Bani Hamzah

Dan ‘hari-hari itu’ kami pergilirkan di antara manusia

Laskar Pelangi: Langit Ketujuh

Posted by banihamzah pada Desember 7, 2007

KEBODOHAN berbentuk seperti asap, uap air, kabut. Dan ia beracun. Ia berasal dari sebuah tempat yang namanya tak pernah dikenal manusia. Jika ingin menemui kebodohan maka berangkatlah dari temp at di mana saja di planet biru ini dengan menggup.akan tabung roket atau semacamnya, meluncur ke atas secara vertikal, jangan pernah sekali pun berhenti.

Gapailah gumpalan awan dalam lapisan troposfer, lalu naiklah terus menuju stratosfer, menembus lapisan ozon, ionosfer, dan bulan -bulan di planet yang asing. Meluncurlah terus sampai ketinggian di mana gravitasi bumi sudah tak peduli. Arungi sarnudra bintang gemintang dalam suhu dingin yang mampu meledakkan benda padat. Lintasi hujan meteor sampai tiba di eksosfer — lapisan paling  uar atmosfer dengan bentangan selebar 1.200 kilometer, dan teruslah melaju menaklukkan langit ketujuh.

Kita hanya dapat menyebutnya langit ketujuh sebagai  gambaran imajiner tempat tertinggi dari yang paling tinggi. Di tempat asing itu, tempat yang tak ‘kan pernah memiliki nama, di atas langit ke tujuh, di situlah kebodohan ber­semanyam, Rupanya seperti kabut tipis, seperti asap cang­klang, melayang-layang pelan, memabukkan. Maka apabila kita tanyakan sesuatu kepada orang-orang bodoh, mereka akan menjawab dengan meracau, menyembunyikan ketidaktahuannya dalam omongan cepat, mencari beragarn alasan, atau membelokkan arah pertanyaan. Sebagian yang lain diam terpaku, mulutnya ternganga, ia diselubungi kabut dengan tatapa n mata yang kosong dan jauh. Kedua jenis reaksi ini adalah akibat keracunan asap tebal kebodohan yang mengepul di kepala mereka.

Kita tak perlu menempuh ekspedisi gila-gilaan itu. Karena seluruh lapisan langit dan gugusan planet itu se­sungguhnya terkonstelasi di dalam kepala kita sendiri. Apa yang ada pada pikiran kita, dalam gumpalan otak seukuran  genggam, dapat menjangkau ruang seluas jagat raya. Para pemimpi seperti Nicolaus Copernicus, Battista Della Porta, dan Lippershey malah menciptakan jagat rayanya sendiri, di dalam imajinasinya, dengan sistem tata suryanya sendiri, dan Lucretius, juga seorang-pernimpi, menuliskan ilmu dalam puisi-puisi.

Tempat di atas langit ketujuh, tempat kebodohan bersemayam, adalah metafor dari suatu ternpat di mana manusia tak bisa mempertanyakan zat-zat Allah, Setiap usaha mempertanyakannya hanya akan berujung dengan­kesimpulan yang rnempertontonkan kemahatololan sang penanya sendiri. Maka semua jangkauan akal telah ber­akhir di langit ketujuh tadi. Di tempat asing tersebut, ba­rangkali Arasy, di sana kembali metafor keagungan Tuhan bertakhta. Di bawah takhta-Nya tergelar Lauhul Mahfuzh, muara dari segala cabang anak-anak sungai ilmu dan ke­bijakan, kitab yang telah mencatat setiap lembar daun yang akan jatuh. Ia juga menyimpan rahasia ke mana nasib akan membawa sepuluh siswa baru perguruan Muhammadiyah tahun ini, Karena takdir dan nasib termasuk dalam zat­Nya.

Tuhan menakdirkan orang-orang tertentu urituk memiliki hati yang terang agar dapat memberi pencerahan pada sekelilingnya. Dan di malam yang tua dulu ketika Copernicus dan Lucretius duduk di samping Lintang, ketika angka-angka dan huruf menjelma menjadi kunang-kunang yang berkelap-kelip, saat itu Tuhan menyemaikan biji zarah kecerdasan, zarah yang jatuh dari Iangit dan menghantam kening Lintang.

Sejak hari perkenalan dulu aku sudah terkagum-ka­gum pada Lintang. Anak pengumpul kerang ini pintar sekali. Matanya menyala-nyala memancarkan inteligensi, ke­ingintahuan menguasai dirinya  seperti orang kesurupan. Jarinya tak pernah berhenti mengacung tanda ia bisa menjawab. Kalau melipat dia paling cepat, kalau membaca dia paling hebat. Ketika kami masih gagap menjumlahkan ang­ka-angka genap ia sudah terampil mengalikan angka-angka ganjil. Kami baru saja bisa mencongak, dia sudah pintar membagi angka desimal, menghitung akar dan rnenemukan pangkat, lalu, tidak hanya menggunakan, tapi juga mampu mejelaskan hubungan keduanya dalam tabel logaritma. Ke­lemahannya, aku tak yakin apakah hal ini bisa disebut kelemahan, adalah tulisannya yang cakar ayam tak keruan, ten­tu karena mekanisme motorik jemarinya tak ,mampu me­ngejar pikirannya yang berlari sederas kijang.

“13 kali 6 kali 7 tambah 83 kurang 39!” tantang Bu Mus di depan kelas.

Lalu kami tergopoh-gopoh membuka karet yang mengikat segenggam lidi, untuk mengambil tiga belas lidi, mengelompokkannya menjadi enam tumpukan, susah pa­yah menjumlahkan semua tumpukan itu, hasilnya kembali disusun menjadi tujuh kelompok, dihitung satu per satu sebagai total dua tahap perkalian, ditambah lagi 83 lidi lalu diambil 39. Otak terlalu penuh untuk mengorganisasi sinyal-sinyal agar mengambil tindakan praktis mengu­rangkan dulu 39 dari 83. Menyimpang sedikit dari urutan cara berpikir orang kebanyakan adalah kesalahan fatal yang akan mengacaukan ilmu hitung aljabar. Rata-rata dari kami menghabiskan waktu hampir selama 7 menit. Efektif me­mang, tapi tidak efisien, repot sekali.

Sementara Lintang, tidak mernegang sebatang lidi pun, tidak berpikir dengan cara orang kebanyakan, hanya memejamkan matanya sebentar, tak lebih dari 5 detik ia bersorak.

“590!”

Tak sebiji pun meleset, meruntuhkan semangat kami yang sedang belepotan memegangi potongan lidi, bahkan belum selesai dengan operasi perkalian tahap pertama, Aku jengkel tapi kagum. Waktu itu kami baru masuk hari pertama di kelas dua SD!

Superb! Anak pesisir, superb!” pujiBu Mus. Beliau pun tergoda untuk menjangkau batas daya pikir Lintang. “18 kali 14 kali 23 tambah 11 tambah 14 kali 16 kali 7!”

Kami berkecil hati, termangu-mangu menggenggami lidi, lalu kurang dari tujuh detik, tanpa membuat catatan apa pun, tanpa keraguan, tanpa ketergesa-gesaan, bahkan tanpa berkedip, Lintang berkumandang.

“651.952!”

“Purnama! Lintang, bulan purnama di atas Dermaga Olivir, indah sekali! Itulah jawabanmu, ke mana kau bersembunyi selama ini … ?”

Ibu Mus bersusah payah menahan tawanya. Ia me­natap Lintang seolah telah seumur hidup mencari murid seperti ini. Ia tak mungkin tertawa lepas, agama melarang itu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Kami terpesona dan bertanya-tanya bagaimana cara Lintang melakukan semua itu.Dan inilah resepnya ….

“Hafalkan luar kepalasemua perkalian sesama angka ganjil, itulah yang sering menyusahkan. Hilangkan angka satuan dari perkalian dua angka puluhan karena lebih mudah mengalikan dengan angka berujung nol, kerjakan sisanya kemudian, dan jangan kekenyangan kalau makan malam, itu akan membuat telingamu tuli dan otakmu tumpul!”

Polos, tapi ia telah menunjukkan kualifikasi highly cognitive complex dengan mengembangkan sendiri teknik-­teknik melokalisasi kesulitan, menganalisis, dan memecah­kannya. Ingat dia baru kelas dua SD dan ini adalah hari pertamanya. Selain itu ia juga telah mendemonstrasikan . kualitas nalar kuantitatif level tinggi. Sekarang aku me­ngerti, aku sering melihatnya berkonsentrasi memandangi angka-angka. Saat itu dari keningnya seolah terpancar se­berkas sinar, mungkin itulah cahaya ilmu. Anak semuda itu telah mampumengontemplasikan bagaimana angka-­angka saling bereaksi dalam suatu operasi matematika. Kontemplasi-kontemplasi ini rupanya melahirkan resep ajaib tadi.

Lintang adalah pribadi yang unik. Banyak orang merasa dirinya pintar lalu bersikap seenaknya, congkak, tidak disiplin, dan tak punya integtitas. Tapi Lintang sebalik­nya. Ia tak pernah tinggi hati, karena ia merasa ilmu demikian luas untuk disombongkan dan menggali ilmu tak akan ada habis-habisnya.

Meskipun rumahnya paling jauh tapi kalau datang ia paling pagi. Wajah manisnya senantiasa bersinar walaupun baju, celana, dan sandal cunghai-nya buruknya minta am­pun. Namun sungguh kuasa Allah, di dalam tempurung kepalanya yang ditumbuhi rambut gimbal awut-awutan itu tersimpan cairan otak yang encer sekali. Pada setiap rang­kaian kata yang ditulisnya secara acak-acakan tersirat kece­merlangan pemikiran yang gilang gemilang. Di balik tubuh­nya yang tak terawat, kotor, miskin, serta berbau hangus, dia memiliki an absolutely beautiful mind. Ia adalah buah akal yang jernih, bibit genius asli, yang lahir di sebuah tempat nun jauh di pinggir laut, dari sebuah keluarga yang tak satu pun bisa membaca.

Lebih dari itu, seperti dulu kesan pertama yang ku­tangkap darinya, ia laksana bunga meriam yang melontar­kan tepung sari. Ia lucu, semarak, dan penuh vitalitas. Ia memperlihatkan bagaimana ilmu bisa menjadi begitu menarik dan ia menebarkan hawa positif sehingga kami ingin belajar keras dan berusaha menunjukkan yang terbaik.

Jika kami kesulitan, ia mengajari kami dengan sabar dan selalu membesarkan hati kami. Keunggulannya tidak menimbulkan perasaan terancam bagi sekitarnya, ke­cemerlangannya tidak menerbitkan iri dengki, dan kehe­batannya tidak sedikit pun mengisyaratkan sifat-sifat angkuh. Kami bangga dan jatuh hati padanya sebagai se­orang sahabat dan sebagai seorang murid yang cerdas luar biasa. Lintang yang miskin duafa adalah mutiara, galena, kuarsa, dan topas yang paling berharga bagi kelas kami.

Lintang selalu terobsesi dengan hal-hal baru, setiap informasi adalah sumbu ilmu yang dapat meledakkan rasa ingin tahunya kapan saja. Kejadian ini terjadi ketika kami kelas lima, pada hari ketika ia diselarnatkan oleh Bodenga.

‘Al-Qur’an kadangkala menyebut nama tempat yang harus diterjemahkan dengan teliti …. ” Demikian penjelasan Bu Mus dalam tarikh Islam, pelajaran wajib perguruan Mu­hammadiyah. Jangan harap naik kelas kalau mendapat ang­ka merah untuk ajaran ini.

“Misalnya negeri yang terdekat yang ditaklukkan tentara Persia pada tahun …. “

“620 Masehi! Persia merebut kekaisaran Heraklius yang juga berada dalam ancaman pemberontakan Meso­potamia, Sisilia, dan Palestina. Ia juga diserbu bangsa Avar, Slavia, dan Armenia …. “

Lintang memotong penuh minat, kami ternganga-­nganga, Bu Mus tersenyum senang. Beliau menyampingkan ego. Tak keberatan kuliahnya dipotong. Beliau memang menciptakan atmosfer kelas seperti ini sejak awal. Mem­fasilitasi kecerdasan muridnya adalah yang paling penting bagi beliau. Tidak semua guru memiliki kualitas seperti ini. Bu Mus menyambung, “Negeri yang terdekat itu …. “

“Byzantium! Nama kuno untuk Konstantinopel, men­dapat nama belakangan itu dari The Great Constantine. Tujuh tahun kemudian negeri itu merebut lagi kemerde­kaannya,kemerdekaan yang diingatkan dalam kitab suci dan diingkari kaum musyrik Arab, mengapa ia disebut negeri yang terdekat Ibunda Guru? Dan mengapa kitab suci di­tentang?”

“Sabarlah anakku, pertanyaanmu menyangkut pen­jelasan tafsir surah Ar-Ruum dan itu adalah ilmu yang Allah berusia paling tidak seribu empat ratus tahun. Tafsir baru akan kita diskusikan nanti kalau kelas dua SMP. … “

“Tak mau Ibunda, pagi ini ketika berangkat sekolah aku hampir diterkam buaya, maka aku tak punya waktu menunggu, jelaskan di sini, sekarang juga!”

Kami bersorak dan untuk pertama kalinya kami me­ngerti makna adnal ardli, yaitu tempat yang dekat atau negeri yang terdekat dalam arti harfiah dan tempat paling rendah di bumi dalam konteks tafsir, tak lain dari Byzantium di kekaisaran Roma sebelah timur. Kami bersorak tentu bukan karena adnal ardli, apalagi Byzantium yang mer­deka, tapi karena kagum dengan sikap Lintang menantang intelektualitasnya sendiri. Kami merasa beruntung menjadi saksi bagaimana seseorang tumbuh dalam evolusi inte­ligensi. Dan ternyata jika hati kita tulus berada di dekat orang berilmu, kita akan disinari pancaran pencerahan, karena seperti halnya kebodohan, kepintaran pun sesung­guhnya demikian mudah menjalar,

***

ORANG cerdas memahami konsekuensi setiap jawab­an dan menemukan bahwa di balik sebuah jawaban ter­sembunyi beberapa pertanyaan baru. Pertanyaan baru tersebut memiliki pasangan sejumlah jawaban yang kembali akan membawa pertanyaan baru dalam deretan eksponen­sial. Sehingga mereka yang benar-benar cerdas kebanyakan rendah hati, sebab mereka gamang pada akibat dari sebuah jawaban. Konsekuensi-konsekuensi itu mereka temui dalam jalur-jalur seperti labirin, jalur yang jauh menjalar-jalar, jalur yang tak dikenal di lokus-lokus antah herantah, tiada berujung. Mereka mengarungi jalur pemikiran ini, tersesat di jauh di dalamnya, sendirian.

Codaan-godaan besar bersemayam di dalam kepala orang-orang cerdas. Di dalamnya gaduh karena penuh de­ngan skeptisisme. Selesai menyerahkan tugas kepada do­sen, mereka selalu merasa tidak puas, selalu merasa bisa berbuat lebih baik dari apa yang telah mereka presentasikan. Bahkan ketika mendapat nilai A plus tertinggi, mereka masih saja mengutuki dirinya sepanjang malam.

Orang cerdas berdiri di dalam gelap, sehingga mereka bisa melihat sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain. Mereka yang tak dipahami oleh lingkungannya, terperangkap da­lam kegelapan itu. Semakin cerdas, semakin terkucil, se­makin aneh mereka. Kita menyebut mereka: orang-orang yang sulit. Orang-orang sulit ini tak berteman, dan mereka berteriak putus asa memohon pangertian.Ditambah sedikit saja dengan sikap introver, maka orang-orang cerdas se­macam ini tak jarang berakhir di sebuah kamardengan pe­rabat berwarna teduh dan musik klasik yang terdengarla­mat-lamat, itulah ruang terapi kejiwaan. Sebagian dari me­reka amat menderita.

Sebaliknya, orang-orang yang tidak cerdas hidupnya lebih bahagia. Jiwanya sehat walafiat. lsi kepalanya damai, tenteram, sekaligus sepi, karena tak ada apa-apa di situ, kosong. Jika ada suara memasuki telinga niereka, maka suara itu akan terpantul-pantul sendirian di dalam sebuah ruangan yang sempit, berdengung-dengung sebentar, lalu segera keluar kembalimelalui mulut mereka.

Jika menyerahkan tugas, mereka puas sekali karena telah berhasil memenuhi batas akhir, dan ketika mendapat nilai C, mereka tak henti-hentinya bersyukur karena telah lulus .

Mereka hidup di dalam terang. Sebuah senter menyi­ramkan sinar tepat di atas kepala mereka dan pemikiran mereka hanya sampai pada batas lingkaran cahaya senter itu. Di luar itu adalah gelap. Mereka selalu berbicara keras­keras karena takut akan kegelapan yang mengepung mereka. Bagi sebagian orang, ketidaktahuan adalah berkah yang tak terkira.

Aku pernah mengenal berbagai jenis orang cerdas. Ada orang genius yang jika menerangkan sesuatu lebih bo­doh dari orang yang paling bodoh. Semakin keras ia ber­usaha rnenjelaskan, semakin bingung kita dibuatnya. Hal ini biasanya dilakukan oleh mereka yang sangat cerdas. Ada pula yang kurang cerdas, bahkan bodoh sebenarnya, tapi kalau bicara ia terlihat paling pintar. Ada orang yang memiliki kecerdasaan sesaat, kekuatan menghafal yang fotografis, namun tanpa kemampuan analisis. Ada juga yang cerdas tapi berpura-pura bodoh, dan lebih banyak lagi yang bodoh tapi berpura-pura cerdas.

Narnun, sahabatku Lintang memiliki hampir semua dimensi kecerdasan. Dia seperti toko serba ada kepandaian. Yang paling menonjol adalah kecerdasan spasialnya, sehingga ia sangat unggul dalam geometri multidimensional. Ia dengan cepat dapat membayangkan wajah sebuah kons­truksi suatu fungsi jika digerak-gerakkan dalam variabel derajat. Ia mampu memecahkan kasus-kasus dekomposisi modern yang runyam dan mengajari kami teknik meng­hitung luas poligon dengan cara membongkar sisi-sisinya sesuai Dalil Geometri Euclidian. Ingin kukatakan bahwa ini sarna sekali bukan perkara mudah.

Ia sering membuat permainan dan mendesain visual­isasi guna menerjemahkan rumusan geometris pada tingkat kesulitan yang sangat tinggi. Tujuannya agar garnpang disi­mulasikan sehingga kami sekelas dapat dengan mudah me­mahami kerumitan Teorema Kupu-Kupu atau Teorema Mor­ley yang menyatakan bahwa pertemuan segitiga yang ditarik dari trisektor segitiga bentuk apapun akan mem­bentuk segitiga inti yang sarna sisi. Semua itu dilengkapinya dengan bukti-bukti matematis dalam jangkauan analisis yang melibatkan kemampuan logika yang sangat tinggi. Ini juga sarna sekali bukan urusan mudah, terutama untuk tingkat pendidikan serendah kami serta. Dan mengingat hal itu terjadi di sebuah sekolah kampung seperti gudang kopra maka kuanggap apa yang dilakukan Lintang sangat luar biasa.

Lintang juga cerdas secara experiential yang mem­buatnya piawai menghubungkan setiap informasi dengan konteks yang lebih luas. Dalam kaitan ini,ia merniliki kapasitas metadiscourse selayaknya orang-orang yang memang dilahirkan sebagai seorang genius. Artinya adalah jika dalam pelajaran biologi kami baru mempelajari fungsi-fungsi otot sebagai subkomponen yang membentuk sistem mekanik parsial sepotong kaki maka Lintang telah me­mahami sistem mekanika seluruh tubuh dan ia mampu men­jelaskan peran sepotong kaki itu dalam keseluruhan me­kanika persendian dan otot-otot yang terintegrasi.

Kecerdasannya yang lain adalah kecerdasan linguistik. Ia mudah memahami bahasa, efektif dalam berkomunikasi, memiliki nalar verbal dan logika kualitatif. Ia jugamem­punyai descriptive power, yakni suatu kemampuan meng­gambarkan sesuatu dan mengambil contoh yang tepat. Pengalamanku dengan pelajaran bahasa Inggris di hari-hari pertama kelas 2 SMP nanti membuktikan hal itu.

Saat itu aku mendapat kritikan tajam dari ayahku ka­rena nilai bahasa Inggris yang tak kunjung membaik. Aku pun akhirnya menghadap pemegang kunci pintu ilmu filsafat untuk mendapat satu dua resep ajaib. Aku keluhkan kosulitanku memahami tense.

“Kalau tak salah jumlahnya sampai enam belas, dan jika ia sudah berada dalam sebuah narasi aku kehilangan jejak dalam konteks tense apa aku berada? Pun ketika ingin membentuk sebuah kalimat, bingung aku menentukan tense-nya. Bahasa Inggrisku tak maju-maju.”

“Begini,” kata Lintang sabar menghadapi ketololanku.  Ketika itu ia sedang memaku sandal cunghai-nya yang me­nganga seperti buaya lapar. Kupikir ia pasti mengira bahwa aku mengalami disorientasi waktu dan akan menjelaskan makna tense secara membosankan. Tapi petuahnya sung­guh tak kuduga.  

“Memikirkan struktur dan dimensi waktu dalam sebuah bahasa asing yang baru saja kita kenal tidak lebih dari hanya akan merepotkan diri sendiri. Sadarkah kau ba­hasa apa pun di dunia ini, di mana pun, mulai dari bahasa Navajo yang dipakai sebagai sandi tak terpecahkan di perang dunia kedua, bahasa Gaelic yang amat langka, ba­hasa Melayu pesisir yang berayun-ayun, sampai bahasa Mohican yang telah punah, semuanya adalah kumpulan kalimat, dan kalimat tak lain adalah kumpulankata-kata, paham kau sampai di sini?”

Aku mengangguk, semua orang tahu itu.

Lalu ia melanjutkan, “Nah, kata apa pun, pada dasar­nya adalah kata benda, kata kerja, kata sifat, dan kata kete­rangan, paham? lni bukan masalah bahasa yang sulit tapi masalah cara berpikir.”

Sekarang mulai menarik,

“Berangkatlah dari sana, pelajari bagaimana menggunakan kata benda, kata kerja, kata sifat, dan kata keterangan dalam sebuah kalimat lnggris, itu saja, Kal. Tak lebih dari itu!”

Belajar kata terlebih dulu, bukan belajar bahasa, itu­lah inti paradigma belajar bahasa lnggris versi Lintang. Sebuah ide cemerlang yang hanya terpikirkan oleh orang-­orang yang memahami prinsip-prinsip belajar bahasa. Dengan paradigma ini aku mengalami kemajuan pesat,bu­kan hanya karena aku dapat mempelaiari bahasa lnggris dengan bantuan analogi bahasa Indonesia, tapi petuahnya mampu melenyapkan sugesti kesulitan belajar bahasa asing yang umum melanda siswa-siswa daerah. Bahwa bahasa, baik lokal maupun asing, adalah permainan kata-kata, tak lebih dari itu!

Setelah aku mampu membangun konstruksiku sendiri dalam memahami kalimat-kalimat Inggris, kemudian Lin­tang menunjukkancara meningkatkan kualitas tata bahasa­ku dengan mengenalkan teori stuktur dan aturan-aturan tense. Pendekatan ini diam-diam kami sebarkan pada se­luruh teman sekelas.Dan ternyata hal ini sukses besar, se­hingga dapat dikatakan Lintanglah yang telah mengakhiri masa kejahiliahan bahasa Inggris di kelas kami.

Mungkin kami telah belajar bahasa Inggris dengan pendekatan yang keliru, tapi cara ini efektif. Dan cara ini diajarkan oleh seseorang yang percaya bahwa setiap orang memiliki jalan yang berbeda untuk memahami bahasa. Aku kagum dengan daya pikir Lintang, dalam usia semuda itu ia mampu melihat elemen-elemen filosofissebuah ilmu lalu menerjemahkannya menjadi taktik-taktik praktis untuk menguasainya. Yang lebih istimewa, orang yang meng­ajariku ini bahkan tak mampu membeli buku teks wajib bahasa Inggris.

Lintang memasuki suatu tahap kreatif yang melibatkan intuisi dan pengembangan pemikiran divergen yang ­orisinal. Ia menggali rasa ingin tahunya dan tak henti men­coba-coba. Indikasi kegeniusannya dapat dilihat dari ke­fasihannya dalam berbahasa numerik, yaitu ia terampil memproses sebuah pernyataan matematis mulai dari hipo­tesis sampai pada kesimpulan. Ia membuat penyangkalan berdasarkan teorema, bukan hanya berdasarkan pembukti­an kesalahan, apalagi simulasi, Dalam usia muda dia telah memasuki area yang amat teoretis, cara berpikirnya men­dobrak, mengambil risiko, tak biasa, dan menerobos. Se­tiaphari kami merubungnya untukmenemukan kejutan­kejutan pemikirannya.

Baru naik ke kelas satu SMP ketika kami masih pusing tujuh keliling memetakan absis dan ordinat pada produk cartesius dalam topik relasi himpunan sebagai dasar fungsi linear, Lintang telah mengutak-atik materi-materi untuk ke­las yang jauh lebih tinggi di tingkat lanjutan atas bahkan di tingkat awal perguruan tinggi seperti implikasi, biim­plikasi, filosofi Pascal, binomial Newton, limit, diferensial, integral, teori-teori peluang, dan vektor. Ketika kami baru saja mengenal dasar-dasar binomial ia telah beranjak ke pengetahuan tentang aturan multinomial dan teknik eks­ploitasi polinomial, ia mengobrak-abrik pertidaksamaan eksponensial, mengilustrasikan grafik-grafik sinus, dan membuat pembuktian sifat matematis menggunakan fung­si-fungsi trigonometri dan aturan ruang tiga dimensi.

Suatu waktu kami belajar sistem persamaan linier dan tertatih-tatih mengurai-uraikan kasusnya dengan substitusi agar dapat menemukan nilai sebuah variabel, ia bosan dan monghambur ke depan kelas, memenuhi papan tulis de­ngan alternatif-alternatif solusi linier, di antaranya dengan metode eliminasi Gaus-Jordan, metode Crammer, metode determinan, bahkari dengan nilai Eigen. Setelah itu Lintang mulai menggarap dan tampak sangat menguasai prinsip­prinsip penyelesaian kasus nanlinier.la dengan amat lancar menjelaskan persamaan multivariabel, mengeksplaitasi rumuskuadrat, bahkan menyelesaikan aperasi persamaan menggunakan metade matriks! Padahal dasar-dasar matriks paling tidak baru dikhatbahkan para guru pada kelas dua SMA. Yang lebih menakjubkan adalah semua pengetahuan itu ia pelajari sendiri dengan membaca bermacam-macam buku milik kepala sekalah kami.jika ia mendapat giliran tugas menyapu di ruangan beliau. la bersimpuh di balik pintu ayun, semacam pintu koboi, menekuni angka-angka . yang bicara, bahkan dalam buku-buku berbahasa Belanda.

la memperlihatkan bakat kalkulus yang amat besar dan keahliannya tidak hanya sebatas menghitung guna menemukan salusi, tapi ia memahami filasafi operasi-ope­rasi matematikadalam hubungannya dengan aplikasi se­perti yang dipelajari para mahasiswa tingkat lanjut dalam subjek metadalagi riset. la membuat hitungan yang iseng namun cerdas mengenai berapa waktu yang dapat dihemat atau berapa tambahan surat yang dapat diantar per hari aleh Tuan Pas jika mengubah rute antarnya. la membuat perkiraan ketahanan benang gelas dalam adu layangan untuk berbagai ukuran nilan berdasarkan perkiraan ke­kuatan angin, ukuran layangan, dan panjang benang. Rekamendasinya menyebabkan kami tak pernah terkalah­kan.

Prediksinya tak pernah meleset dalam menghitung waktu kuncup, bersemi, dan mati untuk bunga red hot cat tail dengan meneliti kadar pupuk, suplai air, dan sinar mata­hari. Ia mengompilasi dengan cermat tabel pengamatan distribusi durasi, frekuensi, dan waktu curah hujan lalu menghitung rata-rata, variansi, dan koefisienkorelasi dalam rangka memperkirakan berapa kali Pak Harfan bolos karena bengek sehingga kami terbebas dari pelajaran kemuham­madiyahan. Ajaibnya setelah sekian lama, jumlah hari bolos karena bengek itu menunjukkan pola yang konsisten terhadap fungsi hujan dan lebih ajaib lagi Lintang mampu membuat persentase bias dugaannya.

Lintang bereksperimen merumuskan metode jern­batan keledainya sendiri untuk pelajaran-pelajaran hafalan. Biologi misalnya. Ia menciptakan sebuah konfigurasi bel­ajar metabolisme dengan merancang kelompok sistem biologis mulai dari sistem alat tubuh, pernapasan, pencer­naan, gerak, sampai sistem saraf dan indra, baik untuk manusia, vertebrata, maupun avertebrata, sehingga mudah dipahami.

Maka jika kita tanyakan padanya bagaimana seekor cacing melakukan hajat kecilnya, siap-siap saja menerima penjelasan yang rapi, kronologis, terperinci, dan sangat cerdas mengenai cara kerja rambut getar di dalam sel-sel api, lalu dengan santai saja, seumpama seekor monyet sedang mencari kutu di punggung pacarnya, ia akan membuat analogi buang hajat cacing itu pada sigtem ekskresi protozoa dengan anatomi vakuola kontraktil yang rumit itu, bahkan jika tidakdistop, ia akan dengan senang hati menjelaskan fungsi-fungsi korteks, simpaibowman: medulla, lapis an malpigi, dan dermis dalam sistem ekskresi manusia. Karena bagi Lintang, melalui desain jembatan keledainya tadi, hsnda-benda hafalan ini dengan mudah dapat ia kuasai, satu malam saja, sekali tepuk.

Masih dalam pelajaran biologi, terjadi perdebatan se­ngit di antara kami tentang teoriyang memaksakan pen­dapat bahwa manusia berasal dari nenek moyang semacam lutung, kami terperangah oleh argumentasi Lintang:

“Persoalannya adalah apakah Anda seorang religius, seorang darwinian, atau sekadar seorang oportunis? Pilihan sesungguhnya hanya antara religius dan darwinian, sebab yang tidak memilih adalah oportunis! Yaitu mereka yang berubah-ubah sikapnya sesuai situasi mana yang akan lebih menguntungkan mereka. Lalu pilihan itu seharusnya me­nentukan perilaku dalam menghargai hidup ini. Jika Anda seorang darwinian, silakan berperilaku seolah tak ada tun~ tutan akhirat, karena bagi Anda kitab suci yang memak­tub bahwa manusia berasal dari Nabi Adam adalah dusta. Tapi jika Anda seorang religius maka Anda tahu bahwa teori evolusi itu palsu, dan ketika Anda takkunjung mempersiap­kan diri untuk dihisab nanti dalam hidup setelah mati, maka dalam hal ini Anda tak lebih dari seorang sekuler oportunis yang akan dibakar di dasar neraka!”

Itulah Lintang dengan pandangannya. Pikirannya memang telah sangat jauh meningglkan kami. Dan dengarlah itu, bicaranya lebih pintar dari bicara seluruh men­teri penerangan yang pernah dimiliki republik ini.

‘Ayo yang lain, jangan hanya anak Tanjong keriting ini saja yang terus menjawab,” perintah Bu Mus.

Biasanya setelah itu aku tergada untuk menjawab, agak ragu-ragu, canggung, dan kurang yakin, sehingga se­ring sekali salah, lalu Lintang membetulkan jawabanku, dengan semangat kanstruktif penuh rasa akrab persaha­batan. Lintang adalah searang cerdas yang rendah hati dan tak pernah segan membagi ilmu.

Aku belajar keras sepanjang malam, tapi tak pernah sedikit pun, sedetik pun bisa melampaui Lintang. Nilaiku sedikit lebih baik darirata-rata kelas namun jauh tertinggal dari nilainya. Aku berada di bawah bayang-bayangnya se­kian lama, sudah terlalu lama malah. Rangking duaku abadi, tak berubah sejak caturwulan pertama kelas satu SD. Abadi seperti lukisan ibu menggendong anak di bulan. Rival terberatku, musuh bebuyutanku adalah temanku sebangku, yang aku sayangi.

Dapat dikatakan bahwa Bu Mus sering kewalahan menghadapi Lintang, terutama untuk pelajaran matematika, sehingga ia sering diminta membantu. Ketika Lintang menerangkan sebuah persaalan yang rumit dan membuat simbol-simbol rahasia matematika menjadi sinar yang mem­beri terang bagi kami, Bu Mus memerhatikan dengan saksama bukan hanya apa yang diucapkan Lintang tapi juga pendekatannya dalam menjelaskan. Lalu beliau menggeleng-gelengkan kepalanya, kamat-kamit, berbicara sendiri tak jelas seperti orang menggerendeng. Belakangan aku tahu apa yang dikomat-karnitkan beliau. Bu Mus meng­ucapkan pelan-pelan kata-kata penuh kagum, “Subhanallah …. Subhanallah …. “

“Yang paling membuatku terpesona,” cerita Bu Mus pada ibuku. “Adalah kemampuannya menemukan jawaban dengan cara lain, cara yang tak pernah terpikirkan olehku,” sambungnya sambil membetulkan jilbab.

“Lintang mampu menjawab sebuah pertanyaan mate­matika melalui paling tidak tiga cara, padahal aku hanya mengajarkan satu cara. Dan ia menunjukkan padaku bagai­mana menemukan jawaban tersebut melalui tiga cara lain­nya yang tak pernah sedikit pun aku ajarkan! Logikanya luar biasa, daya pikirnya meluap-luap. Aku sudah tak bisa lagi mengatasi anak pesisir ini Ibunda Guru.”

Bu Mus tarnpak bingungsekaligus bangga memiliki murid sepandai itu. Sebaliknya, ibuku, seperti bias a, sangat tertarik pada hal-hal yang aneh.

“Ceritakan lagi padaku kehebatannya yang lain,” pan­cing beliau memanasi Bu Mus sambil memajukan posisi duduknya, mendekatkan keminangan tempat cupu-cupu gambir dan kapur, lalu meludahkari sirih melalui jendela rumah pariggung kami.

Dan tak ada yang lebih membahagiakan seorang guru selain mendapatkan seorang murid yang pintar. Kecemer­langanLintang membawa gairah segar di sekolah tua kami yang mulai kehabisan napas, megap-megap melawan para­digma materialisme sistem pendidikan zaman baru. Sekarang suasana belajar mengajar di sekolah kami menjadi berbeda karena kehadiran Lintang, hanya tinggal menunggu kesempatan saja baginya untukmengharumkan nama per­guruan Muhammadiyah. Lintang dengan segala daya tarik kecerdasannya adalah gemerincing tamborin yang nakal, bernada miring, dalam alunan stambul gaya lama. Dialah mantra dalam rima-rima gurindam yang itu-itu saja. Dia ikan lele yang menggeliat dalamtimbunan lumpur beku kemarau sekolah kami yang telah bosan dihina. Tubuhnya yang kurus menjadi siku-siku yang menegakkan kernbali tiang utama perguruan Muhammadiyah yang bahkan belum tentu tahun depan mendapatkan murid baru.

Dewan guru tak henti-hentinya membicarakan nilai rapor Lintang. Angka sembilan berjejer mulai dari pelajaran aqaid (akidah), Al-Qur’an, fikih, tarikh Islam, budi pekerti, kemuhammadiyahan, pendidikan kewarganegaraan, ilmu bumi, dan bahasa Inggris.

Untuk biologi, matematika dan semua variannya: il­mu ukur, aritmetika, aljabar, dan ilmu pengetahuan alam,bahkan Bu Mus berani bertanggung jawab untuk memberi nilai sempurna: sepuluh. Kehebatan Lintang tak terben­dung, kepiawaiannya mulai kondang ke seantero kampung. Dan yang lebih mendebarkan, karena reputasinya itu, kami dipertimbangkan untuk diundang mengikuti lomba kecer­nasan antarsekolah yang dapat menaikkan gengsi sekolah setinggi rasi bintang Auriga. Sudah demikian lama kami tak diundang dalam acara bergengsi ini karena prestasi sekolah selalu di bawah rata-rata. Nilai terendah di rapor Lintang, yaitu dalapan, hanya pada mata pelajaran kesenian. Walaupun sudah berusaha sekuat tenaga dan mengerahkan segenap daya pikir dia tak mampu mencapai angka sembilan karena tak mampu ber­saing dengan searang pria muda berpenampilan eksentrik, ‘bertubuh ceking, dan berwajah tamp an yang duduk di pojok sana sebangku dengan Trapani. Nilai seinbilan untuk pelajaran kesenian selalu milik pria itu, namanya Mahar.


Laskar Pelangi, Andrea Hirata, hal: 103-125

Ps: Buat yang mau ujian. Belajar yang rajin ya. :p

3 Tanggapan to “Laskar Pelangi: Langit Ketujuh”

  1. SUNNY2008 said

    slm kenal dari saya. mas, mau download novel laskar pelangi ada gak..? mau nih…klo ada.
    http://www.212baca.wordpress.com

    • Salam kenal dari mahasiswa yogyakarta, mari kita tingkatkan dunia pendidikan di Indonesia melalui media blog ini, bersama kita tingkatkan mutu dan kualitas masyarakat, semoga tulisan anda yang bermanfaat ini dapat digunakan dengan baik oleh siapapun dengan menjunjung tinggi dan menghormati hak cipta. @ beasiswa s2

  2. salaam kenal.. dapetin aj paket novel andrea hirata di http://novelkita.co.cc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: