>
<p style="background:white 0 50%;text-align:justify;" class="onepubtitle1"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dari Pemikiran ke Strategi </span></p>
<p style="background:white 0 50%;text-align:justify;" class="onepubtitle1"><span style="font-weight:normal;font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Untuk mengetahui bagaimana sebuah pemikiran berubah menjadi kebijakan strategis, kita rujuk sebuah buku yang berjudul <em>Civil Democratic Islam, Partners, Resources and Strategies</em>, (2003), ditulis oleh Cheryl Bernard. Buku ini membahas tentang politik perang pemikiran atau strategi dan taktik pemikiran yang perlu dilakukan Barat untuk menghadapi umat Islam pasca 11 September. Targetnya untuk melawan sesuatu yang tidak jelas “terorisme dan fundamentalisme” dalam Islam. Bahkan setelah menulis buku ini ia menulis buku lain berjudul “<em>U.S.</em><em> Strategy in the Muslim World After 9/11 </em>(2004),<span>  </span><em>The Muslim World After 9/11</em> (2004), dan <em>Three Years After: Next Steps in the War on Terror</em> (2005). Sudah tentu tulisan-tulisannya itu merujuk kepada pemikiran, pandangan dan gambaran tentang ummat Islam yang ditulis oleh cendekiawan sebelumnya. Jargon <em>science for science</em>, yang konon dipegang Barat secara konsisten ternyata tidak.<span>  </span>Karya-karya tentang Islam yang diwarnai oleh bias kultural dan sentimen keagamaan, misalnya digunakan untuk kepentingan eksploitasi dan bahkan kilonialisasi. Pemikiran sekularisme, demokrasi, liberalisme yang di suntikkan kedalam pemikiran ummat Islam bukanlah murni pemikiran, ia telah berubah bentuk menjadi politik pemikiran. Pemikiran ini tidak menjadi ilmu tapi menjelma menjadi kebijakan politik.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span></p>
<p style="background:white 0 50%;text-align:justify;" class="onepubtitle1"><span style="font-weight:normal;font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Cheryl Bernard adalah sosiologis yang pernah menulis novel-novel feminis yang memojokkan ulama dan menyatakan wanita dalam Islam itu tertindas. Jilbab menurutnya diambil dari pemahaman yang salah terhadap al-Qur’an, dan merupakan simbol pemaksanaan dan intimidasi. Suaminya adalah Zalmay Khalilzad, blasteran Afghan-Amerika yang menjadi asisten khusus Presiden George W Bush dan Ketua Dewan Keamanan Nasional (National Security Council (NSC) khusus untuk teluk Persia dan Asia Barat-Daya. Selain itu ia pada tahun 1980 bekerja dibawah Paul Wolfowitz pada Policy Planning Council. Pada saat terjadi perang terhadap Iraq tahun 1991, Zalmay menjadi sekretaris menteri pertahanan. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Cheryl Bernard menulis ini dibawah proyek penelitian sebuah lembaga swadaya masyarakat di Amerika lembaga itu bernama Rand Corporation. Sebuah lembaga riset yang mengklaim sebagai lembaga independen yang membuat “analisa obyektif dan solusi efektif terhadap persoalan yang dihadapi oleh masyarakat ataupun individu diseluruh dunia”. Lembaga ini dibiayai oleh Smith Richardson Foundation. Di lembaga ini Cheril menulis untuk Divisi Riset Keamanan Nasional (<em>National Security Research Division</em>) dimana suaminya bekerja. Tujuan dari buku ini adalah untuk membuat suatu laporan dan usulan dalam rangka membantu kebijakan pemerintah Amerika, khususnya dalam soal pemberantasan ekstrimisme, dan pengembangan bidang sosial, ekonomi, politik melalui proses demokratisasi. Yang jelas divisi ini bertugas memberi saran-saran kepada pemerintah Amerika bagaimana menghadapi “fundamentalisme” dalam Islam dan menyebarkan pemikiran liberal ketengah-tengah umat Islam.<span>  </span></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sebuah saran tentunya berdasarkan pertimbangan dan dasar pemikiran tertentu. Pemikiran mana yang menjadi asasnya, ia pilih sejalan dengan kepentingannya. Berdasarkan pemikiran itu ia memberi masukan kepada pemerintah Amerika, pertama tentang nilai-nilai mana dalam Islam yang bisa diseret kedalam nilai-nilai Amerika. Kedua tentang peta masalah-masalah umat Islam dalam konteks nilai-nilai Amerika. Dan akhirnya muncullah saran-saran agar isu-isu seperti demokrasi dan HAM, poligami, hukuman bagi kriminalitas, keadilan, masalah minoritas, pakaian wanita, hak-hak suami-istri dsb. masuk kedalam pemikiran umat Islam. Saran-saran itu, seperti yang akan lihat dibawah ini,<span>  </span>dilaksanakan dengan baik di Indonesia. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Strategi Politik Pemikiran </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Politik pemikiran Cheryl nampak jelas ketika ia mengemukakan suatu strategi yang bertujuan untuk merobah dunia Islam agar sesuai dengan “tatanan” dunia internasional kontemporer, Amerika Serikat dan Barat. Tujuannya adalah:</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">To encourage positive change in the Islamic world toward greater democracy, modernity, and compatibility with the contemporary international world order, the United States and the West need to consider very carefully which elements, trends, and forces within Islam they intend to strengthen </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">(hal x)</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Karena tujuannya untuk mem-Barat-kan umat Islam, maka ia hanya memilih elemen-elemen dan nilai-nilai Islam yang sesuai dengan Barat saja untuk dikembangkan. Ini tentu untuk memuluskan jalannya modernisasi, westernisasi dan Amerikanisasi. Bahkan lebih praktis lagi Bernard menyarankan agar Barat memberikan “bantuan” bagi pengembangan nilai-nilai Barat tersebut kedalam pemikiran ummat Islam. Bantuan itu kini telah mengucur ke berbagai LSM-LSM di Indonesia.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Tidak hanya menyeret nilai-nilai Islam kedalam nilai-nilai Barat, Cheryl Bernard juga membuat kategori kelompok-kelompok umat Islam dengan bahasa kultural Barat. Kelompok Islam dalam laporan itu dibagi menjadi Muslim sekularis, Tradisionalis, fundamentalis dan modernis (dalam kelompok terakhir ini termasuk Muslim liberal). Muslim modernis misalnya, dinisbahkan kepada Muslim yang bekerja untuk Barat dan yang mendukung masyarakat demokratis modern. Sementara itu Muslim fundamentalis radikal </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">(<em>the radical fundamentalists</em>) adalah mereka yang anti demokrasi Barat, nilai-nilai Barat secara umum, dan Amerika Serikat khususnya; pokoknya tujuan dan visi kelompok ini tidak sesuai dengan Barat. Jadi standar klasifikasi ini adalah Barat, dan bukan berdasarkan realitas umat Islam. Memang, inilah strategi pemikiran. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dari pemikiran dan gambaran tentang umat Islam yang salah itu Cheryl mengusulkan saran-saran strategi pemikiran kepada pemerintah AS. <span> </span>Saran-saran strategis itu dibagi menjadi dua A. Dasar-dasar strategis dan B. akifitas khusus untuk mendukung strategis tsb</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Saran-saran strategis yang diberikan Cheryl kepada pemerintah AS adalah sbb: 1) Ciptakan tokoh atau pemimpin panutan yang membawa nilai-nilai modernitas 2) Dukung terciptanya masyarakat sipil (<em>civil society</em>) didunia Islam.3) Kembangkan gagasan Islam warna-warni, seperti Islam Jerman, Islam Amerika, Islam Inggeris dst. 4) Serang terus menerus kalompok fundamentalis dengan cara pembusukan person-personnya melalui media masa. 5) Promosikan nilai-nilai demokrasi Barat modern 6) Tantang kelompok tradisionalis dan fundamentalis dalam soal kemakmuran, keadilan sosial, kesehatan, ketertiban masyarakat dsb. 7) Fokuskan ini semua kepada dunia pendidikan dan generasi muda Muslim.<span>  </span></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Untuk memperkuat dan mempercepat pembangunan masyarakat sipil Islam yang demokratis dan modern Cheryl Bernard mengusulkan strategi sbb: 1) Dukunglah kelompok modernis, perluas visi mereka tentang Islam sehingga mengungguli kelompok tradisionalis. Kemudian angkat mereka secara publik sehingga menjadi figure Muslim kontemporer. 2) Dukunglah kelompok sekularis kasus per kasus. 3) Kembangkan lembaga-lembaga dan program-program sekuler<span>  </span>dibidang sosial dan kultural 4) Dukung kelompok tradisionalis secukupnya sekedar dapat berlawanan dengan fundamentalis dan dapat menghindari persatuan kedua kelompok ini. 5) Musuhi kelompok fundamentalis secara energik dengan menyerang kelemahan mereka dalam pemahaman dan ideologi keislaman mereka, seperti membuktikan korupsi, kebrutalan, kebodohan, bias mereka dan kesalahan mereka dalam mengamalkan Islam serta ketidak mampuan mereka dalam memimpin dan memerintah. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Untuk mendukung mendukung langkah-langkah strategis tersebut Cheryl juga memberikan saran-saran taktis sbb:</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">1) Pertama-tama dukung kelompok cendekiawan modernis (liberal). Dorong mereka menulis untuk publik dan anak muda. Terbitkan dan sebarkan kerja-kerja mereka dengan bantuan biaya. Masukkan ide-ide mereka ini kedalam kurikulum pendidikan Islam. Usahakan agar pandangan mereka tentang masalah-masalah mendasar dalam penafsiran agama dapat dibaca oleh masyarakat dan agar berkompetisi dengan kelompok fundamentalis dan tradisionalis. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">2) Dukung kelompok tradisionalis dalam menghadapi fundamentalis. Publikasikan kritik-kritik kelompok tradisionalis terhadap tindak kekerasan dan ektrimisme kelompok fundamentalis. Pupuk terus perselisihan antara tradisionalis dan fundamentalis, dan jangan sampai mereka bersatu. Upayakan agar pemikiran tradisionalis mendekati modernis. Kalau perlu didiklah kelompok tradisionalis agar dapat melawan fundamentalis. Fundamentalis biasanya lebih superior dalam retorika, tapi tradisionalis masih agak tertinggal. Tingkatkan jumlah kelompok modernis (liberal) dalam institusi tradisionalis.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">3. Hadapi dan lawan fundamentalis. Tantanglah penafsiran mereka tentang Islam dan tunjukkan ketidakakuratannya. Bongkar jaringan mereka dengan kelompok-kelompok illegal. Publikasikan segala konsekuensi dari tindak kekerasan mereka. Tunjukkan juga ketidak mampuan mereka untuk memimpin, untuk mencapai perkembangan positif bagi Negara dan masyarakatnya. Kemudian sebarkan hal ini kepada generasi muda, kepada masyarakat tradisionalis yang taat, minoritas Muslim di Barat dan kepada para wanita. Hindarkan rasa respek atau pemujaan terhadap kekerasan yang dilakukan kelompok fundamentalis, ekstrimis dan teroris. Juluki mereka sebagai pahlawan jahat, penakut dan tidak waras. Doronglah para wartawan untuk menginvestigasi korupsi, kemunafikan dan tindak amoral dalam kelompok fundamentalis dan teroris. Pecah belahlah kelompok fundamentalis. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">4. Dukunglah kelompok sekularis dengan secara hati-hati. Dorong kelompok ini agar mengakui fundamentalisme sebagai musuh bersama. Hindarkan agar kelompok sekularis ini tidak beraliansi dengan kekuatan anti AS yang didorong oleh nasionalisme atau ideologi kiri. Dukunglah ide bahwa dalam Islam agama dan Negara dapat dipisahkan dan ini tidak membahayakan keimanan tapi malah memperkuat keimanan. Posisikan sekularisme dan modernisme sebagai pilihan bagi ummat Islam. Upayakan agar dikalangan ummat Islam tumbuh kesadaran dan ketertarikan kepada sejarah dan kultur pra-Islam dan non-Islam. Bantulah kelompok ini<span>  </span>dalam mengembangkan organisasi sipil yang independent agar mereka dapat mengembangkan diri melalui proses politik. (hal.48)</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Lebih lanjut Cheryl Bernard memberi masukan tentang langkah praktis yang perlu dilakukan untuk mendukung strategi dan taktik diatas. Kegiatan-kegiatan yang ia usulkan adalah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">sbb: 1) Rebut atau rusaklah &#8220;monopoli&#8221; kelompok fundamentalis dan tradisionalis dalam menjelaskan dan menafsirkan Islam. 2) Cari kelompok modernis / liberal yang dapat membuat website yang menjawab berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan perilaku harian dan kemudian menawarkan pendapat Muslim modernis tentang hukum-hukumnya. 3) Doronglah cendekiawan Modernis / liberal untuk menulis buku teks dan mengembangkan kurikulum dan berilah bantuan finansial. 4) Gunakan media regional yang populer, seperti radio, untuk memperkenalkan pemikiran-pemikiran Muslim modernis / liberal agar membuat dunia internasional melek tentang apa arti Islam dan dapat berarti apa Islam itu.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Meski disini tidak dapat dihadirkan bukti bahwa Amerika menerima dan melaksankan saran-saran Cheryl Bernard, tapi kita bisa saksikan saran-saran Cheryl Bernard di implementasikan di Indonesia secara perlahan-lahan tapi pasti. Fenomenanya jelas. Muslim pendukung Barat dipromosikan media masa menjadi tokoh baru. Kini istilah <em>civil socity </em><span>sudah sering keluar mulut </span>cendekiawan Muslim dan <span>akrab ditelinga mahasiswa.<span>  </span>Konsep <em>civil socity </em></span>pun dianggap sepadan dengan konsep masyarakat madani. Modernis dan Liberal Muslim pendukung Barat adalah pembela aliran “sesat”, atau aliran-aliran sempalan. Muslim yang tidak sejalahn dengan liberal, sekuler, demokrasi Barat, akan segera dicap teroris, fundamentalis dan anti Barat. LSM-LSM kini tidak lagi berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, tapi lebih kepada pembaratan masyarakat. Proposal proyek untuk “mengekspor” kemiskinan masyarakat ke Negara-negara Barat tidak laku lagi. Sementara proposal untuk menjual paham masyarakat sipil, demokrasi, gender, liberalisme, pluralisme agama, multikulturalisme dan semacamnya tidak lagi mencari bantuan Barat, tapi dicari-cari Barat untuk dibantu. Bahkan yang paling keras mengkritik ajaran Islam dan tradisi pemikiran Islam serta membawa gagasan-gagasan “aneh” kini mudah mendapat dana dan biasiswa dari Barat. Inilah barangkali yang disindir <em>al-Baqarah</em> (Q.S. 2:41, 79, 173), <em>Ali Imran</em> (Q.S. 3:77,187, 199), <em>al-Mai’dah</em> (Q.S. 9:44),<span>  </span><em>al-Tawbah</em> (Q.S. 9:9) dan <em>al-Nahl</em> (Q.S. 16: 95).<span>  </span>sebagai “menjual” ayat-ayat Tuhan dengan harga murah. <em>Well done Mrs. Cheryl</em> !!</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/banihamzah.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/banihamzah.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/banihamzah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/banihamzah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/banihamzah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/banihamzah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/banihamzah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/banihamzah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/banihamzah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/banihamzah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/banihamzah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/banihamzah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/banihamzah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/banihamzah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/banihamzah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/banihamzah.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banihamzah.wordpress.com&amp;blog=1024677&amp;post=31&amp;subd=banihamzah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banihamzah.wordpress.com/2007/05/07/politik-pemikiran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/558ad7150985cb5d32df90ab2473eaa0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">banihamzah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Novel Ayat-ayat cinta (Kata Pengantar+Download Buku)</title>
		<link>http://banihamzah.wordpress.com/2007/04/26/novel-ayat-ayat-cinta-kata-pengantardownload-buku/</link>
		<comments>http://banihamzah.wordpress.com/2007/04/26/novel-ayat-ayat-cinta-kata-pengantardownload-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Apr 2007 06:31:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>banihamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Resesnsi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banihamzah.wordpress.com/2007/04/26/novel-ayat-ayat-cinta-kata-pengantardownload-buku/</guid>
		<description><![CDATA[Novel Budaya, Novel Reliji, atau Novel Cinta? Hadi Susanto Pemerhati Sastra dan Kandidat Doktor Twente Universiteit, Belanda SAYA mengenal nama Habiburrahman El Shirazy sebagai salah seorang pengasuh tanya-jawab masalah Islam di Pesantren Virtual, yang berbasis di Cairo. Suatu hari saya memberanikan diri untuk menanyakan sebuah masalah fiqih langsung kepadanya. Dari situ persaudaraan kami bermula dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banihamzah.wordpress.com&amp;blog=1024677&amp;post=25&amp;subd=banihamzah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Novel Budaya, Novel Reliji, atau Novel Cinta?</strong></p>
<p align="center"><strong>Hadi Susanto</strong><br />
<em>Pemerhati Sastra dan Kandidat Doktor<br />
Twente Universiteit, Belanda</em></p>
<p align="center"><a href="http://banihamzah.files.wordpress.com/2007/04/ayat2-cinta.jpg" title="ayat2-cinta.jpg"><img src="http://banihamzah.files.wordpress.com/2007/04/ayat2-cinta.thumbnail.jpg" alt="ayat2-cinta.jpg" /></a></p>
<p align="justify">SAYA mengenal nama Habiburrahman El Shirazy sebagai salah seorang pengasuh tanya-jawab masalah Islam di Pesantren Virtual, yang berbasis di Cairo. Suatu hari saya memberanikan diri untuk menanyakan sebuah masalah fiqih langsung kepadanya. Dari situ persaudaraan kami bermula dan menjadi semakin erat dan hangat.</p>
<p>Hingga akhirnya pembicaraan tidak hanya mengenai dunia fiqih, Tapi juga menyangkut tulis-menulis karena kebetulan kami berdua mengikuti sebuah organisasi kepenulisan yang sama (Forum Lingkar Pena). Walaupun demikian sampai saat ini kami belum pernah berjumpa.</p>
<p>Salah satu hal yang saya tangkap dari seorang Habiburrahman adalah semangat menulisnya yang sangat tinggi. Beberapa kali saya mendapat kehormatan untuk membaca dan memberikan saran terhadap tulisan-tulisannya yang akan diterbitkan. Pada kali kesekian saya terkejut dengan munculnya permintaan untuk menuliskan kata pengantar atas novelnya yang sekarang berada dalam genggaman Anda.<span id="more-25"></span></p>
<p>Pertama kali menerima manuskrip novel ini, saya sudah curiga terlebih dahulu bahwa novel ini adalah novel islami yang menaburkan pesan-pesan moral kepada pembaca secara `vulgar&#8217;. Sudah bukan barang baru jika saya menyebutkan ada permusuhan antara sastra sekuler dengan sastra islami. Pencinta sastra islami menuduh sastra sekuler sebagai sastra profan (menurut Kamus Merriam-Webster profane berarti `yang merendahkan atau menodai sesuatu yang suci&#8217;). Secara otomatis dalam pikiran kita akan berkelebat nama. Ayu Utami (Saman dan Larung) hingga nama baru Dinar Rahayu (Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch).</p>
<p>Sementara di sisi lain, Pencinta sastra sekuler menuduh sastra islami kchilangan nilai sastranya hingga buku sastra tidak lain adalah buku agama. Hal ini bisa dipahami jika kita,melihat bahwa banyak tulisan yang mengaku sebagai sastra islami menjadikan sastra sebagai alat berdakwah tetapi penulisnya lupa untuk menghias alat dakwah itu sendiri. Maka tersajilah pesan moral agama itu secara terbuka dan sangat jelas. Bagi sebagian kelompok orang, pesan-pesan seperti ini akan menjadi sesuatu yang vulgar.</p>
<p>Saya mengira akan menjumpai hal yang sama ketika membaca manuskrip novel ini. Namun ternyata sejak baris pertama saya terjerat pada kehalusan penulis dalam melukiskan suasana alam Mesir. Halaman pertama dibuka dengan penceritaan suasana Mesir di musim panas. Dari sini masuk tokoh utama yang dikenalkan kepada pembaca melalui rangkaian kegiatan sehari¬-hari tokoh Fahri. Penulis berhasil menjadikan tokoh Fahri hidup, bahkan kita seolah-olah menjadi Fahri dalam novel ini. Hal ini berhasil dicapai terutama karena penulis memakai penceritaan orang pertama. Cara pemaparan bergaya `aku&#8217; plus ketrampilan melukiskan keadaan-alam sekitar, seperti tersaji dalam novel ini, mengingatkan saya pada kampiun `pelukis suasana&#8217; yang terkenal, Karl May. Seorang kutu buku pasti akan mengenal Penulis Miunetou, Ketua Suku Apache MI.</p>
<p>Saya yakin Habiburrahman El Shirazy berhasil melukiskan suaasana kehidupan kota Mesir yang menjadi latar belakang cerita ini dengan begitu mengesankan karena ia mengalami sendiri hari¬-hari di kota-kota Mesir. Saya seperti melihat langsung Mesir dengan suasana panas 41 derajatnya. Saya seperti melihat mahattah atau stasiun-stasiun di sana. Gambaran rumah-rumahnya. Budaya masyarakatnya. Humor-humor yang digunakan orang Mesir. Dan banyak lagi yang lainnya. Saking berhasilnya penulis menghidupkan Fahri dan suasana di sekitarnya, saya sempat berpikir bahwa Fahri tidak lain adalah Habiburrahman El Shirazy sendiri. Sama persis, seperti saya dulu percaya bahwa Old Shatterhand adalah Karl May sendiri.</p>
<p>Membandingkan lebih jauh dengan Karl May, mungkin ada baiknya jika Penulis novel ini mencatumkan sebuah peta Mesir atau peta khusus kota Cairo sehingga pembaca lebih bisa menyelami di manakah Nasr City, Cairo, Maydan Husein, dan kota-kita lainnya yang disebut dalam novel.</p>
<p>Suasanayang dibangun juga diperkental dengan digunakannya bahasa Arab fssha (formal) maupun amiyah (informal) hampir dalam setiap paragrafnya. Dengan ini, catatan<br />
kaki-catatan kaki yang diberikan sangat membantu pembaca. Ungkapan-ungkapan dalam bahasa Arab pasaran yang digunakan di sana-sini berhasil membawa pembaca ke dalam setting novel. Warna daerah terbangun dengan baik. Di sini saya jadi teringat pada caturlogi kumpulan sketsa-sketsa Umar Kayam mulai dan Mangan ora Mangan Kumpul hingga Satria Piningit dari Kampung. Pembaca kumpulan sketsa Pak Kayam akan langsung. mengenal bahwa Pak Kayam orang Jawa yang tentu saja lancar berbahasa Jawa dan tinggal di kompleks perumahan orang-orang Jawa. Seperti itu juga, settap pembaca novel ini akin langsung mengenal bahwa penulisnya-minimal pernah-tinggal lama di Mesir, dan tentu saja lancar berbahasa Arab.</p>
<p>Sehubungan dengan ketakutan saya semula terhadap novel ini sebagai sastra islami dan juga sehubungan dcngan disebutnya novel ini sebagai novel pembangun jiwa, yang menarik adalah kemampuan penulis untuk menyisipkan pesan-pesan moral dalam ceritanya. Kemampuan penulis untuk menyampaikan dakwahnya sangat halus sebagai bagian dari cerita. Kehalusan ini sangat berarti untuk tidak menimbulkan perasaan pembaca bahwa dakwah itu sengaja diselipkan dengan terpaksa. Bahkan tanpa kita sadari ilmu fiqih dan akidah kita bertambah setelah kita mengikuti dialog-dialog yang disampaikan. Tidak main-main, sebagai novel pembangun jiwa, novel ini ditulis dengan menggunakan sepuluh rcferensi. Bahkan `hanya&#8217; untuk menuliskan adegan bertemunya Fahri dengan sahabat Nabi Imam lbnu Mas&#8217;ud dalam mimpi, penulis perlu mcndasarkan ceritanya pada Kitab Ar-Ruuh karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.</p>
<p>Karcna judul novel ini mengandung kata `cinta’ akan tidak lengkap rasanya jika kita tidak membahas kesan yang tertangkap bahwa novel ini merupakan novel romantis. Memang, novel ini juga novel asmara. Kehidupan Fahri diwarnai dengan kisah hubungan lelaki dan perempuan. Perasaan Fahri diceritakan dengan baik ketika ia harus menjadi rebutan tiga orang perempuan. Pada bagian cerita bulan madu Fahri dan Aisha jelas sekali digambarkan terjadinya adegan percintaan yang selalu merupakan bagian penting dari disebutnya novel asmara. Di sinilah kelebihan lain novel ini yang menceritakan hubungan suami-istri namun tidak terjatuh ke dalam kevulgaran.</p>
<p>Ditemani nasyid yang dinyanyikan oleh Sami Yusuf dalam judul Al-Muallim, Allahu, dan. Ya Mustafa yang saya putar berulang-ulang karena asyiknya, saya beberapa kali meneteskan air mata membaca novel ini. Beberapa bagian yang begitu indah, misalnya mimpi Fahri bertemu Ibnu Mas&#8217;ud mengingatkan saya pada kerinduan jiwa yang kotor ini terhadap Kekasih saya Al-Mu&#8217;allim Sang Guru Saw. Maka menjawab pertanyaan yang menjadi judul pengantar ini: inilah novel sastra yang berhasil memadukan dakwah, tema cinta dan latar belakang budaya suatu bangsa. Novel ini perlu menjadi acuan terutama bagi penulis `pemula&#8217; yang sangat bersemangat untuk menulis sastra islami. Dan akhirnya saya berharap semoga Anda menemukan kesan yang sama atau bahkan sesuatu yang lebih balk dari kehadiran novel ini, novel Ayat-ayat Cinta.</p>
<p align="right">Enschede, 10 Desember 2003</p>
<p><font color="#ff0000"><strong>Download Novel =&gt;<br />
1. </strong><a href="http://www.geocities.com/bani.hamzah/Ayat-ayat_cinta-part1-.pdf">Novel Ayat-Ayat Cinta 1</a><strong><br />
2. </strong></font><a href="http://www.geocities.com/bani.hamzah/Ayat-ayat_cinta-part2-.pdf"><font color="#ff0000">Novel Ayat-Ayat Cinta 2</font></a><br />
<font color="#ff0000"><strong><br />
</strong></font></p>
<p align="justify"><font color="#663366">!!! File di atas hanya sebagian kecil dari isi novel Ayat-ayat cinta yang sesungguhnya. Hal ini sengaja saya lakukan untuk memperkenalkan kepada masyarakat baik di Indonesia maupun seluruh dunia sebuah karya fenomenal anak bangsa. Ini adalah novel pertama islami yang mampu menyaingi penjuangan novel teenlit&#8230; Pemaparan sebagian isinya di blog ini sesungguhnya didorong oleh keinginan untuk mempublikasikannya ke khalayak luas sehingga mampu mendongkrak lebih tinggi penjualannya <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Begitu banyak yang meminjam buku berharga ini dan kecantol sehingga tak mampu menahan diri untuk tidak membelinya sebanyak 2 eksemplar-satu untuk koleksi pribadi dan yang satu untuk dihadiahkan. Ini merupakan bukti bahwa manusia selalu butuh penyiram jiwa di tengah keringnya kehidupan. Semoga yang saya lakukan tidak melanggar pasal 2 ayat 1 dan pasal 49 ayat 1 dan 2 Undang-undang hak cipta. Dan semoga bermanfaat.<br />
</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/banihamzah.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/banihamzah.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/banihamzah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/banihamzah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/banihamzah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/banihamzah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/banihamzah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/banihamzah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/banihamzah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/banihamzah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/banihamzah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/banihamzah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/banihamzah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/banihamzah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/banihamzah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/banihamzah.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banihamzah.wordpress.com&amp;blog=1024677&amp;post=25&amp;subd=banihamzah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banihamzah.wordpress.com/2007/04/26/novel-ayat-ayat-cinta-kata-pengantardownload-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/558ad7150985cb5d32df90ab2473eaa0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">banihamzah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://banihamzah.files.wordpress.com/2007/04/ayat2-cinta.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ayat2-cinta.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Politik Global Penjajahan Ekonomi Indonesia</title>
		<link>http://banihamzah.wordpress.com/2007/04/26/politik-global-penjajahan-ekonomi-indonesia/</link>
		<comments>http://banihamzah.wordpress.com/2007/04/26/politik-global-penjajahan-ekonomi-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Apr 2007 06:20:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>banihamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Globalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Islamic Studies]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banihamzah.wordpress.com/2007/04/26/politik-global-penjajahan-ekonomi-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[Abstrak Tantangan Global ummat Islam tidaklah terbatas pada nasib ummat Islam semata, namun pada seluruh kemanusiaan. Hal ini karena selain Islam tidak ada ideologi yang memiliki missi rahmat ke seluruh alam, yang tak cuma berorientasi manfaat untuk bangsa tertentu, apalagi elit tertentu. Karena itu strategi yang harus ditempuh ummat Islam harus pula strategi global yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banihamzah.wordpress.com&amp;blog=1024677&amp;post=21&amp;subd=banihamzah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong>Abstrak</strong></p>
<p>Tantangan Global ummat Islam tidaklah terbatas pada nasib ummat Islam semata, namun pada seluruh kemanusiaan. Hal ini karena selain Islam tidak ada ideologi yang memiliki missi rahmat ke seluruh alam, yang tak cuma berorientasi manfaat untuk bangsa tertentu, apalagi elit tertentu. Karena itu strategi yang harus ditempuh ummat Islam harus pula strategi global yang berdasarkan syara’. Pada tataran praktis, strategi itu baru dapat diimplementasikan secara sempurna oleh suatu negara global, yang dalam konsep syara’ dan dibuktikan oleh realita empiris sebagai negara Khilafah.</p>
<p>Islam adalah lawan abadi dari kekufuran. Yang dipandang sebagai musuh adalah kekufuran, dan berarti kekuatan yang mendukung implementasi, mempertahankan atau mempromosikan sistem kufur. Kalau kekufuran diibaratkan kemiskinan, maka Islam tidak memerangi orang-orang miskin an sich, namun memerangi kemiskinan, dan berarti orang-orang yang membuat kemiskinan terus terjadi, yaitu para tiran, orang-orang yang terus berbuat kerusakan (fasiq) dan orang-orang yang berlaku tidak adil (dhalim).</p>
<p>Perlawanan Islam terhadap kekufuran dan permusuhan kekufuran atas Islam akan terus terjadi.<br />
<span id="more-21"></span><br />
Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (Qs. 2:193)</p>
<p>Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo&#8217;a: &#8220;Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dan penolong dari sisi Engkau&#8221;. (Qs. 4:75)</p>
<p>Untuk antisipasi peperangan melawan kekufuran yang selalu mungkin terjadi itu, kaum muslimin diwajibkan menyiapkan segala kekuatan yang dapat menggentarkan musuh (QS 8:60), baik itu kekuatan iman, ilmu pengetahuan dan teknologi, malliyah, jasmaniyah, organisasi militer dan juga kekuatan dakwah. Seluruh potensi ummat diarahkan kepada peperangan tiada akhir melawan kekufuran, melawan sesuatu yang menghalangi missi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, dan missi muslim sebagai khalifatul fil ardh.</p>
<p><strong>Tantangan Global</p>
<p></strong>Kebobrokan sistem kapitalisme telah nyata, baik berupa kerusakan lingkungan, pemiskinan di dunia ketiga maupun disorientasi kehidupan pada masyarakat mereka sendiri, yang di antaranya tercermin dari peningkatan penggunaan narkoba dan angka bunuh diri. Orang jelata di Barat pun akhirnya merasakan sesuatu yang tidak benar dan tidak adil pada sistem yang diterapkan atas mereka. Mereka menyadari bahwa sistem itu hanya menguntungkan segelintir kecil elit mereka, yakni para kapitalis serta politisi yang merealisasi tujuan para kapitalis itu secara sah.</p>
<p>Namun kebobrokan ini telah dibungkus dengan amat rapi, dengan nama “globalisasi”. Globalisasi diakselerasi dengan kemajuan yang luar biasa dalam teknologi telekomunikasi dan informatika. Via teknologi ini gaya hidup Barat telah dijadikan gaya hidup dunia yang diharapkan mengerut menjadi “Global Village”, dengan budaya monokultur dari Barat. Gaya hidup “Coca Cola”, “Mc Donald” hingga Schmackdown diekspor ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, menggeser baik brand industri maupun kearifan lokal.</p>
<p>Para kapitalis Barat melobby para politisi di negeri-negeri berkembang yang memiliki sumber daya alam besar, baik muslim maupun bukan, agar mereka merubah politiknya ekonominya agar makin effisien dengan adanya pasar global, dan untuk itu harus “ramah” terhadap Barat. Para pelobby ini adalah professional berpenghasilan sangat tinggi yang menipu negara-negara di seluruh dunia triliunan dollar. Mereka menyalurkan uang dari Bank Dunia, USAID dan organisasi “bantuan” luar negeri lainnya menjadi dana korporasi-korporasi raksasa dan pendapatan beberapa keluarga kaya yang mengendalikan sumber-sumber daya alam planet bumi ini. Sarana mereka meliputi laporan keuangan yang menyesatkan, pemilihan yang curang, penyuapan, pemerasan, seks dan pembunuhan. Mereka memainkan permainan yang sama tuanya dengan kekuasaan, sebuah permainan yang telah menentukan dimensi yang baru dan mengerikan selama era globalisasi (Perkins, 2004).</p>
<p>Atas nama pasar bebas (WTO, AFTA, APEC), negeri-negeri ini telah membuka keran privatisasi yang luar biasa, termasuk dengan menjual asset-asset publik mereka kepada swasta asing, baik dengan alasan untuk membayar utang, maupun agar kompatibel dengan aturan-aturan internasional. Di Indonesia, orang bangga ketika menggandeng PAM Jaya dengan Lyonase dari Perancis dan Thames dari Inggris, seakan dengan itu perusahaan layanan publik menjadi go internasional. Yang kemudian terjadi hanyalah bahwa para pelanggan harus membayar lebih mahal dan hampir tidak ada perluasan cakupan layanan. Hal yang sejenis terjadi dengan penjualan baik BUMN (misalnya Indosat ke Temasek Singapura, Bandara Sukarno Hatta ke Schipol Belanda) maupun swasta nasional (misalnya Aqua ke Danone, Sampurna ke Phillip Morris dan sebagainya). Sementara itu investasi baru terutama yang terkait dengan sumberdaya alam, energi dan infrastruktur, hampir semuanya selalu diberikan ke asing. Bagaimana dengan sumur minyak di Cepu yang diberikan ke ExxonMobile, atau lapangan gas di Natuna. Semua ini mengikuti praktik tak adil dan ekploitatif yang sudah terjadi puluhan tahun dengan Freeport atau Newmont. Di Freeport, konsentrat emas langsung dikapalkan ke Amerika, tanpa ada satupun petugas beacukai di pelabuhannya. Pemerintah sudah puas dengan kenyataan bahwa PT Freeport Indonesia adalah pembayar pajak terbesar. Sekitar Rp. 6 Triliun yang dibayarkannya setiap tahun ke pundi-pundi pemerintah. Namun berapa sebenarnya yang mereka keruk dari Indonesia tidak ada yang tahu.</p>
<p>Di sisi lain, deregulasi yang diharapkan membuka peluang pekerja dan pengusaha Indonesia untuk terjun ke pasar global tidak seindah yang diharapkan. Mereka tidak sadar, bahwa ketika mereka ingin memasukkan produk ke pasar global, mereka dihadang oleh berbagai restriksi baru, seperti soal standarisasi (ISO 9000, ISO 14000 dan lain-lainnya), sertifikasi, eco-compliance (ramah lingkungan) maupun bersih dari keterlibatan pada terrorisme. Kalau saja dalam rantai produksi itu ada pegawai yang diidentifikasi terlibat organisasi yang diduga bagian dari jaringan terorisme, maka produk tersebut tidak boleh diterima. Anehnya, negara-negara muslim menerima saja aturan-aturan yang aneh ini. Mereka takut dengan ancaman yang dikumandangkan AS, “Either you are with us, or you are with terrorist”.</p>
<p>Sepertinya tidak ada lagi di dunia ini yang bisa membendung laju kapitalisme seperti itu di Barat. Sampai akhirnya, di dunia Islam muncul gerakan-gerakan Islam yang melawan kapitalisme itu, baik karena dorongan aqidah, maupun karena kesumpekan hidup akibat praktek kapitalisme di negeri-negeri Islam.<br />
Karena itu, yang dicemaskan Barat, atau secara spesifik: yang dicemaskan para kapitalis Barat, tak lain adalah geliat gerakan-gerakan Islam. Rupanya, meski puluhan tahun sudah khilafah dibubarkan dan sistem kapitalisme diterapkan di dunia Islam, namun selama ummat Islam ini masih ada, dan selama akses kepada sumber-sumber Islam masih dibuka, selama itu pula masih akan bermunculan orang-orang dari ummat Islam ini yang menggeliat untuk bangkit melawan kekufuran, karena kekufuran adalah musuh abadi Islam sejak para nabi.<br />
Untuk itu mereka menempuh strategi penghancuran dakwah dan penghancuran ummat. Dakwah digilas dengan isu terorisme. Harakah-harakah dakwah yang paling ideologis diserang lebih dulu, walaupun pada akhirnya, yang paling moderatpun akan digilas juga, sebagaimana pengalaman di Bosnia atau Ambon. Sedang penghancuran ummat dilakukan dengan penguasaan total sumber-sumber ekonomi. Penguasa manapun yang sulit diajak “kerjasama” akan dihabisi untuk digantikan dengan agen-agen mereka. Beserta tentara dan rakyat yang mendukungnya.</p>
<p>Di sisi lain, kekuatan uang dioptimalkan terus untuk membiayai penyesatan opini via media, mengorbitkan intelektual pendukung mereka, membiayai partai politik yang sejalan dengannya, melobby penguasa atau tokoh masyarakat agar lunak terhadap mereka, membayar demonstrasi yang mengusung agenda-agenda mereka &#8211; sadar atau tidak, dan bila perlu membiayai aksi-aksi teroris yang dipandang bermanfaat untuk kepentingannya –sadar atau tidak bahwa mereka dimanfaatkan.<br />
<strong><br />
Strategi</strong><br />
Dunia sebenarnya menanti suatu solusi alternatif bagi permasalahan postmodern yang dihadapinya. Kemajuan yang dialami oleh bangsa-bangsa Barat memang di satu sisi memperbaiki kondisi fisis dan keunggulan kompetitif bangsa-bangsa itu di kancah dunia. Namun manusia-manusia di sana justru menghadapi problema yang semakin sulit diatasi, yang dikenal dengan &#8220;future schock&#8221; (Toffler, 1970, Abdul Hadi, 2003).</p>
<p>Kondisi ini bukanlah tanpa sebab, melainkan akibat dari suatu &#8220;sistem-error&#8221; yang &#8220;built-in&#8221; dalam paham sekulerisme. Sekulerisme mengajarkan bahwa manusia mutlak berhak membuat segala sistem aturan yang diperlukan di kehidupan ini. Namun pengetahuan, pengalaman, dan nalar manusia yang terbatas membuat sistem tersebut dipenuhi kontradiksi. Dampak kontradiksi itu bisa langsung kelihatan, walaupun mungkin tidak pada tempat dan saat di mana sistem itu diterapkan, namun di tempat lain, atau di masa mendatang.</p>
<p>Dunia telah melihat bagaimana distribusi pemanfaatan sumber alam dunia ini telah begitu pincang sehingga sangat mengancam ekosistem di masa datang (Atlas der Weltverwicklungen 1994). Bahkan superpower seperti AS pun diramalkan dalam beberapa tahun mendatang akan bangkrut dimakan oleh error dalam sistem ekonominya (Figgie, 1992). Figgie yang merupakan penasehat ekonomi presiden Bill Clinton sangat khawatir, bahwa defisit ekonomi yang berkepanjangan di Amerika sejak perang Vietnam, ditambah dengan bunga berbunga dari defisit itu, lambat laun akan membuat asset-asset industri di Amerika makin dikuasai oleh asing via pasar modal dan akhirnya mata uang Dollar akan semakin lemah, sehingga suatu ketika akan timbul hyperinflasi yang akan membunuh sektor finansial Amerika. Namun pengganti Clinton yaitu Bush Jr. rupanya pandai mengalihkan perhatian pada krisis ekonomi itu dengan perang melawan terorisme. Dengan perang ini diharapkan ada dorongan ekonomi baru, terutama di sektor industri militer, energi, dan infrastruktur. Dan pabrik-pabrik senjata mereka jadi kebanjiran order tatkala seluruh dunia ketakutan dengan isu terorisme. Sumber-sumber energi di Iraq jadi lebih terbuka untuk perusahaan AS. Dan perusahaan-perusahaan konstruksi AS meraih kontrak-kontrak raksasa untuk rekonstruksi infrastruktur Iraq. Namun kegagalan mereka di Iraq justru menjebloskan Amerika ke jurang defisit yang tak pernah terjadi sebelumnya. Saat ini, defisit kumulatif APBN AS mencapai 8000 triliun Dollar.</p>
<p>Pakar-pakar Barat sendiri mulai khawatir atas globalisasi yang disebutnya &#8220;Turbo-Kapitalisme&#8221; yang akan menggilas siapa saja, terutama negara berkembang yang tidak memiliki siapapun dari negara maju yang dengan ikhlas berbagi dengan mereka atau memperjuangkan nasib mereka (Nuscheler, 1987), bahkan kemudian menghancurkan demokrasi itu sendiri (Martin &amp; Schumann, 1996).</p>
<p>Ini semua seharusnya menggugah kaum muslimin untuk menyodorkan Islam sebagai alternatif bagi dunia, bahkan solusi satu-satunya yang sahih berdasarkan aqidah dan ideologi yang paling rasional dan sesuai dengan fitrah insani. Kehancuran Islam adalah kehancuran dunia, dan kebangkitan Islam juga peluang dunia, dan juga berarti terbuktinya sekali lagi Islam menjadi rahmatan lil &#8216;alamien.</p>
<p>Oleh karena itu sudah saatnya bahwa kaum muslimin makin merapikan barisan dan bergabung dalam gerakan-gerakan yang berjuang untuk menegakkan Islam dengan membangkitkan kaum muslimin. Dan gerakan-gerakan kebangkitan Islam yang makin banyak bermunculan di abad 20 ini harus sudah mulai saling belajar untuk mengevaluasi apa yang menyebabkan mereka hingga kini belum berhasil, atau bahkan bisa jadi justru semakin menjauhkan kaum muslimin dari kebangkitan itu sendiri. Dengan itu mereka akan bisa saling melengkapi dan saling membantu dalam kebaikan dan taqwa.</p>
<p><strong><br />
Upaya Rekonstruksi Negara Global</strong></p>
<p>Untuk setiap penyakit, Allah telah menyiapkan obatnya. Dengan mempelajari sebab-sebab kemunduran ummat dapat dilihat bahwa tak ada cara lain mengantisipasi skenario penghancuran Islam dan kaum muslimin ini selain dengan memperkuat ketahanan tubuh kaum muslimin, mengembalikan fikrah atau konsep-konsep Islam yang jernih pada mereka, juga mengembalikan semua alat-alat yang diperlukan sebagai metode implementasi Islam atas mereka, yakni Daulah Khilafah yang mempersatukan potensi seluruh bumi Islam dan kaum muslimin.</p>
<p>Sesuai dengan sirah dan sunnah Rasulullah, upaya rekonstruksi ini berarti sangat mirip dengan upaya konstruksinya yang pertama, yaitu dimulai dengan dakwah, baik berupa pembentukan pribadi-pribadi yang kelak juga akan berkembang menjadi pengemban tugas dakwah, maupun perang pemikiran untuk mengubah opini umum menjadi opini yang Islami. Akhirnya Islam akan bisa kembali diimplementasi bila opini yang berkembang di dalam ummat ini tinggal didominasi oleh opini Islam, dan terdapat kekuatan politik riel yang siap melindungi implementasi sistem Islam pada masyarakat, baik terhadap gangguan dari dalam maupun dari luar.</p>
<p>Tugas ini tentu tidak ringan, namun masalah ini adalah soal hidup dan matinya kaum muslimin. Kaum muslimin tidak punya pilihan lain. Nasib mereka ada pada mereka, musuh-musuhnya tak akan menolongnya.</p>
<p>Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (Qs. 13:11)<br />
Kesadaran ini adalah bagian dari hal-hal yang harus kita rubah sendiri, sebelum Allah menjalankan skenario-Nya.</p>
<p>Dan merekapun merencanakan (skenario) makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan (skenario) makar (pula), sedang mereka tak menyadari. (Qs. 27:50)</p>
<p>Mungkin dengan melihat konstelasi dunia saat ini, sangat sulit dibayangkan bahwa kaum muslimin bisa keluar dari lumpur kenistaan ini, apalagi kemudian bisa mengungguli kaum kafirin, namun di sejarah dunia hal itu sering terjadi (Kennedy, 1987). Dan Allah berfirman:</p>
<p>Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, (Qs. 3:140)</p>
<p>Untuk memahami lebih mudah bagaimana konstruksi atau rekonstruksi suatu negara berjalan sesuai Sunnatullah, maka kita bisa mempelajari sejarah bangsa-bangsa, seperti bagaimana revolusi di Perancis, Rusia, Cina, Iran hingga negara-negara di blok timur di akhir tahun 1980-an dan juga di Afrika Selatan. Kita juga bisa belajar dari bagaimana proses kemerdekaan RI dan pembentukannya menjadi negara kesatuan berwilayah yang besar.</p>
<p>Khilafah yang ingin direkonstruksi mestinya adalah negara dengan sistem seperti di masa Rasulullah atau Khulafaur Rasyidin, walaupun dengan teknologi dan sistem administrasi ala abad-21. Negara ini bukanlah negara theokrasi, bukan pula negara bangsa, mazhab atau jama’ah (sekte) tertentu, bahkan tak cuma untuk kaum muslimin saja. Dia juga bukan negara para malaikat yang tidak pernah berdosa, tapi adalah negara manusia yang bisa saja berdosa dan menghadapi masalah – sebagai ujian dari Rabb-nya, namun masalah-masalah itu akan teratasi dengan pedoman yang benar, yaitu Islam.</p>
<p>Khilafah semacam itu tentu harus dipersiapkan dengan matang. Tentu harus cukup orang yang siap membelanya begitu ia diserukan dan menghadapi ancaman dari musuh-musuhnya, sebagaimana Rasul diancam dengan perang Badar, Uhud, Ahzab dsb.</p>
<p>Begitu negara khilafah diserukan oleh para pemegang kekuatan yang setuju dengan ide ini, maka mulailah suatu era baru di wilayah yang dikuasainya. Seluruh aturan akan diganti dengan aturan Islam, terutama aturan-aturan pemerintahan, ekonomi, pendidikan, sosial, peradilan, pertahanan dan hubungan luar negeri. Seluruh perjanjian dengan negara lain akan ditinjau ulang untuk dilihat kesesuaiannya dengan hukum syara’. Rakyat yang telah teropini dengan Islam akan bersemangat mendukungnya baik dengan hartanya maupun jiwanya. Kaum muslimin yang berada di negara maju dan juga telah menerima ide khilafah akan berdatangan dan menyumbangkan keahlian yang mereka amalkan selama ini di negara maju. Kaum aghniya tidak akan ragu-ragu berkorban untuk negara, karena pada saat itu aktivitas ini bernilai spiritual. Maka jadilah negara ini negara yang kuat, sekalipun masih muda.</p>
<p>Negara ini akan memulai eksistensinya dari suatu wilayah merdeka, yang kemudian mengajak negeri-negeri muslim lainnya untuk bergabung, sebagaimana RI dulu mengajak propinsi-propinsi ex Hindia Belanda ke dalam Republik, atau Eropa membentuk Uni Eropa. Ketika negeri-negeri itu menyaksikan praktek terbaik dari Daulah Khilafah, mereka akan mempertimbangkan untuk bergabung, sebagaimana negeri-negeri di Eropa saat ini memutuskan untuk bergabung dengan Uni Eropa.</p>
<p>Maka negara khilafah bukanlah utopia. Dia adalah keniscayaan sejarah yang telah dinubuwatkan Rasulullah. Rasul meramalkan bahwa Konstantinopel dan Roma akan dibuka oleh kaum muslimin, dan sebaik-baik pasukan adalah mereka yang memasuki kota itu, dan sebaik-baik panglima adalah pemimpin pasukan itu. Kaum muslimin tidak pernah sedikitpun meragukan nubuwat nabi ini, mereka berjuang agar kemulian jatuh pada mereka, sekalipun sejarah akhirnya membuktikan bahwa Konstantinopel baru futuh tahun 1453. Sedangkan Roma entah kapan. Atau itu memang diperuntukkan untuk generasi kita?</p>
<p>Maka kembali ke kita, akankah kita berpartisipasi dan berkontribusi dalam proses ini, sehingga kita meraih kemuliaan, atau setidaknya memiliki jawaban di yaumil akhir nanti, bahwa kita telah berbuat sesuatu untuk ummat ini, dan untuk kemanusiaan; ataukah kita justru menjadi orang yang merintangi proses ini, akibat kebodohan kita. Nauzubillahi min dzalik.</p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p>Abdul Hadi WM (2003): Krisis Manusia Modern, Tinjauan Falsafah Terhadap Scientisme dan Relativisme Kultural. Orasi Ilmiah, Lustrum-I Universitas Paramadina, 1 Maret 2003.</p>
<p>AnNabhani, Taqiyyudin: Mafahim Hizbut Tahrir.</p>
<p>Atlas der Weltverwicklungen, Dritte Welt Haus Bielefeld, 1994.  206 pp.</p>
<p>Figgie, H. E., Swanson, G. J.(1992): Bankruptcy 1995. The Coming Collapse of America and How to Stop it. Little, Brown &amp; Co. Boston. 268 pp.</p>
<p>Hampden-Turner, C., Trompenaars, A. (1993): The Seven Cultures of Capitalism.  Doubleday, New York.  405 pp.</p>
<p>Heine, S. (Ed.)(1995): Islam zwischen Selbstbild und Klischee.  Verlag Islamische Bibl. Koln.  311 pp.</p>
<p>Kennedy, Paul (1987): The Rise and Falls of the Great Powers.  Random House, New York.  976.</p>
<p>Martin, H-P., Schumann, H. (1996): Die Globalisierungsfalle, Der Angriff auf Demokratie und Wohlstand. Rowohlt Hamburg. 352 pp.</p>
<p>Nuscheler, F. (1987): Lern- und Arbeitsbuch Entwicklungspolitik.  Verlag Neue Gesselschaft.  Bonn. 359 pp.</p>
<p>Ostrovsky, V. (1990): By Way of Deception.  Stoddart Publ. Co. Ltd. Toronto.  440 pp.</p>
<p>Perkins, J (2004): Confessions of Economic Hit Man.  Berret-Koehler Publisher, Inc. San Fransisco, CA, USA.</p>
<p>Sadat, J. (1987): A Woman of Egypt.  Simon &amp; Schuster, Inc. 427 pp.<br />
Toffler, A. (1970): Future Shock. 435 pp.</p>
<p>Zallum, Abdul Qadim (2001): Konspirasi Barat meruntuhkan Khilafah Islamiyah.  Al-Izzah, 2001.<br />
<strong><br />
Penulis</strong>: Fahmi Amhar, lahir 1968, meraih Dipl.-Ing. dan Dr.-techn. dari Vienna University of Technology, Austria, 1997. Dosen Pascasarjana Universitas Paramadina dan MIT/Biotrop-IPB. Peneliti Utama Sistem Informasi Spasial. Peneliti Terbaik Bidang Teknologi Rekayasa &#8211; Pemilihan Peneliti Muda Indonesia LIPI 2001. Aktif di Pusat Studi Khazanah Ilmu-ilmu Islam (PSKII).</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/banihamzah.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/banihamzah.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/banihamzah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/banihamzah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/banihamzah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/banihamzah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/banihamzah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/banihamzah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/banihamzah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/banihamzah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/banihamzah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/banihamzah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/banihamzah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/banihamzah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/banihamzah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/banihamzah.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banihamzah.wordpress.com&amp;blog=1024677&amp;post=21&amp;subd=banihamzah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banihamzah.wordpress.com/2007/04/26/politik-global-penjajahan-ekonomi-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/558ad7150985cb5d32df90ab2473eaa0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">banihamzah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imperium Islam</title>
		<link>http://banihamzah.wordpress.com/2007/04/26/imperium-islam/</link>
		<comments>http://banihamzah.wordpress.com/2007/04/26/imperium-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Apr 2007 06:11:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>banihamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Islamic Studies]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banihamzah.wordpress.com/2007/04/26/imperium-islam/</guid>
		<description><![CDATA[Dr. Fahmi Amhar Dosen Pascasarjana Universitas Paramadina Dalam sejarah dunia yang panjang, tidak banyak negara-negara yang berhasil membentuk diri menjadi negara kuat yang menguasai wilayah yang luas (minimal pada 10 bangsa / etnis yang berbeda), pada masa yang cukup lama (minimal 10 generasi atau sekitar 300 tahun) serta meninggalkan jejak peradaban yang signifikan, yang terasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banihamzah.wordpress.com&amp;blog=1024677&amp;post=20&amp;subd=banihamzah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong>Dr. Fahmi Amhar</strong><br />
Dosen Pascasarjana Universitas Paramadina</p>
<p>Dalam sejarah dunia yang panjang, tidak banyak negara-negara yang berhasil membentuk diri menjadi negara kuat yang menguasai wilayah yang luas (minimal pada 10 bangsa / etnis yang berbeda), pada masa yang cukup lama (minimal 10 generasi atau sekitar 300 tahun) serta meninggalkan jejak peradaban yang signifikan, yang terasa sampai saat ini.</p>
<p>Hingga abad-15 M, mungkin hanya tiga negara seperti itu, yaitu Imperium Romanum (Romawi) yang berkuasa dari kira-kira Abad ke-7 SM hingga abad 15 M di seluruh Eropa dan Afrika Utara, lalu imperium Persia dari masa Cyrus (abad 10 SM) hingga abad 8 M dan membentang di wilayah Irak sekarang hingga sebagian India dan Asia Tengah, dan Imperium Islam (abad 8 M hingga 17 M) dan membentang dari Maroko di tepi Atlantik hingga Merauke di Nusantara. <span id="more-20"></span></p>
<p>Selain mereka ada juga beberapa negara besar, misalnya Mesir dan Cina. Kerajaan Mesir Firaun bertahan hampir 4000 tahun, namun meski meninggalkan jejak peradaban yang luar biasa (piramid dsb), luas kekuasaannya terbentang hanya di sekitar sungai Nil saja. Demikian juga kerajaan Cina yang meski wilayahnya sangat luas namun tidak mencakup variasi etnis yang seheterogen seperti halnya Romawi, Persia dan Islam. Cina juga tercatat berkali-kali dijajah oleh orang-orang Tartar / Mongol. Bangsa Tartar ini juga meski tercatat pernah menguasai hampir separoh dunia (dari Polandia sampai Cina), namun selain tidak meninggalkan jejak peradaban yang berarti, kekuasaanya juga tidak lebih dari tiga generasi.<!--more--></p>
<p>Sedang setelah abad-15, keseimbangan dunia mulai berubah. Sejak abad-15, muncul berbagai imperium baru. Sejarah mencatat imperium Austria (Habsburg) yang pernah menguasai sebagian besar Eropa melalui politik peperangan maupun pernikahan. Kebesaran imperium Austria terlihat dari aliran seni arsitektur dan musik yang banyak ditemukan di se-antero Eropa. Kemudian imperium Portugis dan Spanyol yang pernah menguasai banyak wilayah di Amerika Latin, Afrika, sebagian India hingga beberapa pulau di Nusantara selama beberapa abad, hingga sekarang ini bahasa Spanyol dan Portugis masih bertahan sebagai bahasa resmi di PBB. Kemudian mereka tergantikan oleh imperium Inggris dan Perancis yang juga memiliki jajahan di seluruh dunia, dan bahasanya juga masih dipakai di mana-mana. Dan setelah perang dunia kedua, posisi mereka tergantikan oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet. Kini setelah perang dingin berakhir, tinggal Amerika yang aktif sebagai imperium tunggal. Wilayah cengkeraman kekuasaanya praktis ada di seluruh dunia, setidaknya secara tidak langsung melalui badan-badan dunia (PBB, WTO, IMF, …). Meski Amerika Serikat baru berusia 230 tahun, tapi jejak peradabannya sudah melebihi imperium Romawi.</p>
<p><strong>Terbentuknya sebuah Imperium</strong></p>
<p>Terbentuknya suatu kekuasaan yang kemudian dicatat sejarah sebagai suatu &#8220;imperium&#8221; tidaklah terjadi tiba-tiba. Paul Kennedy dalam &#8220;The Rise and Fall of Great Powers&#8221; berteori bahwa faktor-faktor ekonomilah yang menjadikan sebuah negara semakin penting, sehingga kemudian menjadi lebih kuat dari negara lain. Yang dimaksud faktor ekonomi adalah sinergi antara posisi geopolitis, sumber daya alam, tingkat teknologi penduduknya, kekuatan struktur politiknya dan semua ini akan berperan pada ketahanan militer negara itu.</p>
<p>Fakta, semua negara yang pernah menjadi imperium, memiliki semua yang dibutuhkan itu. Pertanyaannya adalah, mengapa ada masa-masa pasang surut, ketika meski suatu negara masih memiliki semuanya, namun dia tidak lagi menjadi penting di kancah dunia. Sebagai contoh, Russia sebagai penerus Uni Soviet, masih memiliki semua yang dipunyai Uni Soviet. Dia masih memiliki wilayah yang luas, dari batas Skandinavia hingga batas Korea; sumber alamnya masih sama, teknologinya masih teknologi Soviet yang mampu membuat bom atom dan pesawat luar angkasa, struktur politiknya mestinya lebih kuat karena lebih demokratis, dan empat juta tentaranya dengan minimal 10000 kepala nuklir masih merupakan kekuatan yang mampu menghancurkan seluruh dunia. Namun kini Russia bukan lagi imperium. Dia sudah kehilangan hampir semua negara satelitnya. Bahkan politik ekonominya sudah dikendalikan oleh AS lewat WTO. <!--more--></p>
<p><strong>Jadi apa sesungguhnya yang membentuk imperium?</strong></p>
<p>Alvin Toffler dalam &#8220;The Future Shock&#8221; menjelaskan bahwa pengaruh dan kepemimpinan, baik dalam skala kecil maupun skala imperium, bisa timbul oleh tiga hal:</p>
<p>1. muscle – pengaruh yang ditimbulkan oleh kekuatan fisik (militer). Artinya bangsa atau negara yang yang di bawah pengaruhnya, bisa dikuasai karena dipaksa, karena takut, atau karena meminta perlindungan. Inilah pada umumnya imperium Romanum, Persia dan juga negara-negara yang terjajah oleh negara kapitalis di abad pertengahan.</p>
<p>2. money – pengaruh yang ditimbulkan oleh kekuatan ekonomi, termasuk sumberdaya alam. Artinya bangsa atau negara yang yang di bawah pengaruhnya bisa dikuasai karena mendapat kompensasi ekonomi (hutang, investasi, akses sumber alam, akses produk, akses pasar). Inilah yang terjadi di abad-20 dengan Uni Soviet dan AS. Di masa komunis, negara-negara Eropa Timur merasa perlu bergabung dengan Uni Soviet karena akses kepada minyak dan gas Soviet – yang tidak perlu dibeli dengan $ di pasar bebas, tapi cukup dibarter dengan gula atau buah-buahan.</p>
<p>3. mind – pengaruh yang ditimbulkan oleh kekuatan pemikiran, termasuk gaya hidup dan teknologi. Artinya bangsa atau negara yang di bawah pengaruhnya bisa dikuasai karena pemikiran yang diembannya. Pemikiran yang merasuki itulah yang membuat mereka mau dipimpin oleh sang imperior.</p>
<p>Menurut Toffler, model kepemimpinan yang ketiga inilah yang paling tinggi mutunya. Meski beberapa imperium terbukti saat ini memiliki ketiga-tiganya, Namun dilihat dari sejarahnya, selalu dapat dimengerti bahwa semua bermula dari pemikiran. Setelah ada pemikiran, maka kekuatan ekonomi dapat dibangun dan dipertahankan lebih lama. Dengan kekuatan ekonomi ini maka kekuatan fisik dapat dibiayai lebih lama.</p>
<p>Tanpa kekuatan pemikiran, maka kekuatan ekonomi mudah dibuat loyo, dan tanpa kekuatan ekonomi, kekuatan fisik hanya bisa dipertahankan sebentar.</p>
<p><strong>Kontroversi Khilafah versus Kerajaan</strong></p>
<p>Dalam sejarah dapat dilihat bahwa tidak ada imperium yang dapat bertahan dengan penguasa yang bersikap absolut dan monolitik (diktator). Imperium Romanum pun memiliki senat yang selalu diajaknya berdiskusi dan bahkan diandalkan keputusannya dalam persoalan-persoalan negara yang pelik. Bagaimanapun pemimpin kalau ingin terus didukung, dia tidak bisa begitu saja melupakan para pendukung politiknya. Tentu saja, pada rakyat perseorangan di masa itu tetap akan ada keputusan-keputusan yang akan dinilai oleh kita sekarang sebagai sangat otoriter. Namun secara makro, itu tidak akan terjadi bila tidak didukung (minimal didiamkan) oleh konstruksi sosial politik yang ada.<br />
Jadi, bagaimana keputusan politik diambil, sesungguhnya tidak tergantung pada apakah negara itu berbentuk kerajaan dengan raja yang turun temurun atau oleh presiden yang dipilih setiap lima tahun.<br />
Sistem khilafah per default adalah negara yang tidak otoriter. Dalam berbagai aspek hukum, hukum ditentukan oleh syara&#8217;, tidak oleh kehendak Khalifah. Sedang dalam persoalan lain, khalifah wajib bermusyawarah dengan ahlu halli wa aqdi (Majlis Ummah).</p>
<p>Kalaupun kemudian terkesan khilafah berasal dari satu dinasti, maka itulah kenyataan praktis yang terjadi. Bagaimanapun, anak-anak seorang khalifah relatif memiliki kesempatan belajar politik lebih baik dari orang-orang lain. Dia akan lebih banyak mengenal para tokoh, lebih sering belajar dari orang-orang yang paling alim, dan mungkin juga lebih luas aksesnya kepada media massa. Walhasil ketika ada pemilihan khalifah baru, dia memiliki posisi start yang jauh lebih baik dari semua kandidat lain.</p>
<p>Dan berbeda dengan kerajaan, dalam sistem khilafah tidak ada putera mahkota yang harus jadi dalam keadaan apapun. Tidak seperti di Cina, yang sejarah mencatat seorang kaisar Pu Yi yang baru berumur 3 tahun, dan akhirnya disetir habis-habisan oleh Perdana Menterinya yang korup.<br />
<strong><br />
Transisi peralihan Imperium</strong></p>
<p>Peralihan imperium Romanum dan Persia ke imperium Islam terjadi dalam proses dakwah. Persia jauh lebih cepat tunduk di bawah kekuasaan Islam karena imperium ini dikenal sangat korup dan kejam kepada rakyatnya. Islam diterima rakyat sebagai ajaran yang memerdekakan manusia dari perbudakan sesama ke penghambaan kepada Allah saja. Dan ketika dakwah Islam dihalangi secara fisik, rakyat Persia sendiri yang turut membantu pasukan jihad, sehingga tak sampai seabad setelah Nabi wafat, Persia sudah seutuhnya di bawah naungan Islam.</p>
<p>Adapun transisi Romawi ke dalam Islam memakan proses hampir 800 tahun. Daerah jajahan terdepan Romawi di Syams dapat dibebaskan pada masa Umar bin Khattab. Namun ibu kota Konstantinopel baru bisa dibebaskan oleh Muhammad al-Fatih tahun 1453. Kuncinya memang dakwah dan pemikiran. Pemikiran yang merasuki para mujahidin Islam dan rakyat yang akan dibebaskan.</p>
<p>Transisi imperium Islam ke imperium kafir di abad 17 hingga sekarang, juga berangsur perlahan, dimulai dari masuknya pemikiran asing ke tubuh kaum muslimin dan khilafah. Khilafah baru benar-benar dibubarkan tahun 1924, namun sebelumnya dia sudah seperti digerogoti kanker yang kronis selama lebih dari dua abad.<br />
<strong><br />
Karakteristik dan Hasil Karya</strong></p>
<p>Hasil karya imperium Islam sangat berbeda baik dengan sebelumnya (Romawi/Persia) maupun sesudahnya (AS, Inggris, Perancis, dll.).</p>
<p>Imperium Islam tidak pernah merendahkan etnis manusia yang di bawahnya, sehingga tidak pernah menimbulkan kebencian kepada negara yang membawanya, hingga sekarang. Kalaupun di suatu masa pernah ada kebencian Arab atas Turki, maka itu tidak lain adalah hasil provokasi calon penjajah atau imperium baru.</p>
<p>Imperium Islam tidak pernah menjarah sumberdaya alam dari negeri yang dikuasainya (seraya memiskinkannya), justru malah sebaliknya, terkadang mereka mensupply negeri manapun (termasuk yang tidak dikuasainya) yang kekurangan atau mengalami musibah.</p>
<p>Imperium Islam tidak pernah menimbulkan bencana lingkungan atau sosial yang serius. Imperium Amerika sekarang ini menimbulkan situasi lingkungan global yang sangat parah (AS yang paling besar mengkonsumsi BBM dan otomatis memproduksi limbah / polutan justru sampai kini menolak meratifikasi protokol Kyoto yang membatasi gas rumah kaca); serta kesenjangan yang makin meluas antara negara-negara kaya (di &#8220;utara&#8221;) dan negara-negara miskin di &#8220;selatan&#8221;.</p>
<p>Hasil peradaban Islam juga menunjukkan bahwa mereka peduli kepada karya-karya yang tidak sekedar memiliki nilai material, intelektual dan emosional, namun juga memperhatikan nilai spiritual, sehingga manusia dari kalangan apapun merasa lebih dimanusiawikan, karena merasa dekat dengan Sang Penciptanya. Ini yang jarang ditemukan dari karya-karya imperium yang lain.</p>
<p><strong>Tiga Imperium Islam</strong></p>
<p>Sejarah mencatat setidaknya tiga imperium Islam besar, yaitu dinasti Umayyah, Abbasiyah dan Utsmaniyah. Bagaimana sesungguhnya periodisasi ini muncul dan bagaimana keadaan sesungguhnya di masa itu?</p>
<p>Sesungguhnya para ahli sejarahlah yang membagi masa panjang imperium Islam dalam tiga kurun ini.</p>
<p>Imperium Umayyah muncul setelah Muawiyah menerima pengalihan bai’at dari Hasan bin Ali pada tahun 661 M, namun kemudian Muawiyah melakukan bid’ah – dengan meniru model suksesi Romawi dan Persia, yakni mencalonkan putranya, Yazid, sebagai penggantinya, dan memaksa ummat untuk berbaiat pada putranya, semasa Muawiyah masih hidup.</p>
<p>Namun demikian, bid’ah dalam suksesi ini tidak lantas membuat imperium Islam melemah dan hancur. Justru di masa ini ilmu-ilmu hadits, fiqh maupun sains mulai tumbuh dan kemudian berkembang pesat. Wilayah kekuasaan Islam meluas hingga Maroko dan Andalusia di sebelah barat, sampai tepi sungai Indus di timur.<br />
Sebenarnyalah, bid’ah putra mahkota ini tidak berjalan mulus. Ada beberapa khalifah pengganti yang bukan anggota keluarga dekat khalifah sebelumnya. Karena itulah, para sejarawan menyebut “Bani Umayyah” sebagai nama dinasti ini – diambil dari nama kakek buyut Muawiyah. Muawiyah adalah anak Abu Sofyan bin Harb bin Umayyah bin Abdus Syam bin Abdul Manaf. Abdus Syam adalah saudara Hasyim. Sementara itu Rasulullah adalah anak Abdullah bin Abdul Munthollib bin Hasyim. Jadi, konklusi nama dinasti ini dilakukan belakangan. Andaikata seluruh khalifah pada periode ini hanya keturunan Muawiyah – tentu namanya ”Bani Muawiyah” – dan itu tidak terjadi.</p>
<p>Periode pertama ini berakhir ketika terjadi Revolusi Abbasiyah pada tahun 750 M. Ketika itu kezaliman khalifah Marwan II (744-750) sudah tidak tertanggungkan lagi. Namun sebenarnya, tidak semua khalifah dinasti ini seperti itu. Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720) dapat dianggap sebagai khalifah yang sangat sukses dan dicintai rakyat, bahkan sering dijuluki Khulafaur Rasyidin ke-5.<br />
Hampir semua sejarahwan pada masa lalu maupun kini hanya tertarik untuk menulis aspek politik / pemerintahan, tak terkecuali dari Imperium Umayyah ini. Maka salah satu yang dianggap menonjol (“bernilai sejarah”) dari era ini adalah permusuhan yang mendalam kepada kelompok Syiah. Di belakang hari hal ini menimbulkan dendam di kalangan syiah, sehingga menutup seluruh prestasi Imperium Umayyah, bahkan juga era Khulafaur Rasyidin.</p>
<p>Di era Imperium Abbasiyah, situasi politik jauh lebih baik. Terjadi rekonsiliasi besar-besaran untuk berbagai kalangan yang selama masa Umayyah berseberangan dengan elit penguasa – terutama dengan Syiah. Tak heran bahwa perkembangan fiqih maupun sains lebih hebat lagi di masa ini, walaupun ada era di mana ada pemaksaan atas suatu pendapat yang diadopsi oleh negara – seperti di zaman Al-Makmun, di mana negara mewajibkan orang untuk meyakini bahwa Qur’an itu mahluk – sehingga sejumlah ulama yang meyakini bahwa Qur’an adalah Kalamullah kemudian dipenjarakan.</p>
<p>Wilayah kekuasaan juga tumbuh lebih pesat lagi pada awalnya, walaupun kemudian cukup berat membawa bangsa-bangsa yang kemudian masuk Islam itu pada tingkat pemikiran yang sama. Walhasil, berbagai anasir filsafat Yunani, Persia dan India kuno pelan-pelan mulai merasuk ke dalam tubuh masyarakat Islam.</p>
<p>Menjelang abad 11 M, pengaruh berbagai filsafat ini sudah cukup serius, berpengaruh dalam bentuk berbagai ijtihad yang tidak bermutu yang melemahkan umat Islam. Sementara itu kekurangmampuan penguasa pusat dalam mengurus rakyat di wilayah yang sangat luas ini, menyulut beberapa gerakan separatisme di beberapa tempat. Di Mesir muncul Daulah Fathimiyah – suatu sempalan sesat dari kelompok Syiah. Beberapa sultan (gubernur) di imperium kemudian menutup pintu ijtihad, sebagai upaya mencegah eskalasi gejala ini. Namun hal ini tidak menolong banyak. Lemahnya imperium kemudian memancing datangnya pasukan salib (1096-1187), dan yang lebih fatal adalah pengkhianatan wazir khalifah sehingga Pasukan Tartar (Mongol) sampai ke Bagdad dan membantai lebih dari 2,6 juta penduduknya pada 1258.</p>
<p>Peristiwa pembantaian Tartar itu sekaligus mengakhiri era Abbasiyah di Bagdad. Namun nama dinasti ini – yang diambil dari nama Abbas bin Abdul Muntholib – yang juga mungkin baru dipakai para sejarahwan setelah melihat ginealogi para khalifahnya – masih dipakai hingga tahun 1517. Tiga tahun setelah hancurnya Bagdad, pada 1260, khilafah Abbasiyah diteruskan kembali di Mesir, di bawah perlindungan sultan-sultan Mameluk. Namun khalifah tinggal simbolis saja, sebab yang sesungguhnya berkuasa adalah sultan-sultan Mameluk itu. Walau demikian negara ini masih bertahan hingga hampir tiga abad.</p>
<p>Secara tatanegara, sultan Mameluk di Mesir sesungguhnya hanyalah gubernur di dalam khilafah. Mereka mendapat legitimasi kuat karena berhasil mengalahkan dan mengusir pasukan Tartar pada 1261 di Ain Jalut. Namun di akhir abad 15, popularitas sudah kalah di bawah gubernur Islam yang lain, yaitu para Sultan Turki di Anatolia, yang pada 1453 telah membuka Konstantinopel. Akhirnya, ketika pusat imperium di Mesir tidak bisa dipertahankan lagi, tampuk kepemimpinan imperium berpindah ke dinasti Utsmaniyah di Turki pada 1517.<br />
Dinasti Utsmaniyah diberi nama dari pendirinya yaitu Utsman pada 1299. Imperium ini mencapai legitimasi dunianya setelah mendapatkan perpindahan kekhilafahan dari Abbasiyah di Mesir, meski mereka tidak menggunakan gelar Khalifah sebagaimana sebelumnya. Namun, pada 3 Maret 1924, Inggris tetap menyebut peristiwa pengusiran penguasa terakhir Utsmaniyah sebagai pembubaran khilafah (The Abolish of Caliphate).</p>
<p>Seperti imperium yang lain, imperium Utsmaniyah juga mencapai puncak kejayaannya di abad-abad awalnya. Mereka praktis menjadi adi kuasa dunia yang disegani lawan dan dihormati kawan. Kemunduran baru terjadi pada abad 18, setelah dakwah dan jihad tidak lagi ditekuni dengan serius, sehingga terjadi kemunduran di segala bidang. Bandul sejarah kemudian berubah total ketika di Eropa terjadi revolusi pemikiran, revolusi Perancis (1789) yang disusul dengan revolusi industri di Inggris dan seluruh negeri di Eropa, dan kemudian Amerika Serikat. Akhirnya imperium Utsmaniyah runtuh setelah terseret dalam Perang Dunia I, setelah rakyatnya yang multi-entnis sebelumnya dipecahbelah dengan sentiemen nasionalisme.</p>
<p><strong>Analisis atas Imperium Islam</strong></p>
<p>Secara umum kehidupan rakyat di seluruh imperium ini relatif lebih baik dari pada dunia di luar khialfah. Inilah yang menyebabkan mereka yang keluar negeri selalu dihormati karena dianggap representasi dari suatu negara yang hebat. Mungkin sama dengan turis dari Jerman yang datang ke negeri muslim saat ini – dianggap hebat, karena berasal dari negeri yang hebat.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Demikian pula ketika para pedagang muslim dari imperium Islam datang ke Nusantara, berduyun-duyun raja-raja Hindu dan Budha menjadikan mereka penasehat, sampai akhirnya di Nusantara bermunculan kesultanan-kesultanan Islam.</p>
<p>Jejak tiga imperium ini masih bisa dilihat hingga sekarang. Masjid Umayyah masih berdiri tegak di Damaskus. Berbagai observatorium bintang yang didirikan khilafah Abbasiyah masih tegak di berbagai tempat di Iran dan Irak – kecuali yang sudah dibom oleh pasukan AS sejak invasi ke Irak tahun 2003. Demikian juga di Turki masih berceceran peninggalan sejarah sebuah imperium besar. Masjid Sultan Ahmet yang menjadi icon Istanbul adalah bukti penguasaan teknologi konstruksi yang sangat hebat ketika itu.</p>
<p>Tentang kehidupan rakyat mereka, dapat dibaca dari laporan-laporan perjalanan musafir barat, seperti catatan Marcopolo (abad 13). Wilayah imperium Islam terkenal dengan kerapihan dan kebersihannya, pelayanannya terhadap orang sakit – sekalipun orang asing, level pendidikannya yang tinggi – padahal bebas biaya. Kehidupan seperti itu terus berjalan berabad-abad tanpa terganggu dengan hiruk pikuk politik. Secara logika juga mustahil berdiri sebuah negara yang kuat, tanpa di dalamnya ada masyarakat yang solid mendukungnya, karena diberikan keadilan dan kesejahteraan.</p>
<p>Ini artinya, fenomena tragedi atas beberapa penguasa (fitnah, pembunuhan) hanya terjadi di kalangan elit, namun siapapun penguasa Islam itu, mereka sangat serius dalam mengurusi rakyatnya.</p>
<p>Di Nusantara, pengaruh tiga imperium ini berjalan berangsur-angsur. Kontak pertama sudah terjadi di zaman Umayyah. Namun kontak yang intensif, hingga penempatan pejabat penting baru terjadi setelah zaman Utsmaniyah, antara lain berupa penempatan seorang laksamana di Aceh (diberi nama “Gubernur Turki”) untuk membantu Aceh menghadapi Portugis di selat Malaka. Faktanya, banyak sekali sultan-sultan di Nusantara yang baru percaya diri setelah mendapat pengakuan dari Syarif Makkah – yakni gubernur Khilafah yang ditugaskan mengurusi kota Makkah. Pada umumnya sultan-sultan itu bertemu dengan Syarif Makkah pada saat ibadah haji.</p>
<p>Memang secara bahasa tidak ada satu negarapun yang diceritakan di atas yang menamakan diri &#8220;Negara Islam&#8221;? Ngara Islam ada dalam substansi – yakni negara yang hukumnya bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul, dan keamanannya semata-mata di tangan kaum muslimin. Negara ini bukan negara bangsa dan juga bukan negara agama. “Negara Islam” adalah terminologi ideologis, seperti kita menyebut “Negara Demokrasi”. Jadi ia bukan nama sebuah negara. Penguasa imperium Islam menyebut dirinya khalifah, amirul mu’minin, atau sultan – karena penggunaan istilah-istilah ini adalah mubah. Dan semuanya menggambarkan bahwa mereka mengemban tugas untuk menerapkan hukum Islam serta menyebarkan dakwah ke seluruh dunia. Di dalam imperium Islam hidup berbagai bangsa (etnis) dan berbagai pemeluk agama dengan damai. Orang-orang Nasrani, Yahudi, Majusi, Hindu, dan kafir lainnya tidak dipaksa masuk Islam, namun mereka didakwahi dengan diberi contoh yang baik, dan diperlakukan adil berdasarkan syariah Islam.</p>
<p>Fakta-fakta ini harus dihidupkan dan diceritakan kepada anak-cucu kaum muslimin, agar mereka sadar, bahwa Islam pernah mengantarkan kepada kemuliaan, dan mereka adalah pewaris-pewaris orang-orang mulia. Kakek-kakek mereka adalah Umar bin Khattab, Harun al Rasyid, al-Mu’tashim Billah, Salahuddin al-Ayyubi, Mehmet al Fatih, Sulaiman al-Qanuni dan sebagainya.<br />
Mereka harus merebut kembali kemuliaan itu dengan membangun kembali penyebab kemuliaan itu. Kemuliaan itu terjadi karena mereka meyakini aqidah Islam, kemudian menerapkan syariah dalam wadah khilafah, kemudian melakukan dakwah dan jihad fi sabilillah.</p>
<p>Pada abad-21 ini, dunia sudah sekarat. Imperium-imperium lain yang menggantikan khilafah terbukti tidak mampu menjadi sumber rahmat bagi seluruh alam. Belum ada tiga abad, tanda-tanda kiamat sudah semakin dekat. Kiamat dalam arti kehancuran ekosistem, kehancuran generasi, dan kehancuran hubungan antar manusia. Karena itu, menjadi tugas sejarah bagi kaum muslimin untuk kembali mengantarkan yang telah dinubuwatkan Rasulullah, “…. Bahwa setelah itu akan ada lagi khilafah yang didirikan sesuai dengan metodeku”.</p>
<p>Dan jika umat Islam meyakini keniscayaan tibanya saat tersebut, sejumlah ilmuwan Barat dengan analisis ilmiahnya menyatakan bahwa munculnya kembali imperium Islam adalah salah satu dari empat kemungkinan yang akan terjadi pada 2020.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/banihamzah.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/banihamzah.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/banihamzah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/banihamzah.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/banihamzah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/banihamzah.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/banihamzah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/banihamzah.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/banihamzah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/banihamzah.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/banihamzah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/banihamzah.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/banihamzah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/banihamzah.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/banihamzah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/banihamzah.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banihamzah.wordpress.com&amp;blog=1024677&amp;post=20&amp;subd=banihamzah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banihamzah.wordpress.com/2007/04/26/imperium-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/558ad7150985cb5d32df90ab2473eaa0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">banihamzah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membangun Kembali Peradaban Islam 6 (habis)</title>
		<link>http://banihamzah.wordpress.com/2007/04/26/membangun-kembali-peradaban-islam-6-habis/</link>
		<comments>http://banihamzah.wordpress.com/2007/04/26/membangun-kembali-peradaban-islam-6-habis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Apr 2007 05:51:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>banihamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamic Studies]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim Heritage]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banihamzah.wordpress.com/2007/04/26/membangun-kembali-peradaban-islam-6-habis/</guid>
		<description><![CDATA[Sinegi Pembangunan Peradaban Proyek membangun kembali peradaban Islam tidak dapat dilakukan hanya dengan melalui satu dua bidang kehidupan. Ia merupakan proses bersinergi, simultan dan konsisten. Untuk itu maka proyek ini perlu disadari bersama sebagai sesuatu yang wajib (fardhu &#8216;ayn) dan merupakan tanggung jawab yang perlu dibebankan kepada seluruh anggota masyarakat Muslim. Sabda Nabi jelas “Barangsiapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banihamzah.wordpress.com&amp;blog=1024677&amp;post=17&amp;subd=banihamzah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong>Sinegi Pembangunan Peradaban</strong></p>
<p>Proyek membangun kembali peradaban Islam tidak dapat dilakukan hanya dengan melalui satu dua bidang kehidupan. Ia merupakan proses bersinergi, simultan dan konsisten. Untuk itu maka proyek ini perlu disadari bersama sebagai sesuatu yang wajib (fardhu &#8216;ayn) dan merupakan tanggung jawab yang perlu dibebankan kepada seluruh anggota masyarakat Muslim. Sabda Nabi jelas “Barangsiapa tidak perduli dengan urusan (masalah) ummat Islam maka ia bukan bagian daripada mereka” (al-Hadith).</p>
<p>Jika kita menengok sejarah kejayaan Islam di Baghdad maka kita akan temui gerakan pengembangan ilmu pengetahuan yang bersinergi. Gerakan yang dimulai dengan penterjemahan karya-karya asing, khususnya Yunani itu bukan gerakan seporadis atau gerakan pinggiran. Gerakan itu didukung oleh elit masyarakat Baghdad: seperti khalifah dan putera mahkotanya, pegawai negara dan pimpinan militer, pengusaha dan bankers, dan sudah tentu ulama dan saintis. Ia bukan proyek kelompok tertentu. Selain itu, gerakan disubsidi oleh dana yang tak terbatas dari perusahaan negara maupun swasta. Dan yang terpenting, ia dilakukan dengan menggunakan metodologi ilmiyah yang akurat dengan alat filologi yang eksak, sehingga terma-terma asing dapat diterjemahkan dengan tepat. <span id="more-17"></span></p>
<p>Ini menunjukkan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan adalah sentral sifatnya. Dari perkembangan ilmu inilah kemudian dikembangkan bidang-bidang lain baik secara simultan ataupun secara gradual. Ilmu, sudah barang tentu, diperlukan oleh semua kelompok apapun orientasi dan strategi perjuangannya. Pembangunan politik, ekonomi, pendidikan, perbankan Islam dan lain sebagainya tidak bisa tidak harus dimulai dari ilmu. Mungkin diagram dibawah ini dapat menggambarkan konsep tersebut.</p>
<p><strong>Diagram</strong></p>
<p>Oleh sebab itu sebagai implikasinya, jika ilmu memberi amunisi kepada seluruh pihak dari penguasa, pengusaha, pedagang, politisi, militer, dan sebaginya maka semua pihak yang memerlukan ilmu perlu menyokong proyek pengembangan ilmu pengetahuan Islam. Meskipun tidak dapat sepenuhnya mendapat dukungan seperti di zaman Abbasiyah, sekurang-kurangnya kesadaran semua pihak akan pentingnya ilmu pengetahuan Islam untuk semua bidang kehidupan perlu ditanamkan. Masyarakat Muslim perlu terus menerus mendapat pengarahan akan pentingnya bidang ini.</p>
<p>Secara materiel, ssedekah, zakat, infaq, wakaf pribadi danperusahaan-perusahaan Muslim perlu diarahkan bagi pengembangan asas peradaban Islam ini, yaitu ilmu pengetahuan Islam. Selama ini belum banyak zakat bagi ashnaf fi sabilillah yang diarahkan bagi pengkajian dan penelitian ilmu-ilmu Islam. Demikian pula wakaf masyarakat pada umumnya masih berupa tanah, dan masih langka sekali wakaf berupa buku-buku yang sangat menunjang bagi kegiatan keilmuan. Secara sosial, penghargaan terhadap ulama ataupun cendekiawan perlu dilakukan melalui berbagai event sosial, agar apresiasi masyarakat terhadap ilmu meningkat. Namun penghargaan perlu diberikan secara proporsional, artinya harus berdasarkan pada prestasi di bidang keilmuan, bukan hanya sekedar reputasi sosial yang seringkali diukur dengan standar jurnalistik.</p>
<p>Selanjutnya, karena spesialisasi dalam ilmu pengetahuan baik agama maupun sekuler begitu kental, maka seorang sarjana satu bidang tidak menguasai bidang yang lain. Dan yang lebih memprihatinkan lagi sarjana ilmu keislaman buta ilmu-ilmu umum (sekuler) dan sarjana ilmu umum tidak tahu sama sekali ilmu agama, meskipun mereka adalah Muslim. Dalam situasi seperti ini diperlukan kerja bersinergi, dimana sarjana pakar ilmu syariah misalnya bekerjasama dengan pakar-pakar ilmu ekonomi, ilmu politik, ilmu sosiologi dsb, demikian pula sarjana pakar bidang usuluddin atau pemikiran Islam berkolaborasi mengkaji sesuatu dengan pakar dibidang fisika, biologi dan matematika. Dari kerja yang bersinergi ini maka potensi ummat Islam akan dapat menghasilkan karya-karya yang dapat dimanfaatkan oleh ummat.</p>
<p>Jika dukungan masyarakat terhadap pembangunan ilmu pengetahuan Islam ini telah muncul dan kolaborasi para ilmuwan Muslim dapat terjalin, maka mekanisme penyebaran (desimination) ilmu ketengah-tengah masyarakat akan timbul. Artinya, dengan adanya kesadaran masyarakat akan pentingnya ilmu-ilmu Islam, produk dari kajian ilmu pengetahuan Islam yang dihasilkan oleh pusat studi Islam atau lembaga-lembaga pendidikan Islam memperoleh saluran penyebaran yang efektif. Media pendidikan formal, dan informal seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, internet, ceramah-ceramah tokoh diharapkan dapat menjadi medium penyebaran ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam.</p>
<p>Jika masyarakat tidak mendukung gerakan pengkajian Islam tersebut, maka keadaan seperti yang kita saksikan sekarang. Hasil seminar, penelitian dosen, workshop, konferensi dan lain-lain hanya akan berhenti di tingkat elit saja dan tidak tersebar ke tengah masyarakat. Inilah yang sering disebut dengan intellectual mechanism.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Peradaban Islam adalah peradaban yang dibangun oleh ilmu pengetahuan Islam yang dihasilkan oleh pandangan hidup Islam. Maka dari itu, pembangunan kembali peradaban Islam harus dimulai dari pembangunan ilmu pengetahuan Islam. Orang mungkin memprioritaskan pembangunan ekonomi dari pada ilmu, dan hal itu tidak sepenuhnya salah, sebab ekonomi akan berperan meningkatkan taraf kehidupan. Namun, sejatinya faktor materi dan ekonomi menentukan setting kehidupan manusia, sedangkan yang mengarahkan seseorang untuk memberi respon seseorang terhadap situasi yang sedang dihadapinya adalah faktor ilmu pengetahuan. Lebih penting dari ilmu dan pemikiran yang berfungsi dalam kehidupan masyarakat, adalah intelektual. Ia berfungsi sebagai individu yang bertanggung jawab terhadap ide dan pemikiran tersebut. Bahkan perubahan di masyarakat ditentukan oleh ide dan pemikiran para intelektual. Ini bukan sekedar teori tapi telah merupakan fakta yang terdapat dalam sejarah kebudayaan Barat dan Islam. Di Barat ide-ide para pemikir, seperti <em>Descartes, Karl Marx, Emmanuel Kant, Hegel, John Dewey, Adam Smith</em> dan sebagainya adalah pemikir-pemikir yang menjadi rujukan dan merubah pemikiran masyarakat. Demikian pula dalam sejarah peradaban Islam, pemikiran para ulama seperti <em>Imam Syafii, Hanbali, Imam al-Ghazzali, Ibn Khaldun</em>, dan lain sebagainya mempengaruhi cara berfikir masyarakat dan bahkan kehidupan mereka. Jadi membangun peradaban Islam harus dimulai dengan membangun pemikiran umat Islam, meskipun tidak berarti kita berhenti membangun bidang-bidang lain. Artinya, pembangunan ilmu pengetahuan Islam hendaknya dijadikan prioritas bagi seluruh gerakan Islam. <em>Wallahu a’lam bissawab</em>.</p>
<p><em>Wassalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wa barakatuh</em></p>
<p><strong>Gontor, 22 Februari 2007</p>
<p></strong><font color="#009900"><font color="#993399"><strong>Download artikel lengkap</strong></font><font color="#cc0000"> <font color="#ff0000">=&gt;</font></font></font></p>
<p align="justify"><a href="http://banihamzah.files.wordpress.com/2007/04/membangun-peradaban-islam-dr-hamid-fahmy-zarkasyi.doc" title="membangun-peradaban-islam-dr-hamid-fahmy-zarkasyi.doc">membangun-peradaban-islam-dr-hamid-fahmy-zarkasyi.doc</a></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/banihamzah.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/banihamzah.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/banihamzah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/banihamzah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/banihamzah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/banihamzah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/banihamzah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/banihamzah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/banihamzah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/banihamzah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/banihamzah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/banihamzah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/banihamzah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/banihamzah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/banihamzah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/banihamzah.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banihamzah.wordpress.com&amp;blog=1024677&amp;post=17&amp;subd=banihamzah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banihamzah.wordpress.com/2007/04/26/membangun-kembali-peradaban-islam-6-habis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/558ad7150985cb5d32df90ab2473eaa0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">banihamzah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membangun Kembali Peradaban Islam 5</title>
		<link>http://banihamzah.wordpress.com/2007/04/26/membangun-kembali-peradaban-islam-5/</link>
		<comments>http://banihamzah.wordpress.com/2007/04/26/membangun-kembali-peradaban-islam-5/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Apr 2007 05:48:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>banihamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamic Studies]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim Heritage]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banihamzah.wordpress.com/2007/04/26/membangun-kembali-peradaban-islam-5/</guid>
		<description><![CDATA[Membangun individu melalui universitas Untuk memperbaiki keadaan ini, maka umat Islam harus mengarahkan target pendidikan kepada pembangunan individu yang memahami tentang kedudukannya baik di depan Tuhan, di hadapan masyarakat dan di dalam dirinya sendiri. Dengan kata lain pembangunan masyarakat harus dilandaskan pada konsep pengembangan individu yang beradab. Menurut al-Attas pembentukan individu yang beradab tersebut, secara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banihamzah.wordpress.com&amp;blog=1024677&amp;post=16&amp;subd=banihamzah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Membangun individu melalui universitas</strong></p>
<p align="justify">
Untuk memperbaiki keadaan ini, maka umat Islam harus mengarahkan target pendidikan kepada pembangunan individu yang memahami tentang kedudukannya baik di depan Tuhan, di hadapan masyarakat dan di dalam dirinya sendiri. Dengan kata lain pembangunan masyarakat harus dilandaskan pada konsep pengembangan individu yang beradab. Menurut al-Attas pembentukan individu yang beradab tersebut, secara strategis, dapat dimulai dari pendidikan universitas. Namun pendidikan universitas tersebut harus terlebih dahulu diletakkan dan berlandaskan pada interpretasi yang benar terhadap ×ikmah IlÉhiyyah sehingga dapat melahirkan sarjana, ulama dan pemimpin Muslim yang mempunyai pandangan hidup Islam.</p>
<p>Perlu dicatat bahwa penekanan pada pendidikan tinggi merupakan salah satu tradisi dalam Islam dan menjadi perhatian utama para pemikir Muslim sejak dulu. Bahkan, target utama dan misi Nabi adalah untuk mendidik individu yang dewasa dan bertanggung jawab. Penekanan terhadap pendidikan dasar dan menengah sering dikaitkan dengan adanya pengaruh Westernisasi dan modernitas. Selain itu universitas juga merupakan tahap akhir dari penyiapan pemimpin-pemimpin masyarakat. Di semua negara universitas adalah tempat dimana individu-individu yang menonjol menjalani pendidikan dan latihan, guna mengatasi kemiskinan sumber daya alam dan manusia. Sebenarnya, pendidikan tingkat dasar dan menengah hanyalah persiapan menuju universitas. Betapapun baiknya reformasi pendidikan dasar dan menengah lanjutan, jika sistem pendidikan tinggi, terutamanya universitas, tidak direformasi sesuai dengan kerangka epistimologi dan pandangan hidup Islam, ia akan mengalami kegagalan. Dengan menekankan pendidikan tinggi maka kekurangan-kekurangan yang ada di pendidikan tingkat rendah dapat diperbaiki. <span id="more-16"></span></p>
<p>Agar universitas benar-benar Islami dan merupakan medium pengembangan individu, maka sebuah universitas harus harus merupakan refleksi dari insan kamil ataupun universal (al-insan al-kulli atau al-insan al-kamil) dan mengarah kepada pembentukan insan kamil. Contoh insan kamil dan universal itu yang sangat riel adalah figur Nabi Muhammad saw sendiri. Universitas dalam Islam harus merefleksikan figur Nabi Muhammad dalam hal ilmu pengetahuan dan amal sholeh, dan fungsinya adalah untuk membentuk laki-laki dan wanita yang beradab dengan menirunya semirip mungkin dalam hal kualitas sesuai dengan kemampuan dan potensi masing-masing&#8221;. Berbeda dari Islam, universitas di Barat mencerminkan keangkuhan manusia. Meskipun mereka juga mempunyai konsep universal man, namun karena pengaruh paham humanisme sofistik yang kuat maka manusia diletakkan di atas segala-galanya. Ungkapan Protagoras yang sering mereka kutip adalah bahwa: &#8220;manusia adalah ukuran dari segala sesuatu, segala sesuatu yang ada adalah ada, dan segala sesuatu yang tidak ada adalah tidak ada&#8221;. Namun berbeda dengan Islam yang memiliki ciri permanency, ukuran-ukuran Barat mengenai suatu yang ideal selalu berubah, dan berevolusi.</p>
<p>Sejarah telah membuktikan bahwa keagungan suatu masyarakat adalah tercermin daripada kualitas perguruan tinggi masyarakat tersebut. Sayangnya, umat Islam hari ini lebih banyak mendirikan universitas yang hanya meniru pola dan model universitas masyarakat Barat. Padahal universitas Islam sepatutnya berbeda dari universitas Barat baik dalam bentuk, konsep, struktur dan epistimologinya. Universitas (al-Jami’ah, al-kulliyah)) harus dapat membentuk manusia universal yaitu manusia sempurna. Oleh sebab itu seorang ulama atau sarjana bukanlah seorang spesialis dalam salah satu bidang keilmuan, tetapi seorang yang universal dalam cara pandangnya terhadap kehidupan dan mempunyai otoritas dalam beberapa bidang keilmuan yang saling terkait.<br />
Penyataan al-Attas dalam hal ini sangat jelas.</p>
<blockquote><p>“Sebuah universitas Islam mempunyai struktur yang berbeda dengan universitas Barat, mempunyai konsep ilmu yang berbeda dengan apa yang dianggap sebagai ilmu oleh para pemikir Barat, mempunyai tujuan dan aspirasi yang berbeda dengan konsepsi Barat. Tujuan dari pendidikan tinggi dalam Islam adalah untuk membentuk ‘manusia sempurna’ ataupun ‘manusia universal’… seorang ulama Muslim bukanlah seorang spesialis dalam salah satu bidang keilmuan tetapi ia adalah seorang yang universal dalam cara pandangnya dan mempunyai otoritas dalam beberapa bidang keilmuan yang saling berkaitan.</p></blockquote>
<p>Karena universitas Islam modern yang berdiri di negara muslim hari ini lebih merupakan fotokopi universitas Barat, maka orientasi yang menggiring para mahasiswa kepada nilai-nilai kehidupan sekuler lebih dominan ketimbang usaha-usaha kearah penanaman pandangan hidup Islam. Pengaruh Barat juga terlihat dalam situasi kebebasan akademik di universitas-universitas itu. Kebebasan masih difahami sebagai kebebasan yang seluas-luasnya sebagaimana yang banyak ditemui dalam cara berfikir Muslim modernis, yang dalam bidang keagamaan bisa diartikan sebagai penentangan terhadap otoritas ulama dan taqlid. Padahal kekebasan akademis bukanlah berarti bebas sebebasnya tanpa ikatan-ikatan keilmuan. Kebebasan akademik adalah kebebasan dalam arti “ikhtiyar“, yakni kebebasan memilih yang lebih baik (khayr) berdasarkan kepada ilmu pengetahuan. Taqlid bukan berarti mengikuti sesuatu dengan membabi buta, tetapi mengikuti seseorang yang mempunyai otoritas ilmu pengetahuan.</p>
<p>Pengertian ini sejatinya juga terjadi di dunia akademis di mana seorang ilmuwan yang lebih muda mengikuti atau memakai pendapat atau teori ilmuwan senior yang lebih pakar. Oleh sebab itu ijtihad bukanlah berpendapat dengan sesuka hati atau dengan sebatas pengetahuan pribadi, tapi berpendapat berdasarkan pada pengetahuan ulama terdahulu yang memiliki otoritas dalan bidang masing-masing. IjtihÉd tidak berarti mengkesampingkan otoritas ulama terdahulu sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok modernis yang cenderung mengikuti cara berpikir Barat, khususnya gaya-gaya Protestan dalam melawan otoritas gereja.</p>
<p>Selain itu kurikulum di Universitas Islam perlu direkonstruksi agar dapat lebih mengarah kepada penanaman ilmu pengetahuan Islam yang berstruktur dan konseptual. Materi ilmu Fardhu &#8216;Ayn yang berupa Aqihdah, Tawhid atau Ushuluddina pada jenjang pendidikan rendah dan menengah mestinya dikembangkan menjadi materi wajib pada jenjang pendidikan tinggi. Di perguruan tinggi ilmu Fard Ayn dapat dikembangkan menjadi Ilmu Tafsir, ilmu Hadith, ilmu Fiqih, ilmu Kalam atau filsafat dan lain sebagainya. Disini konsep-konsep tentang Tuhan, manusia, alam, akhlaq dan tentang Din dikaji secara mendalam. Itu semua hendaknya diajarkan sehingga dapat menjadi fondasi bagi pengkajian disiplin ilmu lain atau ilmu farÌu kifayah. Disini sumber pengetahuan inderawi, aqli dan intuisi disatukan dalam suatu cara berfikir yang integral. Integral artinya tidak berfikir dualistis: obyektif dan subyektif, idealistis dan realistis. Dengan cara itu dikotomi ilmu pengetahuan, agama dan umum, yang telah begitu merasuk ke dalam kurikulum pendidikan Islam akibat dari sekularisasi pemikiran dapat secara perlahan-lahan dihilangkan.</p>
<p>Seharusnya ilmu fardhu ayn bagi seorang mahasiswa Ushuluddin, misalnya tidak sama dengan Ilmu fardhu &#8216;ayn bagi siswa Madrasah &#8216;Aliyah atau mahasiswa fakultas Sosiologi. Jika setiap cendekiawan menguasai ilmu fardhu &#8216;ayn sesuai dengan bidangnya, maka pada dataran epistemologis ilmu Fardhu &#8216;ayn ini pada akhirnya akan menyatukan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang termasuk kedalam ilmu farÌu kifayah, seperti ilmu kemanusiaan, ilmu alam, sejarah, peradaban, bahasa dan lain sebagainya.</p>
<p><em>Ditulis Oleh DR. Hamid Fahmi Zarkasyi</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/banihamzah.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/banihamzah.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/banihamzah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/banihamzah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/banihamzah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/banihamzah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/banihamzah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/banihamzah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/banihamzah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/banihamzah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/banihamzah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/banihamzah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/banihamzah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/banihamzah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/banihamzah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/banihamzah.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banihamzah.wordpress.com&amp;blog=1024677&amp;post=16&amp;subd=banihamzah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banihamzah.wordpress.com/2007/04/26/membangun-kembali-peradaban-islam-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/558ad7150985cb5d32df90ab2473eaa0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">banihamzah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
